FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#84 : APA SEMALAM BELUM PUAS?


__ADS_3

"Terima kasih sayang, malam ini aku sudah puas menjenguk bayi kita. Katanya, dia sehat. Besok malam dia ingin aku menjenguknya lagi," ucapnya di sisi telinga Siska dan membuat wanita itu kembali membuka kedua matanya melebar.


"Kau gila!" celetuknya seketika membuat Arga terkekeh geli melihatnya.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Sang mentari telah datang ke tempat peraduannya. Cahayanya membiasi langit-langit kamar seakan memberitahu penghuni kamar itu untuk segera bangun dari tidur panjangnya. Siska membuka kedua matanya perlahan dan merasakan sesuatu merengkuhnya sangat erat hingga membuatnya merasa sesak.


Sorot matanya menatap lekat pria yang telah menyetubuhinya semalam. Masih ada sisa butiran keringat di dahi pria itu. Entah berapa jam mereka habiskan untuk pergumulan panas itu, namun yang Siska tahu pasti saat ini adalah rasa nyeri yang teramat di antara pangkal pahanya. Walaupun percintaan ranjang itu bukanlah pertama kalinya untuk Siska namun rasa nyeri yang menusuk hingga tulang belakang itu masih sangat terasa baginya.


Siska tak ingin lekas beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih sangat malas untuk bangun. Ia pun juga sangat lelah, entah mengapa ia harus terbangun sepagi ini. Siska memperhatikan wajah Arga yang terlihat tidur dengan nyaman. Selimut yang menutupi tubuh mereka sedikit tersingkap hingga memperlihatkan otot perut one pack milik Arga.


Seakan terbesit pikiran usil, Siska memainkan otot perut Arga dengan menusuk-nusuknya dengan jari telunjuk. Sesekali bibirnya melengkung membentuk senyuman saat Arga merasa terganggu dengan dan menggeliat karena ulahnya. Hingga Siska tak menyadari jika beberapa menit terakhir, Arga telah terbangun dari tidurnya karena ulah usil Siska itu.


"Apa masih belum puas semalam? sekarang kamu ingin menggodaku lagi untuk melakukannya?" suara berat dan sedikit serak dari Arga seketika mengejutkan Siska yang terlihat nyaman bermain dengan otot-otot perut suaminya.


"Bangunlah, ini sudah siang," Siska menarik selimut yang mereka kenakan sehingga menutupi seluruh tubuhnya yang masih polos tanpa busana. Hanya menyisakan kepalanya yang menyembul keluar dengan senyum tertahan.


Arga tersenyum penuh maksud. Ia menarik tubuh Siska hingga tak menyisakan jarak di antara mereka. Arga menyibakkan beberapa helai rambut Siska yang menghalanginya untuk memandangi wajah wanita itu lebih jelas.


"Kenapa kamu menyuruhku untuk bangun? apa kamu ingin melakukan ronde kedua seperti yang kita lakukan semalam?" sudut bibir Arga terangkat naik melihat wajah Siska yang kian merona karena ucapannya. Arga semakin menggoda Siska dengan beberapa kata rayuan mematikan yang membuat wanita itu menggelengkan kepalanya saat mendengarnya.


"Tidak masalah jika tak ingin bangun. Kemari kan selimutnya, aku ingin pergi ke kamar mandi," Siska menarik paksa selimut yang juga menutupi tubuh telanjang Arga itu. Walaupun mereka telah saling melihat bahkan juga telah merasakan, namun Siska masih sangat malu saat Arga melihat tubuh polosnya.

__ADS_1


Tak membiarkan Siska pergi begitu saja, Arga menahan selimut yang akan di pakai Siska untuk menutupi tubuhnya. Arga merangkak naik ke tubuh Siska yang saat itu masih dalam posisi terlentang. Tangannya mulai bergerilya masuk ke dalam selimut yang menutupi sebagian tubuh Siska.


"Ap-apa? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Siska saat telah merasakan sentuhan tangan Arga yang berada di tubuhnya yang tertutup oleh selimut.


Sejenak Arga menatap lekat-lekat wajah wanita yang kini menyembulkan rona merah di kedua pipinya. Sebelum kemudian ia membenamkan sebuah ciuman panas di belahan bibir istrinya yang terlihat begitu mendamba.


Tidak ada penolakan dari Siska. Wanita itu justru menikmatinya, terlebih lagi saat bibir Arga mulai menjelajah punggung leher jenjang Siska yang masih memperlihatkan kissmark yang ia sebabkan semalam.


Tangan Arga yang telah menyusup dalam balutan selimut Siska semakin berjelajah naik hingga menemukan sesuatu yang sejak tadi di incarnya. Ciuman sepihak itu membangkitkan suhu panas di sekujur tubuh Siska. Suara erangan-erangan kecil lolos dari bibir Siska hingga menciptakan gairah Arga semakin bertambah.


"Tuan Arga, Nyonya Siska. Apa kalian sudah bangun? Sarapan sudah saya sajikan di atas meja makan," seruan Bi Minah membuat kegiatan panas yang mereka lakukan seketika terhenti.


"Arga, Bi Mi-nah memanggil...kita," ucap Siska dengan napasnya yang masih tak bisa ia kendalikan.


"Biarkan saja," Arga kembali mendaratkan ciumannya di bibir merah delima istrinya. Kini ciuman itu seakan menuntut untuk mendapatkan balasan. Sesaat Siska membalas ******* di bibir Arga walaupun tak selihai yang di lakukan suaminya.


****


Percintaan yang terjadi di antara mereka beberapa jam yang lalu di akhiri dengan sebuah ******* kecil di bibir Siska. Sesaat Arga membenamkan tubuh Siska dalam dekapannya. Deru napas berat keduanya masih terdengar jelas, dada mereka mengembang kempis, saling berebut oksigen supaya pernapasan mereka kembali teratur.


Siska merenggangkan pelukannya di tubuh suaminya saat merasakan perutnya yang terasa lapar. Ia mengganti posisinya menjadi duduk dengan tangan Arga yang masih berusaha menahannya.


"Aku sangat lapar, jika kamu terus-terusan melakukannya tanpa memberiku makan, maka tak lama lagi nyawaku akan melayang," keluh Siska sembari menjauhkan tangan Arga dari perutnya.

__ADS_1


"Aku hanya memelukmu, sayang. Kenapa harus marah," Arga mendudukkan tubuhnya di atas kasur dan meletakkan tangannya di pipi Siska yang terlihat sedikit murung.


"Karena aku lapar. Anak kita juga butuh makan, tidak hanya menjenguknya saja," gerutunya dengan manja. Sikapnya itu semakin membuat Arga gemas melihatnya. Ingin rasanya ia terus merengkuh tubuh Siska dalam pelukannya dan memandangi wajah cantiknya tanpa jeda. Arga meringis geli saat pikiran kotornya itu menyusup masuk ke otaknya.


Arga melihat Siska akan beranjak dari tempat tidurnya, namun tangannya lagi-lagi menahan wanita itu untuk pergi.


"Istirahatlah, aku yang akan mengambilkan makanan untuk kamu," Arga mengambil celana dan kaos putih polos dari lemarinya sebelum melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


Siska memandangi tubuh Arga yang kini tak terlihat lagi. Ia beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Siska mendesis kesakitan saat rasa nyeri di bagian bawah sana yang masih ia rasakan saat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Sakit sekali," gumamnya tanpa bersuara.


Siska telah membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar dan telah menggenakan midi dress dengan panjang medium selutut. Beberapa menit berlalu, Arga kembali masuk ke dalam kamarnya membawa nampan makanan yang berisi sarapan pagi dan juga segelas susu hangat untuk Siska dan beberapa potongan buah sebagai makanan penutup.


Arga meletakkan nampan itu di atas pangkuan Siska yang sudah duduk di sisi tempat tidur.


"Kelihatannya sangat enak," puji Siska saat kedua matanya melihat kearah makanan yang di bawakan oleh Arga.


"Makanan lah yang kenyang. Karena kamu butuh tenaga lebih untuk..,"


"Diamlah," potong Siska tanpa mendengarkan kelanjutan dari ucapan Arga karena Ia tahu benar apa yang saat ini sedang suaminya pikirkan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


__ADS_2