FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#42 : MEMAKSA HUBUNGAN


__ADS_3

Raeviga melangkah mundur menjauhi gerakan kaki Arga yang semakin mendekat padanya. Raeviga berharap ada seseorang yang akan membantunya sekarang.


"Oh tuhan apa lagi ini?"gumamnya.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga tak lagi berjalan mendekati Raeviga. Dia melihat punggung Raeviga sudah bersandar di dinding kamar. Langkah Raeviga harus terhenti, tak ada jalan lain yang bisa ia gunakan untuk menjauh dari Arga. Dia sudah tersudutkan sekarang.


"Kenapa kamu menerima perjodohan bodoh ini?" tanya Arga membentak membuat Raeviga sedikit ketakutan.


"Ini urusan saya. Kenapa Anda ikut campur?"


Arga mencebikkan bibirnya kesal. Ia meraih lengan Raeviga dan mencengkeramnya erat.


"tolong lepaskan tangan saya. Ini menyakitkan." Raeviga menahan sakit di Lengannya.


"Urusanmu kamu bilang? kamu itu wanitaku dan tidak akan menjadi milik orang lain. Apalagi pria itu adalah Dava."Keluhnya sambil mempertahankan tangannya yang di pergelangan tangan Raeviga.


"Kamu salah besar Pak Arga.Saya bekerja di perusahaan anda sebagai pegawai bukan pelacur."


Raeviga berkali-kali berusaha untuk melepaskan tangannya. Arga seakan tak peduli dengan rasa sakit yang Raeviga derita di pergelangan tangannya. Dia. sangat marah, dan tak ingin Raeviga menjadi milik orang lain. Arga melihat setetes air mata jatuh mengenai telapak tangannya.


Seketika Arga melepaskan genggamannya. Raeviga mencoba menahan Isak tangisnya, dia ingin menggunakan kesempatannya untuk lari keluar dari ruangan ini namun Arga ternyata bukan melepaskannya, dia justru mendorong Raeviga hingga terjatuh ke ranjang yang ada di samping Raeviga.


Arga sudah menjatuhkan tubuhnya di atas Raeviga. Menahan kedua tangan gadis itu dengan erat.


"Hari ini akan ku buat kamu jadi wanitaku" ungkap Arga sambil mendekatkan wajahnya ke leher Raeviga dengan cepat. Raeviga mencoba meronta namun apa daya tenaganya tidak sebanding dengan Arga. Arga menenggelamkan wajahnya ke lekukan leher Raeviga. Air mata Raeviga telah membasahi wajahnya.


"Lepasin! saya bukan pelacur!" Gertaknya dengan keras.


Arga yang sudah kesetanan tidak mendengarkan ucapan Raeviga. Membiarkan walau wajah gadis yang sedang dalam dekapannya itu telah penuh dengan air mata.


"Aku akan melepaskan mu tapi tidak untuk sekarang"ucap Arga lagi dan mencium bibir Raeviga dengan kasar.


"Lepas...lepasin saya.." Raeviga masih meronta dengan keras untuk keluar dari bekapan Arga.

__ADS_1


Buukk...


Arga tiba-tiba jatuh tersungkur ke lantai. Dava meninju wajah Arga dengan keras.


"Brengsek! Apa yang kakak lakukan!" Kali ini tak hanya ada Arga yang merasa marah, Dava membalas tatapan dingin Arga tanpa rasa takut.


Arga membalas pukulan Dava, kepalan tangannya meninju perut Dava beberapa kali. Namun seakan tak ingin mengalah, Dava menahan tangan Arga yang ada di depan perutnya dan mencengkeram tangan Arga dengan sangat erat. Dia menepis tangan Arga dan memukul wajahnya hingga lelaki itu sudah babak belur.


Dava menghampiri Raeviga yang terlihat ketakutan. Ia membuka jaket hitam yang di pakainya dan dipakaikan jaket itu pada Raeviga. "Kamu gak apa kan?"


Arga menyunggingkan bibirnya melihat kebersamaan Dava dan Raeviga.


"Kamu bilang Aku brengsek? Lebih brengsek mana sama Ibu kamu yang pelacur?" Arga berjalan menghampiri Dava. Raeviga yang berada di samping Dava bergerak mundur menjauh dari Arga.


"Kak Arga boleh benci sama aku, tapi jangan ke wanita ini. Dia gak tau apa-apa kak!"


"Ibu kamu udah ngrebut papa dari mama ku. Dan sekarang kamu mau ngrebut wanita yang aku suka?"Arga menatap sinis kearah Dava.


"Buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya. Laili wanita pelacur, anaknya pun juga pelacur. Cuih!" Ungkapnya lagi.


"Aku gak akan biarin kamu miliki dia. Raeviga, adalah wanita ku."


Raeviga membantu Dava bangun setelah menerima pukulan keras dari tangan Arga. "Terserah kakak" setelah mengatakan hal itu, Dava pergi membawa Raeviga dan meninggalkan Dava seorang diri.


Arga meninju tembok dengan marah.Tangannya sudah memerah bahkan berdarah. Wajahnya sudah sangat terluka oleh pukulan Dava. Arga mencari keberadaan Laili di dalam Villa. Namun tidak ada seorang pun yang ada di dalam Villa itu selain dirinya. Laili telah pergi sebelum Arga datang.


Sial.


****


Sejak pertemuannya dengan Erwin, Siska memikirkan ucapan pria itu yang ingin berusaha untuk kembali kepadanya. Namun rasa takut masih membelenggu Siska untuk bisa kembali dekat dengan Erwin. Siska bisa melihat bahwa sekarang Erwin terlihat lebih baik daripada sebelumnya.


Sore itu Erwin membawa sebuah buket bunga, sebuah coklat dengan campuran truffle dan almond yang telah di kemas dengan sangat menarik.


"Sebagai tanda permintaan maaf" Siska mengingat ucapan Erwin saat itu.

__ADS_1


Erwin juga bersikeras untuk mengantarnya pulang, tak ingin membuat masalah karena tinggal di rumah Arga, Siska beralasan kepada Erwin bahwa dia masih ada urusan pekerjaan dengan atasannya itu. Erwin mengangguk mengerti, bahkan sikapnya menjadi sangat lembut pada wanita.


Kemana perginya Erwin yang dulu? Apakah dia benar-benar telah berubah? atau ini hanya permainan Erwin lagi untuk menjebaknya?.


Di ruang tamu rumah Arga, terdengar suara helaan napas dari Siska saat menunggu kedatangan Arga sedari tadi. Sejak kepergian Arga Siang tadi saat di kantor, Siska tak menemukan keberadaan pria itu lagi.


Malam ini Siska berencana membahas beberapa masalah tentang pekerjaan. Namun sosok yang ia tunggu tak kunjung datang. Kedua matanya sudah terlihat mengantuk bahkan ia sudah menguap beberapa kali.


"Apa aku harus menelponnya? tapi bagaimana jika dia kembali marah padaku karena telah menganggu waktunya?" pikiran-pikirannya itu berlarian di otaknya. Siska membaringkan tubuhnya di sebuah sofa ruang tamu dan berharap sebentar lagi Arga akan datang.


****


Langkah seorang pria datang mendekati Siska yang tertidur. Ia memandanginya lama sebelum akhirnya membawa Siska masuk ke dalam kamar wanita itu. Pria itu,-Arga. Ia mengambil sebuah selimut dan diletakkannya di tubuh gadis itu. Arga akan mematikan lampu kamar yang berada di samping tempat tidur. Namun seketika Siska berteriak dan memukul lengannya dengan sangat keras.


"Apa yang akan Pak Arga lakukan padaku?" Teriaknya sembari menaikkan selimut hingga menutupi lehernya.


Alis Arga bertautan. Dia melihat Siska dengan tatapan aneh. Gadis itu terlihat ketakutan bahkan tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya. Sorot mata yang terlihat takut itu membuat Arga tergerak merasa iba.


"Apa yang kamu takutkan? aku hanya ingin mematikan lampu tidur. Apa ada yang salah dengan itu?"


Siska mengikuti jari telunjuk Arga yang menunjuk kearah lampu tidur di atas meja di samping tempat tidurnya. Seakan telah berburuk sangka, Siska hanya menunduk lemah. Sejak kejadian yang dialami karena perbuatan Erwin membuatnya menjadi Gadis yang sangat sensitif dan paranoid.


"Maaf.."


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.


DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


__ADS_2