Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Aku Mundur


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Orang tua Juan berkunjung ke rumah sakit, tapi apa yang mereka lihat? Sepasang suami istri itu masih terlelap dari tidurnya. Hati Jihan begitu adem saat melihat anaknya yang tengah tidur dalam keadaan memeluk istrinya.


"Manis sekali pemandangan ini, Pa. Aku jadi pengen dipeluk seperti itu." Jihan pun memeluk suaminya dengan sayang, bahkan menyodorkan bibirnya ke arah wajah suaminya.


"Tidak-tidak ... Nanti kena baju, baju Papa bisa kotor," tolak Ardinata.


Jihan menghentakkan kaki karena kesal. "Papa ... Gak romantis banget sih, awas aja kalau nagih nanti!" ancamnya. Usia yang terpaut jauh membuat Jihan selalu dimanja oleh suaminya.


Disaat ia melahirkan Juan, umurnya baru 19 tahun. Sedangkan Ardinata, pria matang yang berumur 35 tahun itu baru melepas masa lajangnya. Umurnya terpaut 16 tahun di antara mereka. Dan sekarang, Juan berusia 29 tahun. Bisa dibayangkan setua apa Ardinata sekarang, tapi tubuhnya masih terlihat gagah dan keriput halus yang menghiasi wajahnya.


Suara berisik yang ditimbulkan Jihan dan suaminya membuat pengantin baru itu terjaga dari tidurnya. Juan begitu terkejut saat posisi tidurnya tengah memeluk Sahara. Sontak, Juan langsung beranjak. Sahara pun langsung ikut terbangun.


"Mama ... Sedang apa di sini?" tanya Juan.


Jihan tersenyum kikuk karena canggung. Sebenarnya ia tak ingin mengganggu karena dirinya pernah merasakan seperti di posisi mereka.


"Apa Papa bilang. Kita terlalu pagi ke sini," cetus Ardinata dengan wajah serius, wajah dingin tapi ada kebaikan yang terpancar.


Juan sudah tidak heran karena ia tahu betul seperti apa karakter mamanya. Mendengar cerita dari papanya, Juan sampai dibuat geleng-geleng kepala. Bisa membayangkan, seorang gadis belia yang tertarik pada pria matang. Gadis bar-bar yang selalu membuat onar hingga akhirnya Ardinata jatuh hati pada gadis itu yang tak lain adalah Jihan.


Tapi Juan bahagia melihat orang tuanya yang selalu terlihat harmonis, menikah dengan orang yang dicintai tentu akan melewati hari-hari yang membahagiakan. Tidak seperti pernikahannya, menghamili seorang gadis namun tanpa cinta.


"Maaf, Mama bukan ingin mengganggu kalian. Mama ke sini cuma mau pamit," ucap Jihan.


"Pamit?" Sahara sedikit terkejut, bukankah wanita itu bilang akan ikut menemaninya selama suaminya bekerja. Itu artinya, ia akan sendiri di rumah besar.

__ADS_1


"Iya, kalian baik-baik selama Mama dan Papa tidak ada. Kalau ada apa-apa, hubungi Mama ya? Jangan sungkan, Mama senang punya menantu sepertimu." Jihan berjalan menghampiri Sahara. Memeluk wanita itu lalu mengusap punggungnya.


Beginikah rasanya dipeluk seorang mama, aku merindukanmu, ma ...


"Kok nangis sih?" tanya Jihan. "Jangan sedih, Mama tidak akan lama di sana. Mama janji akan sering-sering menjengukmu." Jihan mencium kening Sahara.


"Jaga istrimu dengan baik, perhatikan gizi untuk calon cucu Papa. Selama Papa dan Mama pergi, kami tidak ingin mendengar pertengkaran kalian, jadilah pasangan yang saling mencintai, saling memahami. Dan yang paling penting itu kejujuran, terbuka setiap kali ada masalah." Ardinata ceramah panjang lebar. Juan sudah terbiasa mendengar pepatah dari papanya.


"Iya, Pa," jawab Juan.


"Mama tidak bisa lama-lama di sini, kalian jaga diri baik-baik ya? Terutama untukmu," ucapnya pada Sahara. "Jadilah istri pintar, jangan biarkan lalat masuk ke dalam rumah."


"Kalau masuk sendiri bagaimana, Ma? 'Kan pintu di rumah sangat besar, banyak jendela juga celahnya terlalu banyak," jawab Sahara serius menanggapi lalat yang dimaksud mertuanya.


"Maksud Mama bukan lalat beneran, sayang. Jangan biarkan pelakor merusak rumah tangga kalian. Tapi Mama yakin kalau anak Mama tidak mungkin berpaling darimu karena kamu sudah cantik juga baik. Menurut Mama kamu sudah paket komplit, iyakan, Juan?" Jihan menoleh ke arah Juan.


"A-ah i-iya, Ma," jawab Juan sedikit gugup. Takut salah dalam berucap, ia hanya iya-iya saja.


***


Sahara tengah sarapan, rasa mual itu belum hilang. Sesekali, ia kembali mengeluarkan makanan yang sudah tertampung di dalam perut. Juan sampai bingung harus berbuat apa, tidak ada asupan makanan jika terus muntah. Apa pun yang dimakan oleh Sahara pasti kembali keluar.


"Sus, apa setiap hamil seperti ini? Mual dan selalu mengeluarkan makanan yang dimakan?" tanya Juan pada suster yang berada di sana.


"Setiap hamil berbeda-beda, Tuan," jawabnya.


"Sampai kapan seperti ini? Mana bisa berkembang dengan baik kalau makanan yang dimakan terus keluar lagi."

__ADS_1


"Tergantung, ada yang sebentar ada juga yang sampai 3 bulan," jawab suster.


"Apa? 3 bulan?" tanya Juan sambil mengacungkan tiga jari. "Tapi anak saya tidak akan apa-apa 'kan, Suster?"


"Tidak, semuanya ada masanya, Tuan. Saya permisi kalau begitu."


"Makanlah yang banyak, Sahara. Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa, apa kamu mau sesuatu biar aku keluar untuk membelikan makanan untukmu?" tanya Juan.


Bilang aja kalau kamu mau menemui kekasihmu, alasan saja mau beli makanan!


"Hey, kenapa bengong? Kamu mau sesuatu atau tidak?"


"Tidak, seleraku sudah hilang. Lagian kata dokter aku tidak-tidak apa, itu hanya bawaan bayi saja kalau memang lagi tidak na*su makan,"


Kalau mau pergi, pergi saja. Tidak usah cari alasan mau keluar hanya untuk membeli makanan untuk calon anakmu


Tanpa diduga, Juan memang keluar detik itu juga. Bahkan tidak pamit akan kemana. Yang jelas, pria itu kini sudah menghilang dari pandangan Sahara. Sahara sendiri jadi uring-uringan. Lihat wajahnya kesal, tapi kalau tidak ada ia ingin melihat suaminya. Ekspresi saat melihatnya, wajah dingin, tapi masih memberikan perhatian padanya.


Ia tahu perhatian yang diberikan hanya untuk calon anaknya, bukan pada dirinya. Tapi jika boleh jujur, Sahara lebih suka Juan marah-marah padanya tapi berada di sampingnya.


Mikir apa sih aku ini? Buka matamu, Sahara. Pria yang menikahimu itu tidak mencintaimu, mana mungkin dia peduli dengan perasaanmu?


Sahara mengembuskan napas dengan kasar. "Jauh rindu, dekat bikin kesal!"


Sampai kapan akan berada di rumah sakit? Sahara terbiasa hidup bebas, tapi setelah dirinya terikat dengan masalah itu membuatnya sulit bergerak. Mengingat kejadian semua itu membuatnya teringat akan Sonia, apa wanita itu sudah puas sampai tidak ada kabar lagi padanya? Pikir Sahara.


Wanita itu sangat tega, menyakiti putrinya yang begitu mencintai kekasihnya. Lalu kemana dia? Tidak punya hati meski anaknya telah masuk rumah sakit sekali pun, pikirnya lagi.

__ADS_1


"Mending, aku keluar saja cari angin." Merasa baikan, Sahara keluar ruangan sambil mendorong tiang infus. Tak disangka apa yang akan terjadi. Ia melihat dengan kepala matanya sendiri.


"Perasaanmu masih sama meski kita sudah menikah, apa aku mundur dan membesarkan anak ini sendiri?"


__ADS_2