FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#78 : BIARKAN SISKA BERSAMAKU


__ADS_3

Namun kali ini Ekspresi wajahnya terlihat berbeda. Tidak ada kebencian melainkan sebuah tanda tanya yang masih belum terselesaikan.


"Ada apa?" suara tegas dan dingin itu mengisi ruangan dengan sorot matanya yang tak lepas menatapnya.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Erwin melangkah mendekati kursi yang berada di depan Arga. Seperti Arga, Erwin juga tak melepaskan pandangannya kepada pria yang masih duduk di kursinya itu. Seakan ada keraguan yang menyelimuti dirinya saat ini.


"Aku ingin membicarakan masalah Siska,"


Beberapa detik Arga hanya diam menatapnya. Sorot matanya tak bisa tergambarkan dengan jelas, namun yang pasti saat ini Arga menatap tak suka pada pria di depannya itu.


"Aku kau sudah tau jika Siska sudah hamil?" pertanyaan Erwin itu tetap mendapatkan kebisuan dari Arga. Tak ada jawaban dari pria itu. Namun tatapan yang kian tajam adalah respon dari pertanyaan Erwin kepadanya. Walaupun Erwin tidak menyadari maksud dari sorot mata tajam pria itu.


"Aku mendengar semua yang kamu katakan saat itu di rumah sakit."


"Lalu?" setelah beberapa detik akhirnya satu kata itu terlontar dari bibirnya. Alisnya bertautan menunggu kalimat Erwin selanjutnya.


Erwin mendekatkan langkahnya kearah Arga. Kini ia berdiri di samping Arga dengan tatapannya yang membulat sempurna.


"Biarkan Siska bersamaku, berikan wanita itu kepadaku, Arga. Bicara lah pada Sis-"


Brukkkkk


Sebuah benda keras terlempar tiba-tiba mengenai punggung Erwin. Pria itu memekik kesakitan. Bagaimana tidak, Arga meraih sebuah hiasan kayu yang ada di atas mejanya dan melemparnya tepat kearah Erwin.


"APA MAKSUDMU? KAU INGIN AKU MELEPASKAN SISKA?" Kini bukan langkah Erwin yang mendekat, melainkan Arga yang telah beranjak dari tempat duduknya dengan sorot mata yang mematikan. Kepalan tangannya telah siap untuk membabi buta pria di depannya.


"Siapa kau hingga berani meminta hal seperti itu, bajingan!" Arga mencengkeram kerah kemeja Erwin erat tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari pria itu.


Sejenak Erwin merasa takut dengan luapan amarah Arga, namun ia berhasil menstabilkan ketakutan. Erwin melepaskan tangan Arga dari kerah kemejanya dengan kasar.


"Karena aku tau, kau tidak benar-benar mencintainya? kau selalu bersikap kasar padanya kan? lalu bagaimana bisa kau mencintainya?" Kini kedua mata mereka saling beradu tatap dengan tajam.


"Sialan!" Arga mendorong kasar tubuh Erwin hingga pria itu berpindah posisi. Dalam hitungan detik kaki Arga terangkat naik dan menendang perut Erwin hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Suara gaduh yang di sebabkan oleh Arga dan Erwin membuat Lisa menajamkan pendengarannya. Ia berjalan dengan hati-hati melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan Arga.

__ADS_1


Langkah kaki Lisa telah berjarak beberapa langkah lagi. Namun Gadis itu memekik ketakutan saat tubuh Erwin tersungkur di bawah kakinya melewati pintu kaca yang terbuka karena di tahan oleh tangan Arga.


"Pergilah! Dia adalah milikku, mana mungkin aku memberikannya kepadamu!" pekik Arga,


Sorot matanya yang penuh amarah membuat Lisa tak berani menatapnya walaupun ia tak ikut campur dalam urusan mereka.


Kenapa Pak Arga sangat marah? Bukankah mereka sangat dekat? tapi kenapa mereka jadi seperti ini, apa yang sedang mereka permasalahkan.


"Huh, kau bilang milikmu? Apa kau bercanda? Mana mungkin kau menerima wanita hamil yang bahkan bukanlah darah daging mu. Aku tahu benar Arga siapa yang kau sukai, tapi saat ini Siska hanya akan bersamaku,"


Arga berdecak kesal, batas kesabarannya tak terkendali. Ia meraih krah kemeja Erwin dan memukulnya membabi buta. Namun Erwin tak hanya diam saja, saat pukulan kedua ia menangkis kepalan tangan Arga dan membalas pukulan dari pria itu.


Lisa seketika berteriak ketakutan. Namun kedua pria itu sama sekali mengabaikannya. Kemarahan telah menggelapkan segalanya Beberapa pegawai datang saat mendengar teriakan Lisa yang cukup memekakkan telinga itu. Mereka terkejut dengan perkelahian yang tak biasa itu. Masih umum jika seorang pegawai terlibat perselisihan dengan pegawai lainnya. Namun mereka seketika terkejut, saat menyaksikan kedua CEO Perusahaan besar tengah berseteru tanpa ampun di depan mereka saat ini.


"Ada apa ini? tuan Arga kenapa bisa berkelahi seperti itu?"


"Cepat hentikan perkelahian mereka, apa kita membiarkan hal ini begitu saja?"


"Mana berani aku, mereka atasan kita. Kau ingin di pecat?"


Suara berbisik dari beberapa pegawai yang menyaksikan perkelahian Arga tak berani untuk melerai perkelahian mereka. Mereka hanya memandangi dalam diam dengan wajah yang penuh keterkejutan.


Suara itu seketika menghentikan perseteruan di antara kedua CEO itu. Dava yang akan membantu melerai perkelahian mereka mengurungkan langkahnya untuk mendekat.


Laili menatap keduanya penuh tanda tanya. Ia memandangi sejenak wajah Arga yang nampak terluka. Namun saat melihat wajah Erwin, pria itu sepertinya lebih banyak menderita. Luka lebam menghiasi seluruh wajahnya.


"Ada apa ini Arga? kenapa kamu mempermalukan harga diri keluargamu? Apa kamu tidak malu saat semua pegawai mu mempertontonkan tingkah memalukan kalian ini?" sambungnya,


Di belakang Laili, Lisa bernapas lega saat Mama dari pemilik perusahaan itu telah melerai perkelahian itu.


Untung saja Ibu besar datang dengan cepat. Jika tidak, mungkin salah satu dari mereka sudah ada yang meninggal.


Arga memilih untuk pergi dari tempat itu. Ia melangkah pergi melewati Laili tanpa mengatakan apapun.


"Arga! Arga, tunggu! Mama belum selesai bicara!" teriak Laili sebisanya, namun sia-sia pria itu tetap berjalan pergi tanpa berbalik menatapnya.


Laili menghembuskan napasnya dalam. Ia melihat ke sekeliling yang berdiri mengerumuni ruangan Arga. "Kalian pergilah, lanjutkan pekerjaannya," pinta Laili dan dengan cepat para pegawai.

__ADS_1


Laili menghampiri Erwin yang masih terdiam disana. "Apa yang terjadi? kenapa Arga bisa semarah itu dengan mu? Apa yang kalian permasalahkan?"


Erwin membisu, salah satu tangannya menyentuh luka yang ada di sudut bibirnya.


"Ini masalah pribadi, aku tak bisa mengatakannya. Maaf," ucapnya setelah beberapa menit dan berlalu pergi menjauh dari beberapa pasang mata yang masih memperhatikannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya," gumam Laili, sorot matanya masih memperhatikan Erwin yang semakin menjauh dari pandangannya.


Setelah bayangan Erwin tak terlihat kembali, tatapannya beralih kearah Lisa yang masih berdiri tak jauh darinya. Mengetahui Laili memperhatikannya, seketika ia menurunkan pandangannya tak berani menatap wanita parubaya itu.


"Apa yang terjadi? kamu tadi menelpon Dava tapi kamu belum menjelaskan masalah apa yang sebenarnya,"


"Saya tidak tahu Bu, saat saya datang Pak Arga sudah memukuli Pak Erwin,"


"Sudahlah, Ma. Kita akan mencari tahunya nanti, ayo pergi," ajak Dava yang kini lebih banyak diam. Wajahnya pun terlihat tak sehat sejak kehilangan Raeviga dalam hidupnya.


***


Arga mengendarai mobilnya dengan keadaan amarahnya yang masih meluap-luap. Perkataan Erwin terus saja berputar di otaknya.


"Sialan, berani sekali dia mengatakan itu di depanku," kepalan tangannya memukul badan stir beberapa kali.


Setelah beberapa menit berlalu, mobilnya berhenti di sebuah rumah kecil yang pintunya terbuka sebagian. Ia beranjak keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri rumah itu.


Arga masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu itu terlebih dahulu. Kedua matanya melihat sekelilingnya seakan mencari seseorang. Arga melangkah semakin masuk ke dalam hingga melihat seorang wanita berdiri membelakanginya tengah sibuk dengan masakannya di dapur.


Arga mempercepat langkahnya dan melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu dari belakang. Aroma wangi dari tubuh wanita itu seketika menyeruak tercium olehnya.


"Heiii!!" teriak wanita itu saat seseorang melingkarkan tangannya begitu erat. Ia berusaha melepaskan tangan pria itu dan meronta paksa untuk melepaskan.


"Ini aku, diamlah,"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,

__ADS_1


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2