
Sahara berjalan menghampiri suaminya, dihirupnya aroma tubuh yang wangi dan segar itu. Rambutnya yang basah menyisakan air berjatuhan mengenai pelipis sampai ke pipi. Sahara mengusap sisa cairan itu dengan lembut lalu menangkup kedua pipinya. Sebuah senyuman tersemat saat pandangan mereka saling beradu. Sayang sekali dimomen seperti ini Juan tak dapat menjamah tubuh istrinya tragedi kemarin membuatnya takut dan khawatir akan kondisi kandungan istrinya.
"Aku merindukanmu, Sahara." Juan melepaskan tangan Sahara yang menangkup pipinya lalu mengecupnya dan menyodorkan wajah mencium bibir Sahara dengan sangat dalam. Ciuman itu begitu memabukkan tapi ia harus menjaga rasa ingin agar tidak melakukannya. "Sahara ...," bisik Juan.
Kening mereka saling menempel dan lagi-lagi pandangan mereka beradu. "Aku mencintaimu," ujar Juan.
"Hmm, sungguh? Bukankah kamu bilang pernikahan ini hanya sebuah komitmen?" Sahara masih teringat akan kata-kata yang membuatnya tidak bisa tidur sejak 2 malam kemarin.
"Itu awal di mana aku belum benar-benar mencintaimu. Disaat aku pergi ternyata aku sangat merindukanmu." Juan memeluk lalu membopong tubuh Sahara ke tempat tidur dan merebahkannya di sana lalu mengungkung tubuh itu dengan posesif. Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Sahara dan memainkan rambut itu dengan pergerakan digulung ke jari. Menghirup aroma rambut itu dengan sangat gemas.
Sahara pun menyentuh dada bidang dan menggambar secara abstrak sehingga Juan menggigit bibir bawahnya sendiri. Merasakan sentuhan itu begitu diresapi sampai sesuatu di bawah sana ikut menegang. "Sahara ..." Bayangannya sudah berkeliaran, sensasi sentuhan itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
"Lakukan susuatu sampai aku merasa terbang," bisik Juan.
Sahara tahu apa yang harus dilakukan, meski ia bukan wanita yang lihai dalam soal ranjang tapi ia harus bisa memuaskan apa yang membuat suaminya menikmatinya meski bukan dengan yang seharusnya. Pergerakan tangan mulai dirasakan oleh Juan, Sahara menyentuh bagian sensitifnya yang sudah menegang. Menaikturunkan pergerakan itu.
Handuk yang dikenakan sudah terlepas dan entah di mana keberadaannya. Hanya berlindung di dalam selimut, Sahara sudah membuat Juan merasa di awan. Permainan lidah yang sangat mahir, hanya ini yang bisa dilakukan saat ia tak dapat melayani suaminya. Tubuh itu mulai bergetar sampai merasakan puncaknya, Sahara berhasil membuat suaminya terbang ke awan.
Sahara menyaksikan ekspresi suaminya saat mencapai dititik kehidupan. "Terima kasih, terima kasih sudah membuatku puas!" Juan terpejam karena ini cukup membuatnya lelah padahal Juan hanya menikmati perlakuan Sahara. Juan menarik tangan istrinya agar merebahkan diri di sampingnya.
"Kamu pintar buatku mabuk kepayang," bisiknya.
Sahara pun memeluknya dan ikut beristirahat mereka tidur bersama.
***
"Sahara, apa benar kamu merebut Juan dari kekasihnya?" tanya Sahida yang sedang di dapur bersamanya, tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. "Nenek takut semua orang menyalahkanmu, apa lagi wanita tadi cukup berwenang."
"Nenek tidak usah pikirkan itu, aku begini karena dia yang menyuruhku mungkin memang begini jalannya aku bertemu jodohku suamiku juga sudah menerimaku dia sudah mencintaiku dan hubungannya dengan kekasihnya sudah berlalu. Nenek tahu siapa yang lagi dekat dengan mantan kekasih suamiku?"
__ADS_1
Sahida yang tadinya sedang memotong sayur itu kini teralihkan dan melihat wajah Sahara dengan serius, ia jadi penasaran siapa orangnya. Apa ia kenal?
"Siapa? Coba katakan pada, Nenek!"
"Novan," sahut Juan yang baru saja tiba.
Sahara pun menoleh lalu tersenyum. Juan menghampiri dan duduk di samping istrinya yang tengah menjadi mandor saat Sahida hendak memasak. Tanpa malu dan canggung Juan mencium pipi Sahara dengan gemas. Sahida pun tersenyum melihat keharmonisan yang tercipta di antara mereka. Benar apa kata cucunya, Juan memperlihatkan cintanya kepada Sahara.
"No-novan?" Sahida kaget saat mendengarnya. Dari mana mereka kenal? Dan sejak kapan?
"Iya, bahkan mereka sedang di Bali," sahut Juan.
"Ranum mesti tau ini," ucap Sahida.
"Apa sebut-sebut namaku?" sahut Ranum karena dapur mereka berdekatan bahkan Sahida keluar dari pintunya pun dapur sudah bisa sampai hanya dengan satu langkah. Rumah mereka tidak ada jarak pasca Juan merombak rumah Sahida karena diperluas sedikit.
"Sebentar lagi kamu akan memiliki menantu," jawab Sahida.
"Apa itu benar?" tanya Ranum yang sudah ada di dalam dapur sana. Begitu antusias karena itu penantian bak menunggu sebuah berlian dari anaknya itu.
"Hmm, mereka sedang di Bali," jawab Sahara.
"Ba-bali? Sedang apa mereka di sana?" Bali terkenal dengan pemandangan yang indah, bagaimana kalau mereka terbawa suasana di sana dan malah berbuat yang tidak-tidak? "Sahara, mana handphone-mu? Bibi pinjam sebentar."
Sahara memberikan ponselnya yang ada di dalam saku kepada bi Ranum. "Hubungi Novan, Bibi mau tau mereka sedang apa?"
Sahara langsung mencari nama Novan untuk menghubunginya. Panggilan itu terhubung melalui vidio call.
"Ya, Sahara?" jawab Novan.
__ADS_1
Wajah Sahara kini berubah menjadi ibunya, Novan sangat terkejut saat melihat layar ponselnya sendiri. "I-ibu ... Sedang apa di sana?" tanyanya.
"Mana calon menantu, Ibu? Cepat berikan padanya Ibu mau kenal." Apa yang dikatakan ibunya itu sampai-sampai Novan bengong karena tidak mengerti. Pasti Juan mengatakan sesuatu pada ibunya, aduh bagaimana ini? Novan jadi salah tingkah karena keinginan ibunya yang tidak benar adanya. "Mati aku!"
"Novan! Kenapa malah diam saja? Mana calon menantu Ibu?" desak Ranum.
Nadien yang baru saja selesai wawancara duduk di belakang Novan karena meja mereka berdekatan. "Itu, itu calon menantu, Bibi," timpal Sahara yang melihat layar ponsel yang dipegang bi Ranum.
Novan menoleh ke belakang dan benar saja Nadien duduk di belakangnya. "Tanggung jawab!" kata Novan pada Nadien.
Gadis itu mengerutkan kening bahkan kedua alisnya nyaris menyatu. "Tanggung jawab apa?" Nadien bingung.
"Soal kemarin, kamu menciumku."
Nadien langsung membekap mulut Novan karena ia takut Rani mendengar.
Prang ...
Sebuah gelas terjatuh, Rani mendengar ucapan Novan barusan. Masalah itu semakin runyam dan meluas, tak hanya Rani bi Ranum pun kini tahu hubungan palsu mereka.
"A-apa? Kamu menciumnya?" pekik Rani.
"Tidak! Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, aku bisa jelaskan," kata Nadien.
"Sebaiknya jelaskan pada ibuku," kata Novan. Ia rasa ibunya mendengar dan tahu bahwa Nadien sudah mencium anaknya karena Novan barusan membahas itu.
Sedangkan si pelaku kabur dan tidak ingin disalahkan. "Bi, Bibi nikahkan saja mereka," kata Juan, lalu ia pergi dari sana dan hanya menyiskan bi Ranum dengan Sahida. Bi Ranum masih berbincang lewat vidio call dengan anaknya
***
__ADS_1
"Emang bener Novan menjalin hubungan?" tanya Sahara setelah berhasil kabur dari dapur.
"Aku melihat Nadien mencium Novan, masa iya tidak ada hubungan sampai cium-cium segala aku aja jarang menciumnya." Juan keceplosan dan Sahara langsung melotot.