FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#22 : PRIA BERMUKA DUA


__ADS_3

"Hanya sesuatu yang mendesak saja pak. Saya permisi untuk pulang.." ucap Siska lagi dan berjalan pergi meninggalkan restoran.


Arga masih memperhatikan bayangan Siska yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Arga sendiri.


Episode sebelumnya


Siska telah berada di dalam taksi namun ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Ucapan yang di lontarkan Erwin padanya masih lekat dalam pikirannya. Ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan kegundahan hatinya sekarang.


Siska akan melihat ke layar ponselnya dan akan menghubungi Raeviga. Hanya Raeviga teman yang akrab dengannya di kota ini. Namun ia mengurungkannya mengingat Raeviga pergi menemui salah satu keluarganya.


Tidak, aku tidak bisa menganggunya sekarang


"Non, ini tujuannya kemana?" tanya supir taksi bingung.


"Ikuti jalan aja pak..."


Supir taksi tak mengatakan apapun. Namun ia masih bingung dengan tempat tujuan Siska itu.


Gadis itu menatap kearah kaca mobil dan memandangi hiruk piruknya perkotaan di sore hari.


"Kenapa Erwin berpikir seperti itu tentangku. Kenapa ia sangat berbeda.." Siska menghela napas kecil dan menutup kedua matanya sejenak.


"Nona, ini ada 2 jalur mau ke kanan atau ke kiri. Saya bingung tujuan Nona mau kemana.." ucap supir itu lagi dan melihat bayangan Siska dari kaca spion mobilnya.


"Kanan pak.."


"Baiklah.."


Siska masih tak membuka kedua matanya. Ia membiarkan tubuh dan pikirannya merasa lebih baik.


"Non, ini mau satu jam taksi ini jalan tanpa tujuan. Tagihan taksinya juga semakin banyak non. Nona bukan penipu kan? Nona punya uang buat bayarkan?" tanya Supir itu was-was dan menghentikan mobilnya di sisi jalan.


Siska membuka kedua matanya dan melihat kearah supir taksi di depannya.


"Pak saya bukan penipu. Dan saya juga masih mampu menbayar ongkos taksi walaupun bukan dari keluarga kaya.."


"..dan tolong saat menegur seseorang bicaralah baik-baik. Kenapa harus berpikir buruk seperti itu kepadaku.." cecar Siska yang merasa harga dirinya di rendahkan.


"Maaf Nona saya hanya.."


Siska memotong ucapan supir taksi dan mengambil uang pecahan seratus ribu dari dalam tasnya.


"Berapa tagihannya?"


"80 ribu non.."


Siska memberikan selembar uang seratus ribu kepada pria parubaya itu sebelum keluar dari taksi itu.


"Non ini kembaliannya.." ucap pria itu yang juga ikut keluar dari taksi.

__ADS_1


"Tidak perlu. Ambil saja. Lain kali bicaralah dengan baik-baik kepada penumpang.." setelah mengatakan hal itu Siska melangkah pergi meninggal supir taksi yang masih berdiri menatap kepergian Siska.


Siska melangkah perlahan sembari memikirkan berbagai hal yang telah terjadi dalam hidupnya hingga sekarang. Kematian orang tuanya, Pekerjaannya, dan juga tentang cinta sepihak dan sifat Erwin yang berubah kepadanya..


"Kenapa sangat mudah menilai buruk seseorang tanpa mendengarkan penjelasan telebih dahulu.." keluh Siska sambil mengikuti arah jalanan di depannya.


Sebuah mobil membunyikan klanson dan berhenti di sisi jalan di samping Siska.


"Sis, kamu ngapain jalan sendirian disini. Ayo masuk.." ajak Raeviga yang menurunkan kaca mobilnya dan meminta Siska segera masuk ke dalam mobilnya.


"Rae? bukannya kamu ada urusan dengan keluargamu?" tanya Siska yang heran melihat keberadaan Raeviga.


"Sudah selesai. Ayo cepat masuk. Jalanan disini berbahaya kalo kamu sendirian.." pinta Raeviga lagi. Siska mengangguk mengiyakan dan melangkah masuk ke dalam mobil Raeviga.


"Apa yang kamu lakukan di sekitar sini? bukankah tempat tinggal kamu berlawanan dari jalan ini.."


"Aku hanya ingin suasana baru.."


Raeviga menoleh sekilas kearah Siska yang menatap lurus ke jalanan di luar.


"Kamu sedang ada masalah? kamu mau cerita?" Raeviga dengan cepat mengerti keadaan Siska saat ini.


"Sepertinya suasana hati Siska sedang tidak baik.." pikir Raeviga.


"Sedikit masalah. Tapi aku terlalu lelah untuk mengatakannya"


"Baiklah, istirahat saja. Saat sampai kontrakan. Aku akan membangunkanmu.."


Mobil Raeviga melaju dengan kecepatan sedang dan memutar sebuah lagu untuk mengisi keheningan di dalam mobilnya.


Sebuah pesan masuk di ponsel Raeviga membuat gadis itu memperlambat laju kecepatan mobilnya.


Arga : "Aku tak melihatmu saat di acara makan bersama tadi. Apa terjadi sesuatu?"


Raeviga hanya membaca pesan masuk dari Arga itu tanpa membalasnya. Ia kembali teringat kejadian beberapa hari lalu yang melibatkan Arga. Ia merasa hina karena Arga menilai dirinya seperti seorang *******.


"Aku harus segera memberi tau Siska kalau aku berencana berhenti dari pekerjaan ini. Arga tak seperti yanh kupikirkan. Dia pria gila dan mesum.." batinnya sambil menatap sekilas Siska yang telah tertidur.


******


"Sial, kenapa dia tidak membalas pesanku" gerutu Arga yang sedari tadi menunggu balasan pesan dari Raeviga.


Sejenak Arga memikirkan kejadian hari itu dengan Raeviga. Sikapnya telah membuat Raeviga menjauhinya. Sejak kejadian itu Raeviga bersikap dingin dengannya.


"Apa aku telah membuatnya takut? aku hanya ingin dia tau kalau aku memiliki perasaan untuknya" keluhnya sendiri.


Arga menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia kembali melihat kearah layar ponsel namun tidak ada jawaban apapun dari Raeviga.


"Sial!" rutuknya.


"Rae, aku akan mendapatkanmu. Aku yakin itu.." ucapnya sendiri sebelum beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Di lain tempat, mobil Raeviga berhenti di depan kontrakan sederhana milik Siska. Raeviga mencoba membangunkan Siska yang terlihat tertidur lelap.


"Sis, bangun. Sudah sampai. Kamu bisa istirahat di rumah sekarang.."


Siska membuka kedua matanya perlahan dan menatap kearah samping.


"Rae terima kasih telah memberiku tumpangan hari ini. mampir sebentar ke rumah" ajak Siska sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Tidak Sis. Lain kali saja. Kamu istirahatlah. Wajahmu sedikit pucat.." ucap Raeviga khawatir pada temannya itu.


"Baiklah. hati-hati di jalan.." Siska akan turun dari mobil Raeviga namun tak sengaja ia melihat sebuah gaun yang terbungkus cantik dengan plastik berwarna tosca transparant.


"Rae, gaun ini sangat indah. Apa kamu mau pergi ke pesta?" tanya Siska penasaran.


Raeviga membenarkan ucapan temannya itu.


"mama memaksaku ikut ke acara pesta minggu depan.."


"Tapi kenapa wajahmu terlihat tidak senang?" Siska memperhatikan wajah Raeviga yang tampak lesu.


"Kamu bertengkar lagi dengan mama tiri kamu?" tebaknya melihat raut wajah Raeviga itu.


"Sedikit..sudahlah itu sudah biasa.."


Siska mengangguk mengerti. Ia tidak membicarakan masalah Raeviga lagi. Siska menyadari jika Raeviga perlu menenangkan diri terlebih dahulu sama seperti dirinya tadi.


"menyetirlah dengan hati-hati.." ujarnya menasehati. Siska melihat sejenak kearah mobil Raeviga yang mulai berjalan menjauh dari pandangannya.


Siska masuk ke dalam rumah kontrakannya. Dia menemukan sebuah buket bunga yang di letakkan di bawah pintu rumahnya.


"Bunga siapa?" tanya Siska bingung. Ia mengambil buket bunga cantik itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Siska duduk diatas sofa ruang tamunya dan membaca sebuah pesan di kertas kecil yang di letakkan diatas buket bunga itu. Raut wajah Siska berubah seketika setelah membaca pesan singkat yang ada di kertas itu.


Aku kembali sayang


BERSAMBUNG


Hai Reader, terima kasih sudah setia menunggu cerita ini. Walaupun masih banyak kekurangan, kesalahan di naskah cerita ini. Tapi ku harap kalian bisa menikmati ini dengan baik.


Semoga kalian tetap sehat.


happy reading


Yuk dukung Author dengan vote..vote...vote dan like cerita ini sebanyak mungkin.


Kritik dan saran di persilahkan ya bebi ❤


Peluk sayangku, Caramellow


Instagram : @Ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2