
Siska mengikuti jari telunjuk Arga yang menunjuk kearah lampu tidur di atas meja di samping tempat tidurnya. Seakan telah berburuk sangka, Siska hanya menunduk lemah. Sejak kejadian yang dialaminya karena perbuatan Erwin membuat dia menjadi Gadis yang sangat sensitif dan paranoid.
"Maaf.."
[EPISODE SEBELUMNYA]
FLASHBACK
Setelah tak berhasil bertemu dengan Laili, Arga ingin kembali pergi menuju Jakarta. Karena pria itu tau pasti jika Laili sudah pulang terlebih dahulu. Arga bergegas kembali malam itu dan pergi menuju bandara. Perjalanan menuju Yogyakarta-Jakarta menggunakan pesawat hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam setengah.
Langkah Arga terhenti saat melihat Siska yang tertidur di sofa ruang tamu. Tidurnya terlihat sangat pulas, berkas-berkas yang di kerjakan ya masih tercecer di meja ruang tamu.
"Kenapa dia tidak pergi tidur di kamarnya!" gumam Arga dalam hati.
****
Siska merasa bersalah karena berburuk sangka pada Arga. Dia melihat wajah Arga babak belur,luka di bawah mata dan di sudut bibirnya. Bahkan salah satu tangannya terlihat terluka seakan pria itu baru saja memukul benda keras berkali-kali.
"Apa yang terjadi dengannya? kemana saja pak Arga pergi?" pikir Siska tanpa bersuara.
"Maaf, saya hanya sedikit takut jika.."
"KAMU TAKUT PADAKU? APA SEMUA WANITA MERASA TAKUT DENGANKU? APA AKU TIDAK PANTAS UNTUK BAHAGIA?" ketusnya yang terlihat marah. Tatapan dinginnya yang menusuk membuat Siska memejamkan matanya ketakutan. Tak ada suara yang keluar dari mulut Siska. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam di lipatan kakinya.
Arga melihat Siska semakin takut padanya. Perasaannya bercampur aduk. Ia sadar telah melampiaskan kekesalannya saat ini kepada Siska. Bahkan gadis itu tak bersalah sedikit pun. Namun rasa gengsi itu terlalu besar membuat Arga memilih untuk meninggalkan Siska sendiri sekarang.
Suara pintu yang tertutup sedikit keras membuat Siska mengerjapkan kedua matanya. Ia sudah tidak melihat kehadiran Arga lagi. Setetes air mata mengenang di sudut matanya.
Kenapa dengannya? apa perkataan ku telah melukainya? aku takut seseorang kembali berbuat buruk padaku karena trauma ini terus saja mengikuti ku.
__ADS_1
Arga pergi menuju ruang kerja. Waktu sudah lewat tengah malam. Tetapi masalah yang terjadi saat ini dalam hidupnya membuat Arga tidak bisa melupakan sejenak masalah itu.
Sebuah benda terlempar sangat keras. Arga melemparkan barang-barang di atas meja kerjanya. Dia merasa frustasi, emosinya tak bisa lagi ia bendung. Untuk kedua kalinya ia telah kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Mamanya telah pergi, dan kini Raeviga juga pergi meninggalkannya.
"KENAPA SEMUANYA TAK BISA BERAKHIR DENGAN SEPERTI APA KEMAUANKU! KENAPA!" Teriak Arga dan jatuh berlutut di atas lantai.
Di balik pintu ruang kerja Arga yang tertutup, Siska mendengar semua perkataan Arga malam itu. Salah satu tangan Siska sudah ingin membuka pintu itu dan menenangkan kemarahan Arga. Namun langkahnya seakan tersekat. Tubuhnya nampak bergetar, Siska ketakutan. Ia takut jika Arga akan menyakitinya.
Siska berdiri diam cukup lama di samping pintu Arga. Hingga suara-suara Arga dari dalam tak terdengar lagi. Siska berbalik pergi untuk kembali ke dalam kamarnya namun suara pintu yang terbuka dan suara hangat Arga menghentikannya. Tidak, tubuhnya sudah mematung disana, saat sebuah tangan meraih lengannya dan memeluk Siska erat.
"Aku lelah. aku sangat lelah menghadapi semuanya. Bisakah aku untuk istirahat saja? kenapa semuanya tak bisa berpusat padaku? apa saat ini Tuhan sedang membenciku?" Arga menenggelamkan kepalanya di bahu Siska.
Beberapa menit telah berlalu, Siska masih berdiri memeluk tubuh Arga. Namun pria itu tak bergerak sama sekali. Siska mengguncang tubuh Arga Pelan.
"Pak Arga, kamu baik-baik saja?" tanya Siska sambil sekali lagi menyentuh tubuh Arga agar sedikit menjauh darinya.
Namun Siska melihat Arga tertidur. Hembusan napasnya terdengar berat. Seakan tengah memiliki beban berat dalam hidupnya.
"Apa yang kamu lakukan sejak pagi? kenapa bisa seperti ini." seru Siska pelan.
Siska berjalan pergi mengambil sebuah kotak P3K. Untung saja, Siska pernah menanyakan letak peralatan pengobatan pada pelayan rumah Arga. Jika tidak, dimana dia harus mencari obat antiseptik saat waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari.
Siska mengoleskan sebuah salep untuk mengobati luka di wajah Arga. Sesekali Pria itu mengerang kesakitan saat Siska mengoleskan cairan kental bening itu di wajahnya. Kedua mata Siska turun melihat kearah lantai. Dia memperhatikan kertas-kertas dan benda lainnya yang berserakan di lantai. Tatapan gadis itu terkunci pada sebuah kotak hitam kecil yang sudah terbuka dan sebuah cincin berada di depan kotak itu. Siska memungut cincin bermata berlian itu dan memperhatikannya lama.
"Apa ini cincin milik Pak Arga?"
Siska melihat sebuah inisial A&R terukir di balik cincin itu. Siska seakan menyerukan bahwa "A" adalah huruf dengan dari nama ARGA yang terukir disana.
"R? siapa R? apa orang inilah yang membuat Arga seperti ini?"
__ADS_1
Siska melihat Arga yang masih tertidur. Ada perasaan kecewa saat melihat kenyataan pahit yang harus ia terima. Pernyataan bahwa Arga sama sekali tak pernah menyukainya. Bahkan tertarik pun tidak. Arga telah memiliki seseorang yang akan mengisi tempat di hatinya. Dan seseorang itu bukanlah dirinya.
Siska meletakkan kembali kotak cincin itu di atas meja Arga. Membersihkan kembali kekacauan yang di buat oleh Arga sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Arga.
Bersamaan dengan langkah kaki Siska menuju kamarnya,ingatan tentang pertemuannya dengan Arga, perasaannya yang mulai terguncang karena pria itu, hingga sebuah kekecewaan yang harus dia terima saat ini berlarian memenuhi isi kepala Siska.
Benar kata banyak orang, jika berani untuk jatuh cinta maka harus siap untuk jatuh.
Mengambil resiko untuk menyakiti hati.
Yang jelas-jelas cinta itu tidak bisa di miliki.
Hanya menunggu, dan berulang kali menyakiti.
Waktu terus saja bergulir, Rasa sakit semakin menyayat hati dan kamu masih ada di lain hati.
Siska menuliskan kalimat-kalinat itu di halaman terakhir sebuah buku bacaan yang pernah ia pinjam dari Arga. Seakan kalimat itu menggambarkan nyata isi hatinya yang terluka. Malam itu, Siska berharap seseorang bisa memeluknya dan mengatakan bahwa keputusan untuk mencintai sepihak tidaklah salah. Walaupun kenyataannya ia tahu bahwa itu hanya akan memberinya sakit hati.
Malam itu, dua orang dalam satu rumah sama-sama memiliki perasaan yang terluka karena cintanya. Siska tertidur dengan air mata yang menetes di wajahnya sesekali. Arga terlihat gusar dalam tidurnya, seolah mimpi memperlihatkan kembali kejadian yang menyakitkan hatinya.
Apa aku telah salah sampai detik ini? ketika perasaanku masih berharap kepadanya. Berharap suatu saat nanti pria itu akan mengatakan dengan suara lantang, "Aku mencintaimu,"
Bisakah aku mendapatkannya?
BERSAMBUNG
Hai Reader,
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
__ADS_1
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,