
Jadi kamu sudah berubah pikiran? ternyata mudah sekali membuatmu goyah" goda Arga sembari menjalankan mobilnya lagi.
Siska tak mengatakan apapun. Dia tak ingin berdebat dengan orang seperti Arga. Hari ini dia harus kembali ke rumah kontrakannya dan mengambil dompetnya yang tertinggal disana.
Haruskah aku tinggal sementara di rumah Raeviga?
[EPISODE SEBELUMNYA]
Mobil Arga berhenti tak jauh dari tempat perusahaannya. Ia memberi isyarat kepada Siska untuk turun dari mobilnya.
"Kenapa gak turun?" tanya Arga pada Siska yang hanya membalas memandanginya tanpa sebab.
"Kenapa saya harus turun sini?"
"Karena aku gak mau ada pegawai lain yang bergosip tentang kamu dan aku. Mengerti? cepatlah turun"
"Memang apa yang ingin mereka gosipkan? Hubungan kita gak lebih dari atasan dan pegawai"
Arga mendengus kesal. Siska terlalu lama bicara dan waktu kerjanya kini harus berkurang banyak karenanya. Bukan karena pegawai lain, tapi lebih tepatnya adalah Raeviga. Arga tak ingin Raeviga mengetahui jika Raeviga berprasangka buruk tentangnya. Walaupun saat ini Raeviga masih membencinya. Namun ia yakin suatu saat nanti Raeviga akan luluh oleh hatinya.
Seolah kehadirannya tak di harapkan lagi oleh Arga. Siska keluar dari mobil Arga dengan berwajah muram. Ia masih ingin menikmati AC Mobil Arga yang dingin dan saat ini ia harus panas-panasan kembali seperti biasanya.
Raeviga yang baru saja akan berangkat bekerja bertemu dengan Siska di jalan. Ia membunyikan klaksonnya dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Siskaaa!" panggil Raeviga sedikit keras karena suara kendaraan yang berlalu lalang.
"Rae? apa kamu juga akan berangkat kerja?" tanya Siska yang menghampiri Raeviga dengan mobilnya itu.
"Iyaa. Yuk bareng"
"Gak nolak.." ucap Siska senang dan masuk ke dalam mobil Raeviga tanpa segan.
"Kok tumben jalan kaki? biasanya kan pake ojol atau angkutan umum.."
"Hmmm..tadi nebeng sama seseorang tapi turunnya disana.."
Raeviga melihat Siska sekilas. "Siapa Erwin?"
"Bukan" jawab Siska singkat. Dia merasa malas untuk membahas pria itu.
"Kenapa kalian marahan ya? kemarin Erwin sempat menelponku. Dia mencari mu, karena mungkin saja saat itu kamu bersamaku.." jelas Raeviga yang belum mengetahui cerita di balik perdebatan Erwin dan Siska.
"Aku hanya tidak ingin membahasnya" ucap Lirih. Kejadian malam itu masih membekas begitu dalam di ingatannya.
__ADS_1
"Katanya kemarin dia baru saja melamarmu. Jadi kalian tunangan sekarang. Kenapa kamu tidak memberitahuku sama sekali.."
Siska tak mengerti dengan ucapan Raeviga. Kejadian saat itu bukanlah sebuah lamaran bagi Siska. Itu adalah sebuah ancaman untuk hidupnya.
"Apa saja yang Erwin bicarakan denganmu?" tanya Siska penasaran. Seberapa banyak Erwin mengarang cerita atau membuat alibi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Hanya itu saja. Dia hanya berpesan jika melihatmu kapan saja segera memberitahukannya.." ucap Raeviga santai.
Raut wajah Siska seketika sangat takut. Erwin benar-benar akan menguntitnya.
Dia pria gila. Psikopat. Aku membencinya..
"Sis, kamu kenapa?" tanya Raeviga cemas saat melihat Siska nampak ketakutan. Gadis itu menepikan mobilnya dan menyentuh bahu Siska.
"Apa yang terjadi? kamu baik-baik saja? Sis..apa kamu ada masalah?"
"Jangan beritahu keberadaan ku pada Erwin, Rae. Aku takut.."
"Aku tidak akan mengatakan apapun. Sekarang jelaskan apa yang terjadi padamu. Apa Erwin telah melukaimu?" tanya Raeviga penasaran. Wajah Siska seketika pucat pasi.
"Aku.. aku akan menceritakan ini nanti. Bisakah kamu membantuku untuk membawaku pulang? Aku ingin istirahat" pinta Siska pada teman baiknya itu.
"Tentu, aku akan memberitahukan pak Arga jika kamu ijin hari ini. Istirahatlah. Jika nanti kamu sampai, aku akan membangunkan mu.." Raeviga mulai mengambil jalur putar balik dan pergi menuju tempat kontrakan sederhana Siska.
Siska memejamkan kedua matanya dan berharap kejadian itu tak lagi membayanginya.
Arga telah menunggu kedatangan Raeviga sedari tadi. Sebuah kotak cincin telah ia persiapkan dengan sangat baik. Dia sangat gugup menunggu kedatangan Raeviga di kantornya. Namun tak seperti yang ia bayangkan. Raeviga tak kunjung datang. 30 menit telah berlalu sejak jam kerja di mulai pukul 8 pagi.
"Kemana Raeviga pergi? Apa dia hari ini ijin?" ucapnya sendiri. Jemari Arga mulai mengetik beberapa angka di telepon khusu perusahaannya.
"Halo Lisa, bisakah kamu hubungi Raeviga sekarang. Kenapa dia belum juga masuk kerja hari ini..."
"Baik Pak. Apakah saya perlu telepon Siska juga pak? Karena Siska juga belum datang bekerja sekarang"
Arga mengerutkan dahinya bingung. "bukankah tadi dia sudah dekat dengan perusahaan. Seharusnya sejak tadi dia sudah datang. Kenapa perginya gadis itu.."
"Aku akan menghubungi Siska sendiri. Kamu hubungi saja Raeviga sekarang."
"Baik pak"
Arga mengambil ponsel pribadinya dan mengetik nama Siska di kolom pencarian kontak.
"Sial, aku lupa menyimpan nomornya"
__ADS_1
Arga kembali menelpon sekretarisnya hanya untuk meminta nomor pribadi Siska.
"Kenapa bos Arga sangat aneh sekali. Kenapa tadi tidak sekalian aku telepon juga. Memang punya bos aneh itu susah" gerutu Sekretaris Arga yang menunggu panggilannya di terima oleh Raeviga.
Raeviga telah mengantarkan Siska untuk masuk ke dalam rumahnya. Ponselnya masih tertinggal di dalam mobil.
"Sis, kamu yakin tidak disini sendiri?" tanya Raeviga khawatir.
"tidak apa. Aku hanya ingin istirahat sebentar."
"Baiklah. Kalo begitu aku pergi dulu. Hubungi aku jika ada apa-apa"
Siska mengangguk lemah mengiyakan.
"Jangan lupa buat kunci pintu" pinta Raeviga sebelum pergi.
Siska membenarkan ucapan Raeviga. Ia berjalan perlahan untuk mengunci pintu rumahnya. Namun sesuatu menahan pintu itu saat Siska ingin menguncinya.
Pintu kembali terbuka karena seseorang menariknya dari luar.
"Erwin? Apa yang kamu lakukan disini?" teriak Siska nampak takut melihat sosok di depannya.
"Hey Sis. Ini aku Erwin. Kenapa kamu harus takut denganku. Aku pacarmu kan.."
Siska semakin berjalan mundur ketika Erwin melangkah mendekatinya.
"Berhenti! Jangan mendekat. Aku akan teriak hingga seseorang akan datang kesini." ancam Siska dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya.
Erwin tertawa kecil. "Aku tidak takut Siska. Teriak saja.."
"Tolonggg!!"
Erwin mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan dengan cepat membius Siska hingga tak sadarkan diri. Obat Bius itu sangat bekerja di tubuh Siska. Erwin memperhatikan lingkungan sekitar Siska yang masih terlihat sepi. Ia segera membawa Siska masuk ke dalam mobilnya. Erwin kembali masuk ke dalam untuk mengambil kunci rumah dan menguncinya dari luar.
Arga mencoba menelpon Siska namun panggilan telepon itu sia-sia. Siska sama sekali tidak mengangkat teleponnya.
"Kemana gadis itu pergi? haruskah aku mencari? Akh tidak, hari ini adalah hariku untuk melamar Raeviga.."
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) JANGAN LUPA BUAT SUBSCRIBE AKUN NOVEL CARAMELLOW
__ADS_1
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,