FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#27 : SATU MALAM YANG BERBEDA


__ADS_3

Arga membopong Siska ala bridal style tanpa mendengarkan lebih dulu persetujuan gadis itu.


"Pak Arga, saya masih mampu buat jalan. Saya tidak nyaman dengan ini.." ucap gadis itu lirih setelah keluar dari ruangan Apartemen Erwin.


"Kamu diam saja. Apa kamu ingin menjadi tontonan dengan kondisimu seperti ini.."


"Tapi..."


"Diam saja atau aku akan meninggalkanmu disini..." peringatan Arga itu membuat Siska bungkam dan tak lagi bersuara. Sekilas, Arga menatap iba pada gadis yang dalam pelukannya saat ini.


Episode Sebelumnya


Perlahan Arga membantu Siska masuk ke dalam mobil miliknya.


"Hati-hati kepalamu.." Arga melindungi atas kepala Siska dari atap mobilnya.


"Iya.."


Arga akan masuk ke dalam mobilnya namun pegawai pribadi yang sejak tadi bersama dengan Arga menghalangi langkahnya.


"Tuan, apa kau yakin membiarkan pria itu bebas? dia bisa saja mencelakainya lagi.."


Arga nampak berpikir sejenak mengenai masalah itu.


"Sementara ini kau awasi saja Erwin. Jika kamu mendapati gerak-geriknya yang mencurigakan kamu segera memberitahuku.." pesan Arga sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Baik tuan.."


Dalam perjalanan Arga sekilas melihat kearah wanita yang duduk di sampingnya saat ini.


"Bukankah seharusnya kamu melaporkan Erwin?" tanya Arga penasaran dengan apa yang di pikirkan Siska.


"tidak perlu"


"Erwin melakukan semua itu karena dendamnya pada Ayahku. Aku bisa mengerti, kepahitan di masa lalu-nya telah membuat trauma sendiri bagi Erwin. Aku harap setelah ini dia bisa memaafkan semua luka yang pernah ia alami.." lanjutnya sambil menatap lurus ke jalanan.


Sejenak Arga terpana dengan pemikiran Siska yang nampak dewasa dari usia sebenarnya. Terlihat senyum tipis di bibirnya saat melihat ekspresi Siska yang nampak tangguh. Tak terlihat lagi sorot mata ketakutan di wajah gadis itu.


"Ini bukan jalan rumahku.." Siska memperhatikan jalanan yang sangat berlawanan dengan tempat tinggalnya.


"Kita akan pergi ke rumahku. Bagaimana jika Erwin melukaimu lagi.." ucapnya menunggu jawaban Siska.


"Itu mungkin saja. Tapi aku akan baik-baik saja.." tolaknya halus dan meminta Arga untuk mengantarnya pulang.


Arga menghentikan mobilnya di sisi jalan tiba-tiba membuat gadis di sampingnya itu sedikit terkejut.

__ADS_1


"Kamu Polos atau bodoh? kejadian seperti tadi apa kamu masih bisa menanggapinya baik-baik saja?" Arga nampak kesal dengan jawaban Siska.


"Maksudku.. aku hanya tidak ingin merepotkan anda lagi pak Arga.."


"Kamu sudah merepotkan ku sejak kamu meneleponku tadi.." Arga melihat sekilas kearah gadis itu yang terlihat lesu.


"Maaf telah menyusahkan anda. Maka dari itu saya.."


Arga memotong ucapan Siska dan tak ingin gadis itu meneruskan perkataannya.


"Sudahlah perkataan mu itu membuatku tidak nyaman. Intinya untuk sementara waktu kamu akan tinggal denganku" Arga kembali melajukan mobilnya dan berjalan beriringan dengan kendaraan lainnya.


"Kenapa anda menolongku begitu banyak?" Siska memandangi wajah Arga yang terlihat fokus dengan kemudinya.


"Karena..." Arga nampak berpikir lama untuk mengatakan alasannya pada Siska. Sedangkan gadis itu sudah menantikan jawaban Arga.


"Itu.. Karena kamu adalah pegawai ku. Atasan yang baik bukankah harus menolong pegawainya. Seperti itulah.." ucap Arga gugup dengan pertanyaaan Siska yang di luar perkiraannya.


"Kamu menanyakan hal itu kepadaku. Aku pun juga tak tau kenapa ingin menolong dirimu Bukankah seharusnya aku lebih baik menemui Raeviga. Kenapa aku harus menolongnya? Hanya saja ada perasaan tak nyaman saat aku harus meninggalkanmu seperti ini. " batin Arga tanpa menatap wajah Siska yang saat itu terlihat memperhatikannya diam-diam.


"Kenapa menatapku seperti itu? kau tau kan,jika pegawai tidak boleh memiliki perasaan kepada atasannya" ucap Arga saat memergoki Siska yang mencuri tatap padanya.


"Hmmm? saya..saya tidak sedang menatap anda.." wajah Siska tersipu malu dengan pertanyaan yang di lontarkan Arga. Ia sedikit gugup saat menjawab pertanyaan pria di sampingnya itu.


"Lagipula.. sejak kapan ada peraturan seperti itu? saya tak pernah membacanya.."


"Tentang.. tak di perbolehkan menyukai atasan di tempat kerja. Kurasa tidak ada peraturan seperti itu di kantor.." Siska mengingat kembali aturan-aturan perusahaan yang pernah di bacanya saat perjanjian kontrak kerja.


Arga menghela napas kesal pada gadis di sebelahnya.


"Ada, mulai detik ini peraturan itu berlaku. Dilarang memiliki perasaan suka melebihi hubungan pegawai-atasan." Arga mengulang kembali peraturan baru yang di buatnya.


"Tapi kan.." Siska akan membantahnya lagi namun tatapan Arga yang telah terlihat kesal itu membuat nyalinya hilang.


"Baiklah.." jawab Siska ragu setelah beberapa detik.


*****


Dava masuk ke dalam Bar dengan kondisi hatinya yang tak baik-baik saja. Semua hal yang menjadi pilihannya tak berjalan dengan baik. Keluarga yang utuh, wanita pilihannya semuanya tak bisa berjalan dengan mulus sesuai rencananya.


"Apa yang akan anda minum tuan?" tanya salah seorang pelayan yang menghampiri meja Dava.


"Terserah kau. Apapun asal membuat rasa kecewa ini hilang.." Dava menyentuh dadanya yang terasa sakit.


Beberapa detik Pelayan itu nampak bingung sebelum kemunculan Sekar yang tak lama datang.

__ADS_1


"Berikan kami 2 gelas vodka sekarang..." pinta Sekar yang berdiri di belakang Dava dan mengelayutkan tangannya di bahu pria itu.


Dava membiarkan wanita itu. bermain-main dengan tubuhnya bahkan hingga pelayan Bar menyajikan minuman yang di atas mejanya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Sekar berbisik di telinga Dava manja.


"Kakakku.."


"Ada apa dengannya? Apa dia mengusir mu lagi?" pertanyaan Sekar itu tepat pada inti permasalahan yang sedang Dava pikirkan sekarang.


"Aku tak mengerti dengan pemikiran Kak Arga. Kenapa dia begitu benci denganku? Mamaku bukanlah penyebab kematian Ibunya. Aku pun tak pernah meminta hak atas warisan yang di berikan Papa padaku. Aku juga telah mengorbankan diriku pada pernikahan perjodohan ini. Tapi kenapa dia tetap membenciku.." keluhnya menumpahkan seluruh pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri. Pria itu mengambil segelas minuman di depannya dan meneguknya tanpa jeda.


"Kenapa kamu terus saja memikirkan hal itu. Bukankah selama ini kamu bisa mengatasinya. Lupakan semua itu dan jalani seolah kamu tak mengerti apapun.." ucap Sekar yang telah memeluk tubuh Dava dari belakang. Sekar menyentuh wajah Dava dan sedetik kemudian mencium mesra bibir Dava.


"Apa kamu menghibur diriku dengan memberikan tubuhmu?" tanya Dava saat mereka melepaskan tautan di bibir mereka.


"Kenapa tidak? bukankah selama ini kamu menikmatinya?" Sekar duduk di pangkuan Dava dan menatapnya penuh hasrat.


"Apa kamu benar-benar akan menikahi gadis dalam perjodohan itu?" tanya Sekar lagi pada Dava.


"Hmmm.." jawab pria itu singkat.


"Apa kamu tak mencintaiku? apa kamu akan menduakan ku?" tanya Sekar lagi membuat Dava menatap wajahnya.


Dava menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Sekar.


"Cinta bagiku hanyalah mitos. Hatiku terlalu beku untuk memulai hal-hal seperti itu. Bukankah selama ini aku melakukannya untuk memenuhi kebutuhan hasrat ku?"


"Kau benar. Tapi apakah setelah menikah kau tidak lagi menyentuhku?"


"Kamu yang terbaik dalam melakukan 'servis malam' untuk apa membutuhkan wanita lain?" jawab Dava dengan senyumnya yang menyeringai.


"Apa kamu membutuhkanku malam ini?nampaknya kamu perlu melampiaskan emosimu.." Sekar membelai wajah Dava dengan tatapan menggoda.


"Tidak, pergilah. Saat ini aku tak ingin mengotori tubuhku"


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


Terima kasih,

__ADS_1


Happy Reading Gaes


__ADS_2