
"Sahara ..." Juan merasakan saat lidah istrinya memainkan bendanya. Pria itu sampai merem melek mendapatkan sensasi yang begitu luar biasa. "Oh, ya, sayang ..." Ucap Juan sambil merapihkan rambut Sahara yang tergerai, ia mengepalnya dengan tangan agar tak merasa risih.
Sahara sangat luar biasa, ia begitu pandai membuat Juan merasa terbang ke awan. "Sahara, aku sudah tidak kuat," bisik Juan. Sahara menarik diri dan langsung berdiri. Juan pun ikut berdiri lalu mencium bibir Sahara dengan rakus.
Keduanya sudah merasakan hawa panas sampai ke ubun-ubun. Tak menunggu lama, Juan langsung memposisikan istrinya terlentang di atas kasur yang empuk. Dengan ritme pelan ia mulai memompa. Memaju-mundurkan pinggulnya, mengikuti irama dn hentakkan yang sangat pelan.
"Aku mencintaimu, Sahara. Aku mencintaimu."
Sahara yang mendengar tersenyum manis, lalu ia menangkup kedua pipi suaminya. Menariknya lalumencumbunya. Bibir saling terpaut, dan dibawah sana pun sibuk dengan aksinya. Hingga akhirnya, mereka mengerang secara bersamaan. Sahara memeluk Juan dengan saat erat, merasakan kedutan yang sangat luar biasa terasa nikmat sehingga merasa terbang di atas awan.
Juan menarik tubuh lalu merebahkan tubuhnya di samping Sahara. Dada wanita itu naik turun, napasnya masih tersengal karena merasa lelah. Lalu Juan meringkuk ke arah istrinya, ia beranjak dan mencium perut Sahara. Mengusapnya seakan mengelus calon anaknya.
Dan ia mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya. "Aku lelah, aku mau tidur," kata Sahara.
Mereka pun terlelap bersama di siang itu.
***
Setelah membersihkan diri, Sahara merasa mual. Juan yang tahu akan hal itu langsung menghampiri, ia khawatir karena terlalu sering melakukannya dan takut kandungan Sahara kenapa-kenapa.
"Kamu tidak apa-apakan? Apa perutmu sakit?" tanya Juan dengan wajah panik.
"Tidak, aku hanya mual. Aku mau makan rujak, kayaknya seger kalau makan itu." Air liurnya terasa mengalir, membayangkannya saja sudah terasa nikmat. "Aku mau makan rujak sekarang," rengek Sahara.
"Iya, aku pesan gofood," kata Juan.
"Tidak mau, aku mau kamu yang beli."
"Tapi aku tidak tau daerah sini."
"Kamu minta anter saja sama Novan, dia pasti mau."
"Aku berangkat sendiri saja, sedikit-sedikit jangan sama Novan. 'Kan masih ada aku."
__ADS_1
"Cemburu?"
"Tidak, sepertinya dia menyukaimu aku tidak mau kamu terlalu dekat dengannya."
"Ya ampun ... Dia itu sahabatku dari kecil, jangan cemburu buta. Pokoknya aku mau rujak, sekarang!"
"Oke, aku pergi."
Juan langsung pergi untuk mencari rujak yang diinginkan oleh istrinya. Ia sampai muter-muter dan akhirnya setelah hampir satu jam lebih ia mendapatkannya. Betapa sakitnya ia saat tiba di rumah nenek Sahida, ia melihat Sahara tengah makan rujak. Serta ada Novan di sana, yang ia kira bahwa rujak itu dari Novan.
Juan berdiri di ambang pintu sambil menjinjing kantong kresesek berwarna putih. Tahan marah karena ia tak mungkin menunjukkan kekecewaannya di depan Sahara. Juan memberikan kantong kresek itu pada istrinya.
Juan tak bertanya dapat rujak itu dari mana, yang jelas ia sudah memenuhi keinginan istrinya. Sahara yang merasa tidak enak, langsung mengambil rujak itu. "Aku masih menunggu dengan setia, terima kasih," ucap Sahara. "Aku ke dapur dulu mau ambil piring."
Disaat Sahara ke dapur, Juan memicingkan matanya ke arah Novan. Dan Novan sadar betul dengan kelakuannya. Ia tak bermaksud apa-apa, rujak yang didapat Novan bukan dibeli melainkan ia punya pohon mangga.
Setelah Sahara kembali, Novan izin pamit. "Aku pamit dulu, Ra,' ucap Novan.
"Hmm, terima kasih mangganya."
***
"Kalau sudah kenyang jangan dipaksakan, nanti kamu sakit perut terlalu banyak makan rujak," kata Juan.
"Mana ada, aku pasti habiskan ini. Lagian, rujak dari Novan aku hanya makan sedikit. Aku menunggu suamiku yang membawakannya." Jelas Sahara menjaga perasaan suaminya, ia tak akan mengecewakan suaminya itu.
"Aku takutnya kamu kekenyangan, jangan terlalu banyak makan rujak ya." Juan yang tahu sikap Sahara langsung mengambil piring yang berisi rujak tersebut. "Aku tidak apa-apa kok kalau kamu makan rujak dari Novan, dia sahabatmu. Seperti yang kamu bilang, jangan cemburu buta."
Tak lama dari situ, ponsel milik Juan berdering. Panggilan itu dari Maya sekretarisnya. Jadwal launching prodak skin care yang dimodeli oleh Nadien dipercepat menjadi hari esok.
"Kenapa mendadak sekali? Bukannya seharusnya launching-nya minggu depan?" tanya Juan.
"Nadien yang meminta, soalnya katanya dia mau pergi ke luar negri dan akan menetap di sana. Jadi mau tak mau Maya harus menyiapkan semuanya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Sahara setelah Juan selesai percakapan dengan Maya.
"Nadien mempercepat launching skin care."
"Terus?" tanya Sahara.
"Semua memang sudah siap, kemarin memang nunggu Nadien selesai dengan pemotretan-nya. Kata Maya dia akan pergi ke luar negri," terang Juan.
"Hmm, gitu." Sahara hanya manggut-manggut. "Itu artinya kamu besok dengannya bertemu dengannya? Hubungan kalian itu sebenarnya sudah berakhir belum sih?"
"Belum, tapi aku akan putuskan besok jadi aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan khawatir."
"Ya, aku percaya padamu."
***
Di tempat lain.
Nadien tengah mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Sonia sedari tadi bertanya mengenai kepergian anaknya yang begitu mendadak, sedangkan ia tengah merencanakan sesuatu agar putrinya itu kembali bersama Juan, dan Juan menceraikan Sahara.
Jika Nadien pergi bagaimana dengan rencananya? Sonia mencoba mencegah kepergian putrinya itu.
"Nadien, coba kamu pikirkan lagi. Mama tidak mengizinkan kamu pergi," kata Sonia, bahkan ia terus menghalangi putrinya yang sedang berkemas.
"Berhenti ikut campur urusan pribadiku, Ma. Aku harus pergi dan melupakannya, hatiku terlalu sakit jika terus mendengar kabar tentang mereka. Aku ikhlas, dan ini bukan kesalahan Juan. Dia pria baik aku malu karena Mama!"
"Malu? Kamu malu terlahir dari rahim, Mama?"
"Malu karena sikap Mama yang seperti ini. Mama menyuruh orang untuk memisahkanku dan sekarang Mama memintaku untuk kembali padanya, apa Mama tidak malu dengan perlakuan Mama sendiri? Di mana harga diriku?" Nadien kesal kepada mamanya, tak habis pikir dengan jalan pemikirannya.
"Juan tidak akan mau memiliki mertua jahat, apa Mama lupa sebahagia apa mereka saat tadi?" Nadien terus melanjutkan aktivitasnya, setelah pekerjaan dengan Juan selesai ia akan pergi meninggalkan Indonesia dan membuka lembaran baru di sana.
Sonia yang kesal akan bertindak sendiri, tak peduli dengan kepergian anaknya yang jelas besok rencananya harus berhasil. Ia tak rela melihat Juan kini akhirnya bahagia dengan wanita yang ia suruh untuk menghancurkan hubungannya.
__ADS_1
"Mama akan menebus semua kesalahan Mama, Nadien. Apa pun akan Mama lakukan agar kamu memaafkan Mama," gumam Sonia.
Sejak Nadien tahu bahwa ini disebabkan oleh mamanya, sejak itu juga ia membenci mamanya. Bukan benci melainkan kecewa. Sampai ia mengalah dan harus pergi meninggalkan tanah air.