Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Terciduk


__ADS_3

Tibalah mereka di Surabaya.


Juan mau pun Nadien memesan kamar hotel masing-masing. Di sini, tugas Novan yang paling diutamakan adalah menjaga Juan. Menjaga dari segi hal. Terutama akan kedekatan Juan dengan Nadien, mantan kekasih sekaligus partner kerja.


Nadien baru tahu kalau ternyata Novan adalah asisten pribadi Juan. Nadien ingat betul seperti apa pertemuan mereka.


"Dia bilang tidak ya kalau aku pernah mencoba menemui Sahara di rumah sakit?" ucap Nadien yang sudah merebahkan diri di kasur yang empuk. "Tapi kalau pun bilang, Juan pasti menanyakan itu," gumamnya.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rani.


"Tidak ada, aku hanya lelah karena perjalanan," jawab Nadien.


"Boleh aku tanya sesuatu tidak?" tanya Rani, mereka akan jadi partner kerja selagi di luar, tapi tidak untuk pribadi. Rani dan Nadien akan menjadi seorang sahabat jika sedang berdua.


"Apa?" Nadien pun mendudukkan diri.


"Apa kamu masih mencintai pak Juan? Terus bagaimana sebenarnya hubungan kalian?"


"Aku sudah mengikhlaskannya, aku tidak mau memikirkannya kepalaku pusing."


"Tapi, bu Sonia ..."


"Jangan dengarkan apa kata mamaku, aku tidak mau jadi perebut laki orang. Kamu tau aku pablik figur, nanti karier-ku ikut hancur. Kamu juga taukan aku harus berjuang memulihkan perekonomian keluargaku?"


"Tapi bu Sonia ingin kalian kembali, dengan begitu kamu tidak usah cape-cape bekerja."


"Juan sudah menikah, Rani. Apa kamu tega memisahkan mereka? Ada anak kecil yang nantinya akan tersakiti."


Rani sangat takjub dengan penuturan Nadien yang bijaksana. Nadien sangat sempurna, sudah cantik, baik juga. Rani berharap Nadien mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Juan.


***

__ADS_1


"Apa jadwalku?" tanya Juan pada Novan.


"Nanti malam, makan bersama di restoran dengan pak Arman, perusahaan XX dari bagian marketing," jawab Novan. Untuk Nadien sudah tidak perlu dikatakan, Juan pasti tahu kalau kepergiannya pasti bersama Nadien karena nantinya Nadien yang akan banyak ditanya mengenai prodak itu. Sebagai modelnya Nadien tak hanya menjadi cover dalam kemasan itu, ia juga akan dipertanyakan mengenai prodak itu, apa prodak itu layak dipasarkan dan diperluas karena keamanannya?


"Oh iya, jangan lupa mengabari istri," ucap Novan lagi.


"Untuk itu tidak usah dikasih tau, itu tugas pribadiku," cetus Juan.


"Aku hanya mengingatkan," kata Novan. "Kalau begitu aku keluar, sampai ketemu nanti malam." Novan pun pergi menuju kamar sebelah. Dan di sebelahnya lagi terdapat kamar Nadien dengan Rani.


Saat Novan keluar, Nadien pun keluar dari kamar. Kebetulan, Nadien ingin menanyakan tentang kedatangannya ke rumah sakit waktu itu. Ia takut Juan tahu akan kedatangannya dan malah berpikir yang tidak-tidak. Sudah cukup bagi Nadien karena Juan sempat curiga padanya soal kejadian di mana ia sampai dijamah oleh Juan waktu itu.


Nadien langsung mencekal tangan Novan lalu menariknya.


"Apa-apaan ini? Lepaskan!" sentak Novan sambil menghempaskan tangannya.


"Kamu itu sebagai lelaki kasar sekali," ujar Nadien.


"Juan tau tidak kalau aku waktu itu ke rumah sakit? Aku sih, berharapnya kamu tidak bilang padanya."


"Kurang kerjaan sekali kalau aku sampai lapor padanya, tugasku hanya sebagai asisten bukan mencampuri urusan orang lain. Aku cukup menjaga keluarga mereka dari hal-hal buruk," kata Novan.


"Lagian, kamu 'kan sudah jadi mantan. Kalian hanya terikat sebagai partner kerja, bukan partner hidup."


Jawaban Noval sangat menyebalkan bagi Nadien, karena jawaban Novan seperti itu Nadien pun bernapas lega. Ternyata Novan cuek, ia rasa pria itu tidak akan melaporkan semua kejadian di sini kepada istri dari bosnya itu. Tanpa Nadien tahu bahwa kenyataannya Novan adalah teman dekat Sahara.


"Jangan macam-macam dengan pak Juan, dia sudah beristri," cetus Novan mengingatkan.


"Aku tau, dan jangan berpikir kalau aku akan merebut Juan kembali. Sebagai wanita aku punya harga diri."


"Baguslah kalau begitu." Jawab Novan sambil berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


***


Makan malam disebuah restoran.


Ini pertama kali Juan turun tangan, biasanya Ardinata yang mengurus semua ini. Berhubung Juan sudah menjadi ahli waris, maka Juan yang menghandle semuanya. Pak Arman belum tahu kalau Juan sudah menikah. Setelah semuanya kumpul di restoran, pak Arman menggoda Juan.


"Modelnya cantik-cantik ya, apa Pak Juan tidak tertarik dengan rekan kerja?" tanya pak Arman.


Juan langsung melirik ke arah Nadien, tentu ia tertarik dengan model itu karena dia salah satu wanita yang ia cintai. Lirikan itu tak luput dari pandangan Novan. Sontak, Novan ikut menimbali percakapan mereka.


"Pak Juan tidak akan tertarik dengan wanita mana pun, karena beliau sudah menikah dan istrinya jauh lebih cantik," sahut Novan.


Juan mendelik karena jawaban Novan yang memuji istrinya. Sadar akan jawaban Novan karena itu sebagai pengakuan pribadi Novan pada istrinya.


"Wahhh ... Saya kira Pak Juan masih single. Maaf ya pak, Juan. Tapi saya salut pada Anda, bekerja dengan gadis cantik tapi istri tetap nomor satu, ya?" kata pak Arman.


"Iya," jawab Juan singkat. Pertemuan mereka sangat singkat, hanya makan malam dan berbincang sedikit. Dan akan dilanjut hari esok. Mereka akan pergi berkunjung ke tempat di mana akan ada banyak orang yang tidak sabar akan keamanan skin care tersebut.


Makan malam pun usai.


Juan mau pun Novan sudah berada di kamar masing-masing. Begitu juga dengan Nadien. Namun, entah kenapa Nadien ingin sekali pergi keluar karena bosan berada di kamar terus. Ia mengajak Rani pergi ke luar, tapi Rani tidak bisa karena ingin istirahat. Mau tidak mau, Nadien pergi sendiri.


Pada saat Nadien keluar, Novan pun mengetahuinya karena ia memasang cctv sendiri di bagian pintu yang terarah pada pintu kamar Nadien, sehingga ia bisa tahu kapan saja model itu keluar dari kamarnya. Karena curiga, Novan mengikutinya diam-diam. Ia takut kalau Nadien dan Juan bertemu di luar waktu kerja.


Novan terus mengikuti Nadien, sampai Nadien manyadari bahwa ia merasa ada yang mengikutinya. Sesekali Nadien menoleh ke belakang, tapi tak melihat siapa pun yang dicurigainya. Ia kembali melanjutkan perjalanan, namun kali ini ia harus tahu siapa yang memcoba membuatnya tidak nyaman karena terus diikuti.


Nadien berjalan dengan cepat, lalu ia bersembunyi di jalan yang cukup sepi. Novan kehilangan jejak, pada saat Novan mencari Nadien, tiba-tiba bahu Novan ditepuk dari belakang.


"Kamu mencariku?" tanya Nadien.


Novan kenal dengan suara itu, ia hanya memejamkan mata karena sudah terciduk.

__ADS_1


__ADS_2