
"Jangan menyalahkanku! Siapa suruh menciumku di depan mantanmu itu? Sekarang tanggung jawab!" seru Novan.
Nadien tengah kebingungan, ia tidak tahu masalahnya akan seperti ini. Niatnya hanya ingin meyakinkan Juan dengan perasaannya itu. Nadien memutar otak bagaimana meluruskan kesalahpahaman ini? Ia tidak mungkin menikah dengan pria yang belum lama ia kenal apa lagi belum tahu bobot bebetnya.
"Jangan diam saja! Siapa suruh ..."
"Diamlah! Ocehanmu itu tidak membantu menyelesaikan masalah mending kamu bantu jelasin pada ibumu kalau kemarin itu tidak sengaja."
"Iya yang pertama tidak sengaja, yang kedua kamu sengaja loh aku saja sampai kaget. Apa kamu seliar itu? Berani mencium laki-laki asing aku jadi kebayang cara gaya pacaranmu, kasihan sekali Sahara dapat pria bekas."
"Jaga mulutmu! Aku tidak serendah itu! Juan sangat menjaga kehormatanku."
"Oh ya? Tapi kenapa Sahara sampai hamil di luar nikah? Apa Juan tidak mencintaimu sampai tidak berniat menyentuhmu atau ..."
"Iiihhhh ..." Sontak, Nadien memukul Novan karena geram mulut pria itu tidak ada filternya.
Novan menghentikan pukulan itu, mencekal lengan Nadien dan gadis itu terdiam. Lagi-lagi kejadian itu membuat yang melihatnya jadi salah paham. Rani terpaku saat melihat Novan dan Nadien saling pandang dengan keadaan tangan mereka saling bersentuhan.
"Kalian bener pacaran? Cepet banget move on dari Juan," kata Rani.
Nadien melepaskan tangan Novan lalu pergi karena kejadian barusan membuatnya badmood. Untung pekerjaan tak harus sampai 2 hari, Nadien langsung bersiap-siap untuk segera pulang. Rani menyusul sampai terheran-heran, katanya meski pekerjaan sudah selesai ia akan menghabiskan wakti di sini sampai esok hari.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Rani.
"Iya, aku juga harus jelaskan pada mamaku jangan sampai kabar ini terdengar olehnya. Bisa berabe kalau mamaku tau dia pasti marahin Novan." Jelas Sonia pasti akan marah kalau siapa tahu siapa Novan sebenarnya, bukankah Sonia tidak akan marah karena yang ia tahu Novan jauh lebih kaya dari Juan.
Saat Nadien menyeret koper ia berpapasan dengan Novan. Karena Nadien pulang Novan pun putuskan untuk pulang tidak ada yang bisa ia lakukan di sini tanpa mereka.
***
__ADS_1
"Tunggu! Berangkat bareng pulang pun harus bareng," kata Novan mengejar langkah Nadien yang sangat cepat.
"Jauh-jauh kamu dariku! Dekat denganmu kena sial!" cetus Nadien.
"Enak saja kena sial, dekat denganku itu berkah. Buktinya Juan percaya kalau kamu sudah move on," kata Novan.
"Tanpamu saja aku sudah move on!" sengit Nadien.
Mereka sudah ada di dalam pesawat, Nadien benar-benar menjaga jarak. Ia sudi berada di dekat Novan. Tapi dalam hati ia sadar bahwa ini memang salahnya andai Novan tidak mengikutinya ini semua tidak akan terjadi. Ini bukan salahnya sepenuhnya Novan pun ikut bersalah.
Setelah beberapa jam di dalam pesawat, akhirnya pesawat itu mendarat dengan sempurna. Namun apa yang terjadi? Nadien tak menyangka bahwa kepulangannya disambut oleh mamanya sendiri.
"Mama ...," ucap Nadien. "Kamu bilang padanya kalau kita pulang hari ini?" tanyanya pada Rani. Gadis itu mengangguk karena Rani langsung diintrogasi saat Sonia tahu tentang Novan. Rani hanya iya-iya saja saat ditanya mengenai Novan termasuk Novan yang orang kaya.
Sonia langsung memeluk Nadien lalu melihat seorang pria yang berjalan di belakang anaknya itu. "Apa itu, Novan? Dia kekasihmu 'kan?" tanya Sonia.
Nadien sangat terkejut, ketakutan itu akhirnya terjadi. Tapi ada yang aneh dalam diri Sonia, ibunya itu tidak marah malah menyambut Novan dengan sebuah senyuman. Sonia tak ingin menyia-nyiakan karena soal kejadian kemarin membuatnya menyesal dan kali ini ia tidak ingin.
Apa Juan yang bilang? Tapi kapan mereka bertemu? Kenapa juga sampai membahas Novan?
Tidak mau pusing Nadien tidak peduli yang jelas Novan harus meluruskannya pada ibunya soalnya mamanya itu urusannya. "Aku cape, Ma. Aku ingin segera pulang," kata Nadien.
"Ajak Novan juga, Mama sudah sediakan makanan untuk kalian, kalian pasti suka."
Lalu Novan pun sampai tepat di samping Nadien, ia tidak tahu bahwa wanita paruh baya yang bersama Nadien adalah ibunya.
"Novan ya? Pacarnya Nadien," tebak Sonia.
Novan tersenyum kikuk, siapa wanita ini? Kenapa bilang seperti itu.
__ADS_1
"Dia Mamaku," kata Nadien. "Ma, aku dan dia hanya teman hubungan kami tak sejauh yang Mama bayangkan, kami baru kenal," terang Nadien.
"Perasaan akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Nadien. Ayok, ikut kami pulang," ajaknya pada Novan. "Tante sudah masak makanan kesukaan Nadien dan kamu harus tau soal anak, Tante. Eh, jangan Tante deh bilangnya Mama saja biar lebih akrab." Sonia langsung merangkul Novan dan mengajak pria itu ke dalam mobil miliknya.
"Mamamu kesambet?" tanya Rani.
Nadien menghembuskan napas dengan kasar, salah paham semakin melebar bagaimana caranya mengatasi ini agar tidak jadi masalah? Belum lagi menghadapi ibunya Novan? Nadien menepuk jidat lalu menyusul ke dalam mobil.
Mereka sampai di kediaman Sonia. Novan hanya berdiam saat melihat rumah Nadien yang bagus. Apa iya ibunya Nadien akan menerimanya jadi menantunya? Perbedaan itu bagaikan langit dan bumi. Novan bukan orang kaya, apa lagi memiliki rumah sebesar ini. Ia hanya punya rumah yang sudah reot dan hanya tinggal berdua dengan ibunya.
"Ayo masuk," ajak Sonia.
"Bagaimana ini? Kenapa kamu diam saja," bisik Novan di telinga Nadien.
"Aku juga pusing, kalau kata Mamaku A ya A, kalau B ya B."
"Tapi ini salah paham," jelas Novan
***
"Jangan marah dong, aku tak bermaksud mengenang masa lalu." Juan terus merayu istrinya yang tengah merajuk. Sahara cemburu katanya tidak ada bahasan orang lain bila sedang berdua tapi nyatanya?
Sahara bersedekap tangan di dada, bibir mengerucut dan sedikit pun tak menoleh ke arah suaminya.
"Ayo dong, sayang ... Aku sudah move on kok, semua berkat usahamu yang meyakinkan aku kalau cintaku hanya untukmu." Juan gelendotan di bahu istrinya namun Sahara tetap tidak percaya. "Ya udah kalau tidak percaya, aku pulang saja deh." Juan ngepreng Sahara apa bumil itu benar-benar marah padanya.
"Iya-iya ... Aku percaya kamu sudah move on, jangan pulang aku masih ingin di sini," rengek Sahara.
"Gitu dong, sebuah hubungan itu harus saling percaya. Apa kita bisa seperti tadi? Aku janji akan buatmu melayang sepertiku," rayu Juan.
__ADS_1
"Bagaimana caranya?" Sahara penasaran.
"Hanya aku yang tau caranya, kamu diam saja dan cukup menikmatinya." Juan langsung memeluk Sahara yang sedari tadi rebahan di kasur. Mereka saling bergelung di dalam selimut.