
Seusai percintaan, Novan dan istrinya langsung membersihkan diri. Mereka mandi secara bergantian. Yang terakhir mandi adalah Nadien karena ia paling lama berada di sana.
Kini, Novan tengah berada di dapur. Sejak dulu kalau mau apa-apa ia selalu membuat sendiri, ia tak pernah merepotkan ibunya. Walau ia sudah menjadi orang kaya, Novan membuat teh hangat sendiri. Padahal di rumahnya sudah ada dua asisten di sana
"Pak, biar saya saja yang buat," kata bi Nani.
"Tidak usah, Bi. Saya bisa sendiri," tolak Novan secara halus. Bi Nani pun hanya tersenyum sambil melipir, dan tak lama dari situ Nadien datang menemui suaminya. Model cantik itu melingkarkan tangam di pinggang suaminya.
Novan langsung saja melepaskan tangan yang melingkar itu, ia takut ada yang melihat dan itu akan membuatnya malu. Tapi sayang, sepertinya Nadien salah paham. Nadien cemberut karena suaminya tak ingin dipeluk, ia menyilangkan tangan di dada dengan bibir yang mengerucut.
"Mau teh?" tawar Novan, ia tak menyadari mimik wajah istrinya yang cemberut. "Kamu kenapa?" tanya Novan. Nadien semakin cemberut akan tidak kepekaan suaminya.
"Kenapa tidak mau dipeluk?" tanya Nadien tanpa menoleh bahkan matanya sudah menganak sungai. Tiba-tiba hatinya merasa sakit saat sikap suaminya yang seperti itu.
Novan menoleh karena pertanyaan istrinya. Ia menatap istrinya lekat-lekat, lalu meraih dagu istrinya. "Loh kok nangis sih?" Pertanyaan Novan malah membuat Nadien semakin sedih. "Ish ... Kamu kenapa?" Akhirnya ia memeluk istrinya untuk menenangkannya. "Aku bukannya tidak mau dipeluk, malu kalau sampai mama, papamu melihat," jelas Novan.
"Kenapa mesti malu? Kita 'kan suami istri," ucap Nadien yang masih terisak.
"Kamu apakan anak, Mama?" Tiba-tiba Sonia menghampiri Novan karena melihat anaknya tengah menangis dalam pelukkan menantunya.
"Tidak aku apa-apakan, Ma. Aku juga tidak tau kenapa Nadien menangis," jelas Novan. "Hey, sebenarnya kamu itu kenapa? Masa gitu aja sampai nangis begitu sih?" Novan menangkup kedua pipi istrinya, lalu menghapus air matanya yang masih mengalir deras.
Nadien menggelengkan kepala karena ia sendiri pun bingung kenapa mendadak melow seperti ini. Hatinya tiba-tiba saja sakit merasa terabaikan begitu. "Jangan buatku merasa bersalah begini dong, tadi aja baik-baik saja kok," ucap Novan.
"Kenapa? Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Ranum yang baru saja pulang dari pasar. "Kenapa Nadien nangis? Kamu apakan menantu Ibu, hah?" Kali ini Ranum ikut menyalahkan Novan.
"Tidak, Bu. Aku tidak ngapa-ngapain istriku," jelas Novan.
"Lalu kenapa Nadien menangis?" tanya Ranum lagi.
"Ibu tanya saja langsung, aku aja bingung. Tadi pagi aja kita masih en ...," ucap Novan menggangtung karena Nadien langsung membekap mulut suaminya dan melototinya.
"Awas saja kalau bilang tadi kita abis ..."
__ADS_1
"Abis apa?" pungkas Sonia. "Kalian itu kenapa sih? Bertengkar?" duganya.
"Tidak! Kami baik-baik saja, Ma. Kami tidak bertengkar," jelas Novan.
Ranum sampai penasaran akan menantunya yang tiba-tiba menangis. Kejadian ini membuatnya teringat akan 29 tahun silam, di mana ia tengah hamil oleh Novan. "Jangan-jangan ...," ucap Ranum.
"Jangan-jangan apa, Jeng?" pungkas Sonia.
Ranum menyentuh perut dan memperagakan wanita hamil. Setelah itu, Sonia dan Ranum langsung jingkrak-jingkrak karena sepemikiran.
"Kita akan punya cucu, Jeng?" ucap Sonia, dan Ranum mengangguk.
"Cucu? Berarti aku akan jadi Kakek?" timpal Ardinata.
Novan dan Nadien saling memandang, lalu keduanya menoleh ke perutnya yang masih rata. "Aku hamil?" ucap Nadien. "Masa sih, Bu aku hamil?" tanyanya pada ibu mertuanya.
"Iya, sewaktu Ibu hamil suamimu tanda-tandanya seperti ini. nangis tidak jelas, bawaannya pengen marah kalau lihat suami. Kalau ada diomelin kalau tidak ada di rumah disuruh pulang," jelas Ranum.
"Aku akan menjadi seorang Ayah dong?" ucap Novan. Saking senangnya ia langsung menggendong istrinya ala bridal style dan berputar. "Hore ... Aku akan menjadi seorang Ayah," ucap Novan senang.
"Biar lebih meyakinkan, kalian pergi ke dokter saja periksa apa benar Nadien hamil?" kata pak Chandra. "Belum akurat kalau belum diperiksa," sambungnya lagi.
Pada saat itu juga, ponsel Novan berdering. Dan i
Novan langsung mengangkatnya.
"Iya ada apa?" jawabnya pada sambungan itu, hari itu Novan ditugaskan Juan untuk mengadakan rapat penting, dan Juan sendiri masih belum bisa ikut hadir karena istrinya masih membutuhkannya di rumah. Panggilan pun berakhir, dengan berat hati ia menunda kepergiannya ke dokter.
"Kenapa?" tanya Nadien.
"Aku harus ke kantor sekarang, ada rapat penting dan aku tidak bisa meninggalkannya. Ke dokternya besok saja ya, kamu jangan berpikir kalau aku lebih mengutamakan pekerjaan dari pada dirimu, aku lakukan ini semua demi kalian," tuturnya.
Nadien mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Aku siap-siap dulu kalau begitu." novan pun undur diri dan meninggalkan istrinya yang masih menyisakan Ranum juga orang tua Nadien.
***
"Kenapa tidak kamu saja yang ke kantor? Kasian Novan 'kan dia baru sampai, beri dia waktu untuk istirahat," ucap Sahara pada suaminya yang baru saja menghubungi sahabatnya itu.
"Mana mungkin aku meninggalkanmu, anggap saja aku masih dalam keadaan masa cuti-ku. Biarkan saja Novan yang bertugas, 'kan dia sudah menyanggupinya," jawab Juan.
"Ya setidaknya kamu beri dia untuk bernapas, kamu saja yang pergi ke kantor di sini 'kan ada mama yang menemaniku," kata Sahara.
"Iya-iya ... Aku yang ke kantor, dan bosnya sekarang Novan," ucap Juan cemberut karena istrinya lebih mendukung sahabatnya dari pada dirinya. Juan pun langsung bersiap-siap mengganti baju untuk segera ke kantor. Sepeninggalnya Juan, Sahara langsung menghubungi sahabatnya.
"Aku sudah membujuk suamiku, kalau kamu mau ajak istrimu ke rumah sakit pergilah. Suamiku sudah berangkat," kata Sahara pada panggilan itu.
"Oh ... Jadi si bos yang sudah berani mengadu," celetuk Juan yang ternyata masih berada di ambang pintu.
"Bukan ngadu, Novan mau ke rumah sakit karena mau antar istrinya," jelas Sahara.
"Nadien sakit? Sakit apa dia?" tanya Juan penasaran.
"Giliran Nadien yang sakit langsung kepo, masih khawatir juga sama mantan tercinta!"
"Bu-bukan gitu maksudku, kamu jangan salah paham. Aku bukan khawatir, takutnya dia sakit karena pekerjaan kemarin saat di Amerika 'kan itu aku yang nyuruh," jelas Juan.
"Nyuruh? Bukan kamu yang nyuruh, itu 'kan memang kerjaannya."
"Berarti aku tidak salah dong nyuruh Novan ke kantor, itu 'kan emang pekerjaan dia menggantikan aku." Juan tak mau kalah sehingga mereka sedikit bertengkar pagi itu.
"Ngelak aja, kalau masih suka bilang jangan sok-sok perhatian segala bikin emosi saja," cetus Sahara.
"Oke-oke ... Aku ke kantor dan tak akan menyuruh Novan lagi." Meski sedang marah, ia tak lupa memberi kecupan di kening istrinya, lalu mencium baby Han. "Aku pergi dulu," pamit Juan setelah mencium istri dan anaknya.
...----------------...
__ADS_1
Promosi novel teman silahkan mampir.