FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#37 : AJAKAN RAPAT


__ADS_3

Raeviga mengarahkan pandangannya kepada Siska. Siska menyakinkan Raeviga bahwa dia akan baik-baik saja.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan."serunya lirih.


Raeviga mengangguk mengerti.Ia menelan salivanya ketika ia sudah sampai di pintu ruangan itu.


"Pak Arga mencari saya?"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga membenarkan pertanyaan Raeviga padanya. Dia telah menunggu kedatangan gadis itu sedari tadi. Namun kegelisahannya hilang begitu saja saat mendengar kedatangan Raeviga. Bahkan ia harus membatalkan rapatnya hari ini hanya untuk melihat Raeviga seperti saat ini.


"Rae, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"


Raeviga mulai gelisah. Bibirnya seolah terkunci karena ketakutan yang kembali datang padanya.


"Apa saat ini kamu masih single? Apa kamu memiliki kekasih sekarang?" tanya Arga lagi seolah ingin Raeviga mengatakan sesuatu padanya.


Raeviga hanya diam tak menjawab.Sejujurnya tak ada lelaki yang sedang dekat dengannya.Namun jika ia mengatakan seperti itu bukankah akan dengan mudah Arga akan kembali melecehkannya. Dia menjadi serba salah dengan jawaban yang akan dilontarkannya.


"jika kamu diam. Maka akan saya simpulkan sendiri pertanyaan yang saya ajukan tadi."


Arga tersenyum sekilas pada Raeviga dan mulai mencari berkas laporan.


"Saya memanggilmu karena kamu harus menyusun laporan keuangan penjualan bulan lalu.Kemarilah"Arga menyuruh Raeviga untuk lebih dekat padanya.


"Say..saya di sini saja pak."Raeviga sedikit melangkah mundur.


Arga tersenyum sekilas melihat tingkah gugup Raeviga padanya.


"Saya sekarang sedang puasa untuk menjamahmu jadi mendekatlah untuk ku jelaskan tentang berkas-berkas ini."


Raeviga sedikit mendekat.


"Lebih dekat."Arga menarik tangan gadis itu lembut.Membuatnya untuk lebih mendekat padanya.


Tubuhnya seolah mati rasa dibuatnya.Tangan Arga yang menyentuh tangannya tadi sedikit mengelus telapak tangan Raeviga sebelum kembali fokus pada pekerjaan.


"Mesum"ungkap Raeviga dalam hatinya.Menatap sinis kearah Arga yang menjelaskan laporannya.


Setelah beberapa menit ada di ruangan Arga, Raeviga keluar dari ruangan yang memenuhi ketakutannya itu. Ia tak ingin berlama-lama ada di ruangan itu.


Siska melihat raut wajah Raeviga yang terlihat lesu.


Apa terjadi sesuatu di dalam? Apa Raeviga baru saja di marahi oleh Arga?

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" tanya Raeviga saat gadis itu telah duduk di meja kerjanya.


"Sis, Aku sudah memutuskan tekad ku untuk keluar dari tempat ini. Aku akan secepatnya memberitahukan hal ini pada Arga"


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? kamu terlihat menyembunyikan sesuatu hal penting dari aku Rae.."


Raeviga terdiam. Dia tak ingin Siska juga mengetahui masalahnya. Dia takut jika Siska akan ikut campur dalam masalah ini. Dia hanya ingin mengatasinya sendiri tanpa harus melibatkan seseorang.


"Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku hanya ingin istirahat beberapa bulan dari pekerjaan"


Siska tak bisa lagi memaksa Raeviga untuk menceritakan masalah yang gadis itu hadapi. Namun dalam hatinya, Siska berharap Raeviga akan selalu baik-baik saja. Dia tak ingin temannya itu menderita. Telah banyak hal yang di perbuat Raeviga untuknya. Raeviga orang baik, ia berharap kebaikan itu akan memberi jalan untuknya.


"Jika kamu membutuhkan teman curhat, aku akan selalu ada buat kamu Rae.." ungkap Siska pada gadis yang saat ini telah duduk di sampingnya.


Raeviga mengangguk mengiyakan dengan senyuman kecil di bibirnya.


Siska tak sengaja melihat Arga yang berjalan melewatinya yang saat itu tengah membuat secangkir teh.


"Selamat siang pak" sapa Siska sambil menundukkan kepalanya sedikit ke bawah.


"Apa yang kamu lakukan?"


Siska mengangkat cangkir teh yang telah berisi air hangat.


"Membuat teh"


"Apa anda akan pergi ke sesuatu tempat?"


"kenapa bertanya?"


"Hanya ingin saja. Rapat hari ini telah di batalkan tiba-tiba. Apa terjadi sesuatu dengan klien kita?" tanya Siska lagi. Sebenarnya pertanyaan yang ia tujukan pada Arga hanyalah basa-basi semata. Karena tujuan Siska hanya ingin memandangi wajah itu sedikit lebih lama.


"Tak apa jika tidak bisa memiliki. Hanya saja kesempatan seperti ini tidak bisa di buang cuma-cuma. Wajahnya bagai candu untukku. Bagaimana aku bisa melupakannya jika setiap hari aku harus bertemu.." gumam Siska dengan kedua matanya yang menatap lekat Arga. Membuatnya tanpa sadar jika Arga sedari tadi memanggil namanya.


"Apa kamu tuli?" pekik Arga sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Siska.


Siska mengerjapkan kedua matanya tersadar dari lamunannya.


"Apa anda sedang berbicara dengan saya?"


"Tidak, tapi dengan cangkir teh yang kamu pegang" dengus Arga dan berjalan pergi.


Siska melihat cangkir teh hangat yang masih ada di tangannya. "untuk apa dia berbicara dengan cangkir teh? apa ada jin di dalamnya?" gumam Siska dengan wajah polos kebingungan.


Arga membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya pada Siska. Meminta gadis itu untuk menghampirinya.

__ADS_1


"Apa dia sekarang sedang memanggilku?" gumam Siska lagi sambil melangkah perlahan memastikan jika saat ini Arga melambaikan tangan kearahnya.


"Apa anda memanggil saya?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Apa ada orang lain lagi sekarang?"


Siska menoleh ke belakang. Ia menyadari jika saat ini di dalam pantry hanya ada dirinya seorang.


"Berjalanlah lebih cepat. Apa kamu siput? jalanmu sangat lambat"


Siska mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal mendengar ucapan Arga padanya.


Lagi dan Lagi dia selalu saja berkata kasar. Sedikit baik, lalu tiba-tiba kembali marah-marah. Apa jangan-jangan dia punya penyakit bipolar. Dasar aneh.


"Anda pasti belum pernah pacaran. Sikap Anda sangat kasar pada wanita" ucap Siska saat sudah berdiri di depan Arga.


"Untuk apa kamu bertanya? lagi pula untuk apa aku bersikap baik denganmu? Kamu hanya pegawaiku disini."


"Saya tahu. Tapi jika anda terus saja seperti ini. Maka akan saya pastikan anda akan menjadi perjaka tua"


Siska menutup bibirnya raoat-rapat. Mulutnya telah melampaui batas untuk berbicara dengan atasannya sekarang.


Astaga, dasar Siska bodoh. Saat ini Arga pasti akan kesal padaku.


Arga menautkan kedua alisnya. Ucapan Siska itu membuatnya sangat kesal karena harus teringat kembali kejadian saat Raeviga menolak lamarannya begitu saja.


"Apa kamu sudah bosan bekerja disini? Aku bisa saja memecatmu saat ini. Kamu mau?"


"Maaf pak, saya hanya berkata asal. Tidak mungkin orang se-kaya anda bisa jadi perjaka tua"


"Aku akan mengajakmu untuk meeting dengan klien di luar. Jadi minta berkas rapat pada sekretaris. Aku akan menunggu di dalam mobil"


"Baik" jawab Siska singkat. Dia tak ingin mulutnya kembali berulah dan menyebabkan masalah baru untuknya.


"Gak perlu lama! datang sebelum 10 menit" perintahnya setelah langkahnya menjauh dari Siska.


"Dasar Bos Angkuh, kenapa juga aku harus suka sama cowok seperti ini. Gak punya perasaan, maen perintah aja!"


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.


DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN.

__ADS_1


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


__ADS_2