FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#30 : ATASANKU YANG PELIT


__ADS_3

Dava kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sekar pergi dengan kartu kredit Dava di tangannya.


Sekar bertemu dengan seorang lelaki di Lobby Apartemen-nya. Lelaki yang ia temui saat menolong Dava saat mabuk di Jalanan depan Bar.


"Kita pergi sekarang?" ajak pria itu.


"Okey babe.."


[EPISODE SEBELUMNYA]


***


Malam yang gelap telah berganti hari. Sang mentari telah datang menyambut hari. Siska terlihat senang dengan tempat tinggalnya sekarang. Sangat nyaman.


Siska merenggangkan tubuhnya dan perlahan membuka kedua matanya. "Tempat ini sangat nyaman. Aku berharap bisa memiliki rumah se-nyaman ini."


Siska berjalan keluar dari kamarnya dan telah mendapati Arga berdiri di depan pintu kamarnya.


"Pak Arga? Apa yang Pak Arga lakukan disini?" tanya Siska yang tiba-tiba melihat Arga dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajah sembabnya khas orang bangun tidur telah di lihat Arga pagi ini.


Astaga ini sangat memalukan. Kenapa dia tiba-tiba ada disini?


"Ini sudah kesiangan. Apa kamu tidak melihat jam? Apa kamu tidak pergi bekerja?" tanya Arga pada pegawainya itu.


Siska hanya menganggukkan kepalanya dan sedetik kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun Arga masih berdiri di depan pintu kamar Siska dan mengetuk pintu kamar gadis itu.


Siska mendesah kesal. Ia kembali membuka pintu kamarnya. "Pak Arga mencari saya?"


Arga memberikan sebuah tas belanjaan yang dipegangnya sedari tadi. "Kamu tidak memiliki baju ganti kan? Aku sudah membelikannya untukmu"


Siska terlihat senang dengan ucapan Arga itu. Ia mengambil dua tas belanjaan itu dari tangan Arga dengan senang hati.


Kenapa Pak Arga sangat perhatian sekali. Ini sangat menyenangkan saat dia sangat baik padaku.


"Terima kasih" ucap Siska tersenyum senang.


Arga hanya membalas ucapan Siska dengan Anggukan kepalanya saja.


"Kapan Pak Arga membeli ini untuk saya? terima kasih atas perhatiannya"


"Pelayanku yang membelikannya"

__ADS_1


Jawaban Arga itu sedikit mengecewakannya. Namun ia tak mempermasalahkannya selagi Arga memberi semua ini untuknya.


Arga akan berbalik pergi namun ia menatap kembali Siska yang masih berdiri di depan pintu. "Jangan lupa jika gaji bulan ini akan terpotong karena biaya tempat tinggal dan Pakaian yang kamu pegang saat ini" ucapnya sambil tersenyum kecil kearah Siska.


"Apa? bukankah Pak Arga membelikan ini untuk saya?" Siska nampak terkejut dengan ucapan Arga. Pria di depannya itu telah membuktikan jika dia tipe Atasan yang sangat perhitungan.


"Aku memang membelikannya tapi semua itu tidak gratis" setelah mengatakan hal itu Arga berjalan pergi dengan senyuman kecil melekat di bibirnya.


"Dasar cowok pelit. Dikit-dikit suruh bayar. Pantas saja rumahnya mewah. Pasti ini hasil dari memeras uang rakyat jelata" ungkapnya kesal.


***


Dava terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing karena pengaruh Alkohol semalam. Dia akan melanjutkan tidurnya kembali namun notifikasi dari ponselnya membuat dia harus bangun untuk melihatnya.


Notifikasi Pemberitahuan pemakaian Kredit yang hampir saja melampaui batas. Dava melihat rincian pemakaian yang di habiskan dalam semalam.


"100 juta? Apa ini perbuatan Sekar?" Dava berpikir keras apa yang telah terjadi semalam.


"Sial!" pekiknya saat menyadari kejadian semalam.


"Seharusnya aku tidak memberikan kartu kredit itu padanya. Wanita Jalang"


Di kamar yang berbeda namun masih satu hotel terlihat seorang wanita berbalut selimut tebal dan tertidur lelap dengan seorang pria di sampingnya. Wanita itu adalah Sekar dan Pria malamnya. Selimut yang telah menutupi tubuh telanjang mereka berdua telah membuktikan jika mereka telah bersama semalaman.


****


Siska telah duduk di meja makan dengan hidangan makanan serba mewah di rumah Arga. Arga telah menikmati makanan itu namun Siska hanya diam saja menatap kesal kearah Atasannya itu.


"Kenapa tidak makan?" tanya Arga melihat piring di depan Siska masih kosong.


"Apa makanan ini juga tidak gratis? Berapa banyak yang harus saya bayar untuk makan disini?" ungkap Siska kesal.


Sudut bibir Arga terangkat. Ia melihat kearah Siska yang duduk di depannya. "Tergantung, berapa banyak kamu menghabiskan makanan disini. Untuk Jenis ikan yang ini harganya akan sangat mahal."


Siska beranjak dari tempat duduknya dan akan berlalu pergi. Bagi Siska, tak ada gunanya dia duduk di tempat itu. Arga terlalu kikir dan menindas rakyat miskin sepertinya.


"Dasar tukang perhitungan!" umpat Sekar sebelum pergi.


"Apa kamu tadi sedang mengumpat ku?"


Siska menoleh kearah Atasannya. "Tidak, saya hanya membicarakan fakta"

__ADS_1


"Kamu seberani ini dengan Bos mu?"


"Ini bukan di kantor. Jadi Anda bukan Bos saya. Hanya pria berhati pelit yang hanya menolong wanita dengan rasa tidak ikhlas.." Siska berjalan pergi dan menghiraukan ucapan Arga yang kembali menyerukan namanya. Siska telah berjalan keluar rumah. Ia bahkan tidak memiliki uang sepeserpun untuk naik kendaraan.


"Jadi hari ini aku harus jalan kaki ke kantor? Akhhh sial!" keluh Siska di perjalanan.


Tak lama suara klakson mobil mengejutkan Siska. Mobil Arga terlihat di belakangnya. Arga membuka kaca mobilnya dan memanggil Siska untuk mendekat ke mobilnya.


"Apa?" tanya Siska ketus.


"Masuklah ke dalam"


"Tidak, terima kasih. Gajiku juga akan habis setelah naik ke mobil anda tuan.." Siska melanjutkan langkahnya kembali dan lagi-lagi menghiraukan keberadaan Arga disana.


"Dia sangat keras kepala" gumam Arga sendiri.


Arga kembali meng-klakson mobilnya yang masih berada di belakang Siska. "Apa kamu tidak takut jika Erwin kembali melukaimu jika berjalan sendiri disini?" ucapan Arga itu berhasil membuat Siska berhenti melangkah dan memperhatikan daerah sekitarnya saat ini. Siska terlihat trauma dengan kejadian yang pernah Erwin lakukan padanya.


Tidak ada pejalan kaki selain dirinya saat ini. Hanya hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang di sekitar Siska.


Bagaimana jika ucapan Arga benar? Bagaimana jika Erwin datang kembali?


Tanpa berpikir panjang lagi Siska masuk ke dalam mobil Arga. "Saya akan ikut dengan anda hari ini"


"Jadi kamu sudah berubah pikiran? ternyata mudah sekali membuatmu goyah" goda Arga sembari menjalankan mobilnya lagi.


Siska tak mengatakan apapun. Dia tak ingin berdebat dengan orang seperti Arga. Hari ini dia harus kembali ke rumah kontrakannya dan mengambil dompetnya yang tertinggal disana.


Haruskah aku tinggal sementara di rumah Raeviga?


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) JANGAN LUPA BUAT SUBSCRIBE AKUN NOVEL CARAMELLOW


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


__ADS_2