
Novan tidak ingin memikirkan masalah yang tidak disengaja, akhirnya ia merebahkan tubuhnya dan beristirahat. Karena ia harus tidur dan besok masih ada pekerjaan menanti. Kalau bukan karena keinginan Sahara, ia tak ingin menjadi asisten Juan Ardinata.
***
"Kamu kenapa? Lagian abis dari mana sih?" tanya Rani saat mendapati tangan Nadien yang lecet.
"Hanya cari angin segar, terus tidak sengaja bertemu beruang," jawab Nadien.
"Beruang?" Rani jadi bingung. "Memang di sini ada beruang?"
"Ada, beruangnya menjengkelkan." Nadien sangat kesal kepada Novan karena ini semua ulahnya.
"Cepat bersihkan, nanti infeksi," tutur Rani. "Oh iya, tadi tante Sonia telepon, kamu kenapa tidak memberi kabar?" tanyanya.
"Biarin saja, aku bosan karena keinginannya. Kemarin nyuruh aku jauhin Juan, dan sekarang malah begini. Sudahlah, jangan ditanggepin nanti juga lupa sendiri." Nadien pun mulai membersihkan lukanya dengan air hangat setelah itu memakai plester. Terus merebahkan tubuhnya yang lelah.
***
Keesokan paginya.
Novan dan Juan sudah berada di resto karena akan sarapan pagi ini. Tak lama, Rani datang namun tak bersama Nadien. Itu membuat Juan bertanya mengenai gadis itu.
"Mana Nadien? Kenapa tidak bersamamu?"
"Meeting masih satu jam lagi, tidak akan terlambat fokus saja pada urusan masing-masing," timpal Novan.
"Aku tidak bertanya padamu, kamu itu asisten jadi diam saja dan jangan banyak bicara," kata Juan.
"Aku bukan asisten, aku di sini karena istrimu. Aku harus menjagamu." Suka tidak suka, Novan terang-terang dengan sikapnya pada Juan. Ia memang tak berniat menjadi asisten.
Kalau tidak ingat dengan kejadian yang menimpanya, Juan pun tidak ingin memiliki asisten seperti Novan. Tapi kalau dipikir-pikir, Novan memang cekatan. Selengean tapi tetap saja pekerjaannya dijalani dengan baik. Walau terkadang menjengkelkan.
Mereka bertiga pun sarapan bersama, sampai akhirnya selesai. Tapi Nadien tak kunjung datang. Novan jadi kepikiran dengan gadis itu.
"Kenapa sampai sekarang masih belum datang, sebentar lagi acara dimulai. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya soal semalam?" batin Novan. Ia ingat betul saat menyingkirkan Nadien dari tubuhnya, bagaimana pun Nadien seorang wanita. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada gadis itu?
"Rani, apa Nadien baik-baik saja? Tidak biasanya dia terlambat," kata Juan.
"Tadi dia sudah bangun, aku rasa sebentar lagi dia datang," jawab Rani.
__ADS_1
Dan benar saja, Nadien datang dengan setelan pakaian yang tidak biasanya. Biasanya Nadien terlihat modis dan seksi, tapi hari ini tidak. Karena ia harus menutupi tangannya yang terluka. Tubuhnya terasa ngilu karena semalam, tapi Nadien tak menunjukkan itu karena ia harus profesional. Nadien mendudukkan tubuhnya di sebalah Rani, lalu mendelikkan mata ke arah Novan.
Rasa kesal itu tak kunjung hilang, karena ulah lelaki itu ia jadi berpenampilan seperti ini.
"Kamu sakit?" tanya Juan, karena tak biasanya melihat gadis yang kini sebagai mantannya berpenampilan seperti itu.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Nadien biasa saja.
"Ingat istri di rumah, tanya dia apa sudah sarapan?" sahut Novan. Benar-benar membuat jengkel orang disekitar.
"Apaan sih, gak jelas banget!" gumam Nadien.
***
Pekerjaan di mulai.
Nadien dan Juan tengah diwawancara. Sedangkan Novan bersama Rani. Ulah Novan membuat pikiran Nadien buyar, entah apa yang dilakukan pria itu sehingga membuatnya tidak konsentrasi. Novan sedari tadi menyentuh bibirnya sendiri, benar-benar buat Nadien jengkel.
Setelah pekerjaan selesai, Nadien langsung menghampiri Novan. "Apa maksudmu begini-begini?" Tanya Nadien sambil menyentuh bibir yang diperagakan Novan kepadanya.
"Mumpung masih ada mantan kekasihmu, drama semalam mau dilanjutkan lagi tidak?" Novan meledek karena yang dikira Juan mereka pacaran.
"Hmm baiklah, aku rasa ciuman kedua disengaja jadi kamu harus melakukan apa yang aku pinta. Aku masih tidak yakin kalau kamu sudah melupakannya."
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan membuatku kesal, di sini aku hanya bekerja. Kerjaanmu itu sebenarnya apa? Mencari tau tentang perasaanku? Aku 'kan sudah bilang kalau aku sudah mengikhlaskannya."
"Aku hanya ingin tau apa yang kamu lakukan di rumah sakit waktu itu?"
"Aku hanya mau minta maaf, tapi bertemu denganmu buatku sial. Sampai hari ini pun jadi sial."
"Kalian ada masalah apa sih? Aku lihat-lihat dari jauh kalian seperti Tom&Jarry," kata Rani. "Oh iya, aku mau tanya. Semalam kamu tau soal beruang yang dimaksud Nadien tidak? Semalam kalian kembali ke kamar hotel hampir barengan loh."
"Beruang?" ulang Novan.
"Iya, beruang. Tangan Nadien sampai lecet," kata Rani.
Novan langsung menajamkan mata ke arah Nadien, hidungnya merekah karena amarah. Bisa-bisanya ia disebut beruang. "Itu beruang betina ngamuk," jawab Novan sambil melihat ke arah Nadien.
Tambah kesal aja Nadien pada Novan. "Benar-benar ngajak ribut," batin Nadien. Nadien jadi ingin cepat selesai dengan pekerjaannya, padahal masih ada satu tempat lagi. Setelah di selesai, mereka langsung akan ke Bali.
__ADS_1
Saat mereka bertiga sedang berkumpul, Juan pun menghampiri. "Rani, sepertinya aku tidak bisa ikut ke Bali. Aku wakilkan pada Novan saja, lagian hanya Nadien yang diwawancari, aku rasa Novan bisa menggantikanku. Aku harus pulang."
"Mana bisa begitu? Kalau kamu pulang aku juga pulang," kata Novan.
"Kamu gantikan aku, aku harus pulang karena Sahara yang minta. Dia bilang kamu bisa diandalkan, jadi jangan kecewakan istriku." Juan menepuk bahu agar Novan mengerti.
Sedangkan Nadien, hanya bisa pasrah karena ini masih tanggung jawabnya sebagai pekerjaan.
"Lagian, kaliankan sepasang kekasih. Jadi harus saling melengkapi," kata Juan.
Rani yang mendengar sampai terkejut. "What? Sepasang kekasih?"
"Ya, semalam dia mengutarakan perasaannya padaku," kata Novan. "Bahkan sampai ..."
Nadien langsung membekap mulut Novan, jangan sampai pria itu mengatakannya pada Rani, cukup Juan yang tahu soal ini karena itu hanya tujuan untuk Juan agar percaya bahwa ia sudah melupakannya.
"Awas kalau sampai kamu bilang, ini hanya rahasia kita," ancam Nadien.
"Tapi kamu harus tanggung jawab karena itu ciuman pertamaku," bisik Novan.
"Jangan ngada-ngada, itu tidak mungkin ciuman pertama. Sudah bangkotan masa baru ciuman!"
"Kalian bisik-bisik terus dari tadi, pak Juan sudah kembali ke hotel. Apa kalian masih tetap akan di sini." Rani kurang begitu percaya dengan hubungan Nadien dan Novan, itu hanya menutupi perasaan Nadien pada Juan saja, pikirnya.
***
"Serius aku yang menemani Nadien di Bali? Berapa lama di sana?" tanya Novan pada Juan yang sedang siap-siap.
"Hanya dua hari, Sahara menyuruhku pulang jadi kamu gantikan aku. Hanya menemani Nadien, setelah itu selesai kamu bisa kembali pulang bahkan pulang ke rumahmu pun tidak apa-apa."
Di kamar sebelah.
Rani mendesak Nadien, meski tidak percaya ia tetap ingin mendengarnya secara langsung.
"Jawab dong, apa benar kamu pacaran sama Novan?"
"Tidak, aku sama si beruang itu tidak ada apa-apa."
"Oh ... Jadi beruang itu, Novan."
__ADS_1