Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Kamu Akan Move On Karena Selalu Bersamaku


__ADS_3

"Kalau aku tidak pergi bagaimana dengan hubunganmu?" tanya Sahara. "Aku berhak menentukan hidupku, apa kamu siap meninggalkan kekasihmu?" tanyanya.


Kini, Juan menatap wajah istrinya. Begitu pun dengan Sahara. Wanita itu menunggu jawaban dari suaminya. "Beri aku waktu, ini semua terasa mimpi bagiku, Sahara. Aku harap kamu mengerti posisiku." Ucapnya seraya berpindah tempat, duduk di tepi ranjang di samping istrinya.


Sahara tak menjawab, menoleh pun tidak. Pandangannya menatap ke lantai, ia sadar bahwa ia tak bisa mengganti posisi Nadien, wanita yang dicintai suaminya selama ini. Ia hanya butiran debu yang tak terlihat.


Sahara mendadak melow, mungkin pengaruh dari hormon bayi yang di kandungnya. Ia pun beranjak. Tapi Juan menarik lengannya, hingga akhirnya Sahara terjerembab di pangkuan suaminya.


"Ku minta jangan menekanku dengan meminta pilihan, aku belum siap," ujar Juan.


"Ini bukan masalah siap atau tidak siap, pernikahan kita ketahui banyak orang. Apa kata orang bila melihatmu bersama Nadien? Wanita itu pun dikenal publik, mereka akan membandingkan aku dengannya. Dan wartawan akan mengulik hubungan kita, aku tidak ingin membuatmu malu. Aku tak sepadan denganmu, Juan. Berpikirlah dari sekarang." Jelas Sahara sembari turun dari pangkuan suaminya, setelah itu Sahara benar-benar pergi meniggalkan Juan yang masih duduk di tepi ranjang.


***


Sahara menemui Sahida.


"Nenek sedang apa? Apa Nenek sudah benar-benar sehat?" tanya Sahara.


Sahida menoleh lalu menjawab. "Nenek sedang buatkan sarapan untuk kalian," jawab Sahida, lalu kembali mengerjakan aktivitasnya yang sedang memotong sayuran. Ia akan membuatkan sop kesukaan cucunya.


Sahara melihat bahan makan itu sangat banyak. "Dari mana bahan makanan ini, Nek? Semalam, aku tak menemukan bahan makanan, beras pun tak ada." Sahara menatap ke arah Sahida dengan tatapan bingung. Karena semalam Sahara tidak tahu kalau suaminya yang membelinya


Sahida tersenyum sebelum menjawab. "Ini semua suamimu yang membeli, mana Nenek punya uang sebanyak itu. Suamimu baik, Ra. Apa pun yang terjadi tetaplah bersamanya, dalam suka mau pun duka. Jika ada yang mencoba menganggu rumah tanggamu, itu adalah ujian menuju kebahagiaan," jelas Sahida panjang lebar.


Dan itu membuat Sahara berpikir. Ada benarnya juga, mungkin ini ujian rumah tangganya. Ia harus bertahan apa pun yang terjadi, status istri lebih kuat dari kekasih. Apa kata Juan memang benar adanya, tak mudah melupakan seseorang apa lagi terganti oleh orang baru sepertinya.


Bersabarlah, Sahara. Ini menuju bahagiamu. Beri suport suamimu, bantu dia melupakan kekasihnya. Selama dia memberimu perhatian kamu harus tetap bersamanya, dia suamimu, dia milikmu!

__ADS_1


"Kenapa bengong, apa ada masalah?" tanya Sahida. Tapi Sahara tetap saja melamun sampai ia tak mendengar ucapan neneknya. "Ra, kamu baik-baik saja 'kan?" Tanyanya kembali sambil menepuk bahu Sahara, sehingga wanita hamil itu pun akhirnya terkesiap.


"Apa pun yang terjadi dia tetap suamiku 'kan Nek? Aku berhak atas dirinya 'kan?" tanya Sahara dengan yakin.


"Iya, jadi jaga suamimu dari wanita-wanita di luar sana. Juan laki-laki tampan, juga mapan. Pasti dia jadi rebutan gadis-gadis, dan kamu beruntung dinikahi olehnya. Memang dasarnya sudah jodoh." kata Sahida, lalu wanita tua itu kembali pada pekerjaannya.


Sedangkan Sahara, begitu menimbang-nimbang. Bertahan demi anaknya, juga suaminya yang lambat pasti memiliki perasaan padanya. Sahara hanya manggut-manggut karena ia ada rencana, kalau tidak dicoba mana tahu hasilnya seperti apa.


"Buat suami move on dari kekasihnya, sepertinya akan jadi calon mantan." Sahara tersenyum sambil menutup mulutnyaa dengan tangan, mungkin idenya sedikit gila. Kalau dulu ia melakukannya dengan uang, tapi sekarang ia lakukan karena status seorang istri.


Akhirnya, Sahara membantu neneknya menyiapkan sarapan. Tapi tiba-tiba ....


Hoek ... Hoek ...


"Ra, kamu masih mual?" tanya Sahida dengan nada tinggi karena Sahara pergi ke kamar mandi dengan berlari


Juan memijat tengkuk leher istrinya dengan pelan. Sahara pun menoleh, lalu membasuh mulut dengan air. "Kita ke dokter lagi ya, aku rasa ada masalah dengan kandunganmu," tutur Juan yang begitu khawatir, khawatir karena akan gizi si kecil.


"Diawal kehamilan memang seperti itu, nanti juga sembuh sendiri," sahut Sahida.


Juan membalikkan tubuh ke arah nenek Sahida. "Apa itu benar, Nek? Tapi ini pasti menyiksa istriku, aku tidak mau tubuhnya semakin kurus karena sering muntah."


"Aku tidak kurus, ini ideal," protes Sahara yang tak terima dikatai kurus.


"Aku tidak bilang kamu kurus, aku cuma bilang aku takut kamu kurus," belanya sendiri. Sahara begitu menyeramkan jika sudah tersinggung.


"Kalian lucu sekali," ucap Sahida.

__ADS_1


Juan hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena nenek Sahida memperhatikannya. Setelah itu, Sahida pun berlalu membiarkan pasutri itu yang kini tengah berdebat.


"Aku tidak mau ke dokter, karena aku tidak sakit!" cetus Sahara.


"Kamu itu keras kepala sekali, menurutmu tidak, tapi anakku?"


"Bilang saja mau ketemu kekasihmu yang masih di rumah sakit. Pergi sana kalau mau bertemu dengannya, jangan kandunganku yang dijadikan alasan!" Sahara malah merajuk, padahal itu hanya akal-akalannya. Ia ingin tahu, apa suaminya tetap akan pergi menemui kekasihnya itu?


***


Ponsel Juan berdering di tengah-tengah saat sarapan. Sahara melirik ke arah suaminya, tapi Juan mengacuhkan ponselnya yang terus berdering.


"Kenapa tidak diangkat? Siapa tau aja itu penting, atau itu dari-."


Ucapan Sahara terhenti karena Juan menatapnya, lalu menoleh ke arah nenek Sahida. Memberi isyarat agar Sahara tak mengucapkan nama Nadien di hadapan neneknya itu. Ia tak mengangkat panggilan karena memang disengaja. Tidak ada Nadien jika ia sedang bersama Sahara.


"Mau aku suapi?" tanya Juan mengalihkan pembicaraan.


"Tidak! Terima kasih." Sahara melanjutkan sarapannya, ia tetap memaksakan makanan itu masuk ke dalam mulutnya, rasanya beda dengan makan nasi goreng semalam. Semalam ia bisa makan dengan lahap bahkan makanan itu tidak kembali dimuntahkan.


"Apa makanannya tidak enak?" tanya Juan. "Kenapa cuma diaduk-aduk saja? Apa mau nasi goreng lagi? Aku akan buatkan." Juan langsung pergi ke dapur bahkan tak menunggu jawaban dari Sahara.


"Emangnya kamu bisa?" tanya Sahara menyusul Juan yang sudah berada di dapur.


"Sedikit-sedikit aku bisa masak, karena dulu sempat kuliah di luar negri. Selama kuliah aku hidup mandiri karena mamaku mengajarkan itu, menjadi orang sederhana karena aku tinggal bersama teman-teman." Juan memang selalu menutupi siapa jati dirinya, ia tak ingin semua teman-temannya minder karena keadaannya yang cukup jauh dari teman-temannya.


Bahkan sampai saat ini, Sahara belum pernah melihat asisten suaminya atau pun sekretarisnya. Padahal ia tahu kalau suaminya adalah seorang pemimpin perusahaan.

__ADS_1


Aku harap, hanya aku yang menjadi prioritas-mu. Dan kamu akan move on dari kekasihmu karena selalu bersamaku.


__ADS_2