
Siska semakin di buat penasaran. Namun ia tak dapat melakukan apapun. Arga sama sekali tak ingin memberitahunya.
Kemana dia akan membawaku pergi? pria itu sangat menjengkelkan. Lihatlah pakaiannya, untuk siapa dia berpakaian seperti ini. Sungguh, hari ini sangat menyebalkan. Semua itu karena ulah pria ini. Entah apa yang sedang ia sembunyikan dari ku.
EPISODE SEBELUMNYA
Menghabiskan beberapa menit untuk Arga membawa Siska ke tempat rahasia yang telah ia persiapkan. Decitan ban mobil yang bergesekan dengan badan aspal tiba-tiba berhenti di sebuah gedung mewah yang terlihat sangat luas. Siska yang masih terlihat kesal tak menyadari dengan tempat di sekelilingnya. Sejak beberapa menit berlalu tatapannya hanya tertuju pada Arga.
"Kenapa berhenti? apa sudah sampai?" keluhnya dengan sikapnya tak acuh.
"Sudah, kenapa kamu masih marah. Setelah ini aku yakin kamu tidak akan marah lagi," Arga menggerakkan telapak tangannya di pipi Siska dan mencubitnya pelan merasa gemas.
"Ayo keluar, kita sudah di tunggu sejak tadi,"
Arga akan membuka pintu mobilnya namun dua orang pria dengan tubuh tegap datang menghampiri mobil Arga dan membantu membuka pintu mobil itu.
"Silakan tuan," serunya sopan dengan kepalanya yang setengah menunduk. Bak seorang pengawal yang sedang melayani sang pangeran yang turun dari kereta kencana.
Pun begitu pula dengan Siska, pria tegap berseragam hitam membuka pintu dengan senyum ramah untuknya. "Silakan Nyonya, kedatangan anda telah di tunggu,"
Siska mengernyitkan kedua alisnya bingung. Arga masih berdiri di depannya. Ia mengapit tangan Siska dan melingkarkan di lengannya.
"Ayo masuk, apa yang kamu tunggu?" tanya Arga dengan seringai khas di bibirnya.
"Apa ada acara penting? kenapa kamu tidak memberitahu ku dulu? aku bahkan belum mengganti pakaian kantorku," Siska menahan langkah Arga yang akan menuntunnya masuk.
"Semua sudah di siapkan, jangan khawatir,"
"Tapi...,"
Arga memberikan isyarat lewat kedua matanya dengan tegas. Ia menggerakkan bola matanya kearah Gedung yang berdiri tegak di depan mereka saat ini. "Jangan banyak bicara, ayo masuk dan kamu akan tau nanti,"
Siska mengangguk pasrah, tidak ada untungnya untuk terus berdebat dengan Arga saat ini. Yang perlu ia lakukan hanyalah mengikuti kemana pria di sampingnya ini membawanya pergi.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menuju gedung yang telah di hias sangat indah itu. Bahkan sebuah ucapan selamat datang tertulis sangat jelas di karangan bunga papan yang berjejer rapi di samping pintu.
Namun perhatiannya seketika tertuju pada sebuah karangan bunga lain yang bertuliskan
...Happy Wedding...
...Arga & Siska...
Siska seketika mengarahkan tatapannya pada Arga yang terlihat percaya diri. Tangannya yang bersembunyi di balik punggung Siska kembali mengeratkan pelukan. "Ada apa? kenapa kamu terus menatapku seperti itu? lihatlah ke depan, jika tidak kamu akan jatuh," bisik Arga dengan kedua matanya yang masih menatap lurus ke depan.
"Apa semua ini? kenapa ada nama kita disana?" tunjuk Siska pada karangan bunga yang di lihatnya tadi.
"Selamat pagi Tuan Arga, Nyonya Siska. Silakan masuk ke wardrobe room untuk mengganti pakaian yang telah di siapkan oleh desainer berbakat kami," seorang wanita dengan gaya rambut Messy bun layaknya pramugari dengan sopan menunjukkan ke sebuah ruang ganti yang letaknya berada di lantai 2.
Siska mengedarkan tatapannya melihat dekorasi gedung yang terlihat sangat megah. Di bagian tengah paling ujung nyala terang dari lampu pelaminan memperlihatkan sebuah dekorasi yang sangat elegan dengan sentuhan klasik di beberapa ornamennya. Hiasan bunga mawar putih yang mengelilingi pelaminan itu semakin mempercantik tampilannya.
Siska begitu terpesona dengan dekorasi mewah yang kini di lihatnya. Arga yang masih berdiri di samping seakan menikmati ekspresi wajah Siska yang terlihat sibuk mengagumi keindahan dekorasi dari pelaminan itu.
"Gaun pernikahan?" tanya Siska mengulangi apa yang baru saja ia dengar. Ia sama sekali tidak memahami dengan situasinya saat ini. Siska membuang tatapannya kearah Arga dengan cepat. Ia membutuhkan penjelasan pria itu saat ini.
Seakan tahu apa yang akan di tanyakan oleh Siska, Arga lebih dulu menyela perkataan Siska yang saat itu akan membuka mulutnya untuk berbicara.
"Cepatlah ganti pakaian mu. Hari ini kita akan bersenang-senang dengan pernikahan kita. Ini adalah kejutan kecil untuk kamu, sayang." jelasnya dengan kebahagiaan yang menggebu. Bahkan ia tidak sabar untuk segera memulai acara spesial mereka.
"Maksud kamu.. ini adalah pernikahan kita? Kamu menyiapkan ini semua untuk pernikahan kita?" Siska tak hanya merasa kagum, namun ia juga merasa sangat bahagia saat melihat Arga menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Siska.
Tanpa di minta Siska menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Arga. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu hingga bisa mendengar suara jantung Arga yang berdetak menjadi satu dengan miliknya.
"Ini adalah kejutan yang sangat mengesankan dalam hidupku. Terima kasih Arga, terima kasih kamu telah bersedia untuk melewati kehidupan baru mu denganku,"
Arga mengeratkan pelukannya dan mencium lama dahi Siska hingga beralih pada kedua pipi wanita itu. Tak membutuhkan waktu lama, semburat rona merah di wajahnya terlihat setelah ciuman itu berakhir.
Arga melepaskan pelukannya dari tubuh Siska. Ia menyingkap rambut Siska yang menghalangi wajah kekasihnya yang tertutup oleh beberapa helai rambut.
__ADS_1
"Cepatlah ganti bajumu cantik, jika tidak kita akan meneruskan pernikahan ini dengan baju kantormu. Sebentar lagi tamu undangan akan segera berdatangan,"
Siska mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka membawa Siska ke ruang wardrobe di lantai atas untuk mengganti pakaiannya. Begitu pula dengan Arga yang akan mengganti Setelan Jasnya yang akan berwarna senada dengan gaun Siska yang berwarna putih.
"Nyonya, ini adalah Gaun Pernikahannya. Apakah kamu menyukainya?"
Sebuah Gaun berwarna putih menjuntai panjang yang terbuat dari kain sutera dan tambahan hiasan berlian di bagian dada.
"Ini sangat cantik. Benarkah gaun ini yang akan aku gunakan?" Siska berjalan memutari manekin yang dibaluti oleh gaun pernikahannya.
"Tentu saja, ini milik kamu. Tuan Arga sendiri yang telah memilih gaun ini untuk kamu. Mari saya akan membantumu untuk memakainya,"
****
Arga telah siap dengan setelan jas putihnya dengan dasi kupu berwarna merah dan kemeja putih yang berada di bagian dalam. Beberapa tamu undangan telah banyak berdatangan. Arga menunggu dengan tak sabar menanti kehadiran calon istrinya yang masih berada di ruang rias.
Seorang wanita menepuk pelan bahu Arga yang saat itu hanya memperhatikan anak tangga menunggu kedatangan Siska. Seketika Arga memperlihatkan tatapan tajam kepada wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Arga, terima kasih kamu masih ingin Mama datang di acara pernikahan kamu," seru Laili sembari menatap penuh harap pada Arga.
"Jangan terlalu senang, aku melakukannya hanya sebagai formalitas," jawab Arga dingin dan pergi meninggalkan Laili yang masih berdiri di tempat yang sama.
Mama yakin, suatu hari nanti kamu akan menerima kehadiranku, Arga. Karena Mama tahu, kamu hanya marah, tapi sebenarnya hatimu sangatlah baik.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1