FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#28 : PIKIRAN KOTOR


__ADS_3

[Readerku tercinta, maaf ya jarang update. Sejenak aku lupa sama alurnya. Jadi harus baca ulang deh. Kalau kalian juga lupa, baca ulang deh kayak aku. Peluk sayangku buat kalian :) ]


"Apa kamu membutuhkanku malam ini?nampaknya kamu perlu melampiaskan emosimu.." Sekar membelai wajah Dava dengan tatapan menggoda.


"Tidak, pergilah. Saat ini aku tak ingin mengotori tubuhku"


[Episode Sebelumnya]


Sekar menyunggingkan bibirnya mendengar jawaban Dava. Saat pria itu mengalihkan pandangannya dari Sekar, wanita itu terlihat mencibirnya dan terlihat memikirkan sesuatu.


"Sama seperti dirimu Dava. Aku juga muak berurusan denganmu. Aku juga tak peduli denganmu. Yang aku inginkan hanyalah kesenangan dan uangmu.." gumamnya sendiri. Sekar menyentuh punggung Dava mesra dan menggodanya dengan mencium pangkal telinga Dava.


"Malam ini, kamu yakin tak ingin berhubungan denganku? ini hari yang baik, lupakan masalahmu.." Bisik Sekar di telinga Dava membuat Pria itu terbuai dengan sikap Sekar yang menggodanya.


Sekar membuka dua kancing atas kemeja Dava hingga memperlihat sebagian dada bidang pria itu. Sekar duduk di pangkuan Dava dan menyandarkan kepalanya. Tangannya bergerak membelai lembut belakang leher pria itu. Namun seolah Dava mati rasa ia tak tergerak sedikitpun dengan sentuhan Sekar di tubuhnya.


wanita jalang apa yang di lakukannya.


Dava melepaskan tangan Sekar dari tubuhnya. Tangannya meraih segelas minuman dan menghabiskannya. Tubuhnya sedikit lunglai, ia sudah cukup mabuk dengan minuman yang sejak tadi di teguknya. Namun pikiran tentang keluarganya yang berantakan seolah tak menghilang dari kepalanya.


Sial, kenapa masalah ini masih membayang di otakku.


Dava beranjak dari tempat duduknya. Sesekali ia meraih pegangan kursi untuk menopang tubuhnya yang sudah tak bisa berdiri kokoh.


"Mau kemana, Dav?" tangan Sekar menangkap lengan Dava yang akan terjatuh.


"Lepaskan. Jauhi aku. Tinggalkan aku sendiri" Dava menampik tangan Sekar dan melangkah tertatih-tatih menuju pintu keluar Bar. Dava tertawa mengingat semua perkataan Arga padanya.


Aku memang anak sial. Bagaimana mama bisa tahan dengan keluarga kacau seperti ini.


"Kamu memang bodoh Dava. Dava bodoh" umpatnya sendiri. Sekar masih memperhatikan Dava dari kejauhan. Sudut bibirnya terangkat. Sekar tersenyum menyeringai melihat keadaan Dava saat ini.


Ternyata orang kaya juga punya masalah hidup.


Kedua sorot mata Sekar masih menatap kepergian Dava. Langkah kakinya mengikuti bayangan Dava yang masih berdiri di depan Bar dengan langkah goyah.


Efek minuman semakin membuat Dava kehilangan kesadaran. Kepalanya terasa berat begitu pula dengan pandangannya yang sudah mulai buram. Ia melihat sekelilingnya, semua benda di depannya seakan bermutasi menjadi dua. Sial, efek minuman ini terlalu kuat. Minuman bodoh ini seharusnya membunuh pikiran bodohku bukan membuatku seperti orang gila.

__ADS_1


Dava terjatuh lunglai di halaman luar Bar. Sekar sedikit terkejut melihat Dava yang sudah lunglai ke jalanan. Gadis itu meletakkan segelas minuman yang dibawanya dan berjalan menghampiri Dava.


"Dava, kamu masih sadar?" tanya Sekar sambil menepuk pelan kedua pipi Dava untuk menyadarkannya. Namun sialnya, Dava sudah tak sadarkan diri oleh pengaruh alkohol yang di minumnya.


"Jika kamu bukan penghasil keuanganku. Aku tak akan ingin melakukan ini" setelah mengatakan hal itu Sekar melambaikan tangannya ke seseorang yang tak sengaja melihat melihat mereka. Pemuda itu mendekati Sekar dan mereka seolah saling mengenal satu sama lain. Tatapan keduanya terlihat akrab.


"Bantu aku membawanya ke Apartemenku" Sekar mengambil kunci mobil di saku celana dan memberikan kunci mobil itu pada pria yang baru saja di panggilnya.


"Oke" sahutnya sebelum pergi mengambil mobil milik Dava.


****


Ruangan dengan gaya klasik dan hiasan mewah terpajang di setiap sisi rumah Arga. Siska terkagum-kagum dengan kemewahan rumah yang dia tempati sekarang. Bukan untuk selamanya, ini hanya sementara waktu. Pikiran serakah Siska mulai berlarian di kepalanya. Bagaimana jika ia tinggal disini selamanya. Tempat ini sangat nyaman di bandingkan kontrakan kecilnya. Ini bukanlah rumah, ini layak di sebut dengan istana, dan dia adalah permaisurinya.


"Isshh!" Siska menoyor kepalanya sendiri menghilangkan pikiran tak masuk akal yang baru saja di pikirkannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arga yang tak sengaja dan melihat Siska berdesis sendiri.


"Tidak ada. saya merasa ada lalat yang berlarian di sekitar wajah saya" jawab Siska kikuk. Dia sangat malu dengan ulah bodohnya yang di lihatnya sekarang.


"Iya, kenapa? tenang saja, saya tidak takut dengan lalat. Di kontrakan saya sering terjadi seperti ini." ucap Siska santai, namun berbeda dengan Arga. Dia menanggapi ucapan Siska dengan serius.


"lalat di rumahmu sudah biasa? itu beneran rumah atau kandang hewan. Menjijikan" setelah mengatakan hal itu, Arga berjalan naik ke lantai atas rumahnya meninggalkan Siska yang tercengang dengan ucapan Arga.


"Kasar sekali. Bagaimana bisa aku pernah mencintai orang sekasar ini. Otakku pasti sedikit gila" gumamnya sendiri.


Sedetik kemudian Siska menyadari sesuatu Dimana dia akan tidur di rumah ini, lalu pakaiannya sangan berantakan. Penampilannya saat ini telah melebihi pelayan rumah tangga. Sangat buruk. Pikirnya


Siska berjalan naik mengikuti Arga yang sudah menghilang ke sebuah ruangan di lantai dua. Siska melihat pintu ruangan itu terbuka, gadis itu berjalan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu sama sekali.


Aaaaaahh...


Teriakan Siska sontak membuat Arga yang saat itu membelakanginya dan bertelanjang dada melihat kearahnya. Arga hanya memakai sehelai handuk yang dibalutkan ke ping


"Apa yang kamu lakukan disini?" Arga terperangah dengan kehadiran Siska di kamarnya. Siska telah berdiri membelakanginya dan kedua matanya yang tertutup rapat oleh tangannya.


"Maaf pak Arga saya tidak tau jika ini ruangan pribadi anda"

__ADS_1


Arga kembali memakai pakaiannya dan mendengus kesal. Sudut bibirnya tersenyum kecil melihat kepolosan Siska.


"Berbaliklah, kamu tidak sopan berbicara dengan atasan seperti itu"


Siska menggelengkan kepalanya. Menolak ucapan Arga. Tak mungkin dia membiarkan kedua matanya khilaf dengan tubuh Arga yang bugar.


"Saya bicara seperti ini saja pak. Mata nakal saya bisa saja.." Siska menggantungkan ucapannya dan mengerutu kesal dalam hati.


Kamu bodoh siska. Seharusnya kamu tak mengatakan hal itu. Pak Arga pasti berpikir aneh tentang ucapannya.


"Mata nakal? apa yang sedang kamu pikirkan?" benar saja seketika tawa Arga tercetak di bibirnya. Dia menikmati kepolosan Siska.


"Tidak ada. Anda pasti salah mendengarnya"


Arga mendekati Siska yang masih membelakanginya. Ia memutar tubuh Siska agar menatao kearahnya.


"sudah ku katakan jika berbicara dengan orang harus melihat kearah orangnya. Mengerti?" tegas Arga pada gadia itu. Senyumnya masih mengembang tanpa ia sadari.


Arga membuka kedua tangan Siska yang menutupi wajah gadis itu. Namun Siska masih menutup kedua matanya, tak mengizinkan melihat hal yang belum pantas untuknya.


Kamu tak boleh ternodai mata-mataku. Perasaan ini pasti kembali datang. Sial.


"Jadi apa mau mu kesini? kamu ingin bermain dewasa?" goda Arga, sontak hal itu membuat Siska membuka matanya dan menatap Arga.


"GAK MAU!"


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


Terima kasih,


Happy Reading Gaes

__ADS_1


__ADS_2