Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Tidak Ingin Egois


__ADS_3

"Tidur dan istirahat yang cukup," kata Juan.


"Mau kemana?" tanya Sahara saat melihat suaminya beranjak dari sisi brankar yang didudukinya.


"Nadien sedang membutuhkanku," jawab Juan.


"Tapi aku tidak mau sendiri, ruangan ini menyeramkan menurutku. Setidaknya temani aku sampai aku benar-benar tidur." Pinta Sahara dengan air mata yang mulai menganak sungai.


Juan belum tahu sifat Sahara, bagaimana keseharian istrinya itu. Apa dia wanita manja atau mandiri, tapi jika dilihat dengan seksama, Sahara wanita kuat. Hidup tanpa kedua orang tua dan hanya tinggal berdua dengan nenek-nya pasti istrinya itu cukup mandiri. Apa boleh buat, Sahara pun tengah sakit Juan harus menemaninya.


"Setidaknya kamu ingat kalau aku istrimu," ucap Sahara. Walau pernikahan itu tidak diinginkan, tapi pernikahan itu resmi secara hukum dan agama. Sahara istri sahnya, mau dibandingkan dengan orang yang dicintai Juan, ia lebih kuat.


"Ya, aku ingat. Kamu istriku dan selama belum melahirkan kamu tetap akan menjadi istriku," jawab Juan.


Sahara mencerna penuturan suaminya. Apa setelah anak ini lahir dia akan menceraikanku?


"Jangan melamun, tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kamu tidur."


Sahara tak menjawab, ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi meringkuk membelakangi suaminya. Apa dia marah kalau aku menemui Nadien? Tapi 'kan dia tahu kalau aku memiliki kekasih, apa lagi sekarang Nadien masuk rumah sakit.


"Boleh aku minta sesuatu?" kata Sahara yang masih meringkuk membelakanginya.


"Apa?" Juan menoleh ke arah istrinya, hanya punggung yang dapat ia lihat.


"Aku mengizinkanmu menemui kekasihmu, tapi jangan lama-lama. Aku tidak mau ada gosip tentangmu, bagaimana pun, kekasihmu itu seorang model yang kini menjadi sorotan wartawan."


Untung, selama Juan menjalin hubungan dengan Nadien, tak ada orang yang tahu tentang hubungan mereka. Juan menyembunyikan hubungannya karena tak ingin jadi bahan berita. Meski kini ia telah menikah, tak ada gosip tentang Nadien yang ditinggal nikah olehnya.

__ADS_1


"Dan kamu suamiku, prioritas-mu adalah aku."


Juan tahu apa maksud Sahara, nama baik keluarga memang harus dijaga. Apa lagi dirinya bukan orang sembarangan, banyak yang mengenal dirinya dari kalangan orang-orang penting.


"Iya-iya ... Lama-lama kamu kaya, mamaku. Bawel!" Ya, status wanita yang kini ada di sebelahnya menyandang istri dari Juan Ardinata. Bukan cuma menjaga nama baik, ia juga harus menjaga perasaan ibu hamil itu. Emosi ibu hamil naik turun, ia tak ingin itu menjadi pengaruh buruk untuk perkembangan janinnya.


Saat bersama dokter, Juan banyak tahu apa yang harus dilakukan olehnya bila sedang bersama Sahara. Keposesifan istrinya mulai terlihat. Kalau dibilang cemburu, itu tidak mungkin karena setahunya, istrinya pun tidak mencintainya. Wanita itu melakukan semua ini hanya karena uang.


Beberapa menit kemudian, tak ada percakapan lagi di antara mereka. Sahara sudah terlelap ke dalam mimpinya. Begitu pun dengan Juan, pria itu ikut tertidur di samping istrinya. Berniat hanya untuk menemani sampai Sahara tertidur. Ternyata ia pun malah ikut menyusul mimpi istrinya.


Tidur dalam satu brankar, tak ada penyekat di antara mereka sehingga tubuh mereka saling menempel. Bahkan entah sejak kapan tangan Juan melingkar di perut istrinya. Mereka tidur sangat nyenyak.


* * *


Di tempat lain.


Wanita mana yang tak sakit hatinya jika ditinggal menikah? Ditambah lagi mendengar saat wanita yang dinikahinya sudah hamil. Hati Nadien hancur berkeping-keping. Perasaannya yang tumbuh begitu besar kini runtuh saat tahu bahwa kekasihnya memiliki wanita lain.


"Kenapa aku tidak mati saja," rutuk Nadien saat sadar akan keberadaannya.


Tak lama, suster datang untuk memeriksa.


"Anda sudah sadar, Mbak," ucap suster itu. Suster itu mengenali siapa Nadien. Siapa pun akan mengenal dirinya, karena wajahnya selalu menjadi sorotan.


"Sus, siapa yang membawaku kemari?" tanya Nadien. Orang tuanya tengah berada di luar kota, sehingga itu tidak memungkinkan jika mereka yang membawanya, menurutnya.


"Seorang lelaki, katanya teman Mbak," jawab suster.

__ADS_1


"Teman?" tanyanya.


"Iya, itu loh yang kemarin menikah. 'Kan beritanya ada di tv," jawabnya lagi.


Juan, dia yang membawaku? Jadi dia menemuiku?


Mendengar saat mengaku sebagai teman, hatinya semakin terasa teriris. Kamu tega sekali melakukan ini semua padaku. Air matanya mulai berjatuhan, tak bisa lagi menahan rasa sesak di dada. Apa aku harus melupakannya? Tapi rasa ini masih ada, aku masih mencintaimu.


Nadien menyeka air matanya, ia tak ingin suster itu tahu bahwa ia tengah bersedih. "Lalu, di mana dia, sus?" tanya Nadien.


"Di ruangan sebelah, 'kan istrinya juga masuk rumah sakit," jawab suster sambil mengecek selang infus dan alat yang lainnya. "Semuanya bagus, Mbak. Keadaan Mbak juga sudah stabil, untung segera dibawa ke sini," ujarnya. "Kalau butuh sesuatu, Mbak panggil saja ya, ini sudah malam Mbak istirahat."


Sepeninggalnya suster, Nadien kembali menangis. Menangisi nasib kisah cintanya, kenapa ia harus mengalami hal seperti ini? Belum ada pria mana pun yang mengisi hatinya. Nadien wanita yang paling beruntung bisa dicintai oleh seorang pria yang bernama Juan.


Pria yang paling sempurna menurutnya. Tapi rasa kagum itu hilang saat tahu kini wanita yang dinikahinya itu telah mengandung. Pantas, selama berhubungan Juan tak pernah menyentuhnya, padahal ia sering mencoba menggodanya. Tapi Juan tidak pernah tergoda, katanya, lelaki itu akan menunggu sampai di mana ia menikahinya.


"Semua lelaki sama, kamu brengsek," rutuk Nadien.


Sedangkan lelaki yang rutuknya malah terlihat nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halus menggema, bahkan mereka tidur saling berpelukan. Sahara terjaga dari tidurnya, ia menyadari saat sebuah tangan melingkar di tubuhnya. Ia juga terkejut dalam posisinya tengah memeluk suaminya.


Perlahan, ia melepaskan tangan Juan dari tubuhnya. Saat Sahara merubahkan posisi, Juan malah menarik tubuhnya dan semakin mengeratkan. "Aku mencintaimu, Nadien. Tetaplah bersamaku, tolong maafkan aku."


Sahara mendengar itu dengan sangat jelas. "Dan maafkan aku telah menghancurkan hubunganmu, kamu berhak bahagia, kamu laki-laki baik. Dan aku tidak ingin Egois."


Karena tak ingin membangunkan suaminya, Sahara pun kembali memejamkan matanya. Tapi ia tak bisa kembali tidur karena rasa bersalah terus menghantui. Memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi ia tidak tahu bahwa lelaki itu ternyata orang baik. Ia hanya menerima pekerjaan.


"Aku berharap kamu memaafkan kesalahanku, aku tahu kamu laki-laki baik dan bertanggung jawab." Entah apa yang dipikirkan Sahara saat ini, yang jelas, ia ingin melihat Juan bahagia dan tak ingin membuatnya menderita karena perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2