FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
# 80 : JANGAN LAGI DEKAT DENGANNYA


__ADS_3

Arga semakin mencondongkan wajahnya, pun dengan Siska yang menutup kedua matanya siap menerima permainan yang akan pria itu lakukan.


Ddrrrrrtt!!


Dddrttt!!


"Sialan, bunyi apa itu?"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga seketika menghentikan tubuhnya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara yang sangat menganggu telinganya. Begitu pula dengan Siska yang seketika membuka lebar kedua matanya dan melihat bersamaan kearah ponsel yang berada di atas meja.


"Sebentar, aku akan melihat siapa yang menelponnya,"


Arga menjauhkan tubuhnya dari Siska agar wanita itu bisa leluasa untuk mengambil ponsel yang bergetar di atas meja kaca, bersamaan dengan gerutuan kecil yang keluar dari bibirnya yang masih terlihat kesal.


Siska meraih ponsel miliknya dan melihat nama Erwin terlihat di layar ponselnya. Seketika ia melihat kearah Arga yang saat itu juga menatapnya.


"Ada apa?" tanya Arga penasaran saat melihat Siska tidak segera menerima panggilan telepon itu.


"Ini dari Erwin..,"


Kedua mata Arga membulat sempurna. Kedua alisnya mengerut dengan rahang tegasnya yang memperlihatkan dengan jelas ketidaksukaannya kepada nama yang baru saja di sebutkan oleh Siska.


"Halo," seru Siska saat menerima panggilan telepon itu. Namun dengan cepat tangan Arga mengalihkan benda pipih itu ke tangannya dan mendekatkannya ke daun telinganya.


"Heh!" gerutu Siska saat Arga merampas ponselnya paksa.


"Halo Sis, bisakah kita bicara hari ini?" suara Erwin terdengar begitu ramah. Namun tidak dengan wajah Arga yang berbanding terbalik dengan suara lirih Erwin itu. Tatapan tak suka dilayangkan jelas di wajah pria itu.


"Bisakah kamu berhenti untuk menganggu nya? apakah pukulan tadi siang masih belum membangunkan mu? asal kau tahu, bayi dalam kandungan Siska adalah anakku. Jadi menyingkir lah dan jangan dekati wanitaku!" tanpa menunggu jawaban dari Erwin, Arga mengakhiri panggilan itu dan memblokir nomor Erwin dari ponsel milik Siska.


Siska memperhatikan sikap Arga yang berubah marah. Ia pun terlihat memikirkan kalimat yang di lontarkan oleh Arga.


Pukulan? apa maksud Arga? apa dia tadi siang memukul Erwin? apa luka di wajahnya karena perkelahiannya dengan Erwin?


"Jangan pernah menerima panggilan telepon dari pria itu lagi! aku membenci pria lain yang mencoba mendekati mu!" Arga melemparkan ponsel Siska kasar kearah meja kaca itu hingga menimbulkan suara keras dari meja kaca dan ponsel itu.


Siska seketika membelalakkan kedua matanya kesal. Ia meraih ponselnya dan melihat apakah ada kerusakan di layar ponselnya itu.


"Kenapa melemparkan ponselku? kau ini kasar sekali!"

__ADS_1


"Jangan pernah menerima panggilan teleponnya lagi!" Arga kembali memperingati Siska dan membuat wanita itu berdecak kesal.


"Apa luka ini karena kamu berkelahi dengan Erwin? Apa kalian berdua bertengkar? apa yang kalian permasalahkan?"


Arga melayangkan tatapan tajam pada Siska. Namun seolah telah terbiasa dengan tatapan mata Arga itu, tak membuat Siska terlihat takut.


"Kenapa diam? apa yang kalian berdua permasalahkan?"


"Kau,"


Kening Siska berkerut bingung. Namun kedua matanya tak teralihkan dari Arga.


"Kenapa? apa yang terjadi?"


"Karena dia telah berani mengambil kamu dari aku! Jadi menjauh lah darinya, mengerti?"


Siska terdiam. Ia tak lagi ingin menanggapi ucapan Arga. Ia cukup terkejut dengan jawaban yang di berikan oleh Arga.


"Kenapa sekarang kamu yang hanya diam saja? apa kamu selama ini bertemu diam-diam dengan pria itu di belakangku?" kini tatapan tajam Erwin terarah sepenuhnya pada Siska. Tangannya mencengkeram lengan Siska namun tidak membuatnya terasa sakit.


"Mana mungkin! apa kamu menuduhku selingkuh? yang benar saja, satu pria seperti mu saja sudah membuatku kewalahan." Siska melepaskan tangan Arga dari lengannya dengan wajahnya yang merenggut kesal.


"Kau ini selalu saja marah. Kendalikan emosi mu sedikit, menjengkelkan," gerutu Siska yang akan berjalan pergi menghindari Arga.


Namun Arga tak melepasnya begitu saja, Ia meraih lengan Siska dan membuat wanita itu tak bisa berkutik lagi. Kedua lengan Arga mengunci tubuh Siska hingga tak akan ada jalan yang bisa membuatnya lolos.


"Kamu mau kemana?" kini pertanyaan Arga sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Belahan bibir Siska yang masih mengerucut kesal menjadi perhatian utama Arga saat ini.


"Kenapa bibir mu seperti itu? apa kamu ingin aku menciumnya lagi?"


Seketika Siska merapatkan bibirnya ke dalam dan mengalihkan tatapannya tak ingin melihat kearah Arga.


"Kamu masih kesal?"


"Tentu saja, kamu menuduhkan selingkuh! Mana mungkin aku tidak marah," gerutunya pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Arga.


Arga menyunggingkan bibirnya melihat wajah Sika yang masih terlihat marah karenanya. Wajahnya yang di tekuk dan suaranya yang terus saja menggerutu terlihat manis di matanya.


Sangat menyenangkan bisa menggodanya. Ia terlihat kesal, tapi aku malah tersenyum melihat kekesalannya itu. Astaga, wanita sungguh telah membuatku bergantung padanya.


"Menyingkir lah, aku tidak ingin berdebat dengan mu saat ini," Siska mendorong tubuh Arga yang masih berada sangat dekat dengannya.

__ADS_1


Namun dorongan itu tidak berpengaruh di tubuh Arga. Posisi mereka tetap tidak berubah dan Arga semakin gemas melihat tingkah Siska yang masih terlihat kesal itu.


"Apa anak kita disini baik-baik saja?" Arga meletakkan tangannya di perut Siska yang terasa kencang dan sedikit keras.


"Tidak, katanya dia membencimu,"


"Benarkah?" Arga mengubah ekspresi wajahnya seakan terkejut. Namun senyuman kecil di sudut bibirnya tak bisa ia hilangkan.


"Kalau begitu aku harus membuat bayi kita tidak membenciku lagi," Arga menjatuhkan tubuh Siska hingga sepenuhnya bersandar di permukaan sofa.


"A-apa? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Siska saat melihat Arga semakin mendekati wajahnya.


"Tentu saja melanjutkan yang tertunda,"


Arga tersenyum simpul dan tanpa aba-aba menenggelamkan bibirnya mencari kehangatan dari belahan bibir Siska yang menjadi candu untuknya.


Siska melingkarkan tangannya di leher Arga membiarkan pria itu bermain sepenuhnya di bibirnya. ******* kecil semakin membangkitkan keinginan Arga untuk menikmati lebih. Tangannya mulai bergerilya membelai lembut punggung leher Siska. Tangannya semakin turun membuka resleting dress yang di pakai Siska namun tangan Siska seketika menahannya.


Arga melepaskan tautan di bibir mereka. Ia menatap pasrah saat Siska telah dengan tajam melarang pria itu lewat tatapan matanya.


"Aku tidak bisa memberikan lebih dari ini."


"Tapi..., kita bahkan telah melakukannya sebelumnya Sis," wajah Arga berharap belas kasihan dari wanita yang kini dalam kungkungan nya.


"Saat itu kamu yang memaksaku," dengus Siska sembari mendudukkan kembali tubuhnya ke sofa.


"Kan sama aja sayang, bahkan sekarang disini sudah ada bibit kita," bujuk Arga sembari mendekatkan wajahnya di bahu Siska dan mengecup singkat bahu Siska yang memakai lengan setengah terbuka.


"Tidak, aku butuh komitmen dari mu. Nikahi aku atau tidak akan ku berikan sama sekali," jawab Siska halus dan penuh penekanan.


Shit! kapan dekorasi pesta itu selesai! jika seperti ini terus mana bisa aku menjenguk bayi ku setiap malam.


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2