Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Tunggu Halal


__ADS_3

Tak lama dari situ, Jihan pun ikut menyusul karena penasaran pada calon menantu Ranum. Ibu-ibu di luar masih berisik karena terus membicarakan model cantik itu.


"Coba, mana pacarnya Novan?" tanya Jihan. "Ka-kamu." Jihan masih ingat di mana ia pernah melihat gadis itu, pertemuan yang tak mengenakan bahwa yang di mana Nadien datang tiba-tiba mengaku sebagai kekasih dari anaknya waktu itu.


Nadien tersenyum miris, ini pertemuan kedua dengan Jihan yang gagal akan menjadi calon mertuanya.


"Kamu kenal, Han?" tanya Ranum.


"Kenal-lah, diakan ..." Jihan terhenti sesaat, ia tak mungkin mengatakan apa yang dulu pernah terjadi, bagaimana pun gadis ini pacarnya Novan dan tidak ingin membuat Ranum tidak menyukainya dengan kelakuannya. Apa lagi Jihan tidak tahu apa yang sebenarnya waktu itu. Bahkan melihat mimik wajah Nadien, Jihan jadi ragu karena tidak ingin menghancurkan momen bahagia ini.


"Dia apa?" timpal Ranum.


"Emang kamu gak tau siapa calon mantumu ini?" tanya Jihan. Ranum menggeleng, bertemu dengannya pun baru kali ini. "Dia itu aktris loh, model yang sedang naik daun," terang Jihan.


Ranum menautkan kedua alis, lalu menatap wajah putranya. "Bener dia artis?" tanyanya. Novan mengangguk. "Makanya beliin Ibu tv biar tau, kalau punyakan Ibu kenal sama calon mantu Ibu ini. Aduh Ndok, maafin Ibu ya," katanya pada Nadien.


"I-iya, Bu. Gak apa-apa, aku juga sama kaya Ibu hanya wanita biasa," Nadien merendah.


"Sudah makan?" tanya Ranum. "Di sini banyak makanan enak, mau Ibu ambilkan? Biar tidak jadi bahan rebutan lagi," tawar Ranum.


"Iya, Bu. Ambilkan saja, Nadien memang belum makan, aku belum sempat ajak pacarku makan," kata Novan.


Ranum melototi anaknya. "Pacar macam apa kamu ini membiarkan perut calon istrimu kelaparan?" bentak Ranum. "Ibu keluar dulu sebentar ambil makanan, Ibu yang masak loh, kamu pasti suka." Ranum pun keluar dengan gesit. Beberapa saat ia telah kembali membawa satu piring nasi penuh dengan bermacam-macam lauk. Isi piring itu sangat penuh ditambah ada jengkol yang ia yakin Nadien pasti bakal suka.


"Ya ampun, Bu. Itu nasi banyak amat, Nadien makan gak sebanyak itu, Bu. Itu posri untuk kuli bangunan," kata Novan.


"Ah kamu ini berisik sekali!" cetus Ranum.


Nadien yang melihat langsung menelan saliva, porsi itu benar-benar sangat banyak rasanya ia tidak akan sanggup jika harus menghabiskannya dalam sekejap. "Tidak apa-apa, sini, Bu," pinta Nadien.


"Tuh, pacarmu saja tidak apa-apa," kata Ranum. "Kamu itu lebay banget, mana ada yang menolak masakan Ibu yang mengugah selera ini," sambungnya. Ranum pun memberikan makanan itu pada Nadien.


"Kamu yakin bakal abisin itu?" bisik Novan di telinga Nadien.

__ADS_1


"Ranum, kita keluar yuk? Acara sudah mau dimulai," ajak Jihan. Ranum mengiyakan tapi ia pamit lebih dulu pada calon menantunya.


"Nanti Ibu kembali, kamu abisin makanannya ya? Jangan buang-buang nasi pamali," kata Ranum, lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk.


Sepeninggal yang lain, kini menyisakan Novan dan Nadien di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Naovan tidak yakin kalau kekasihnya akan menghabiskan makanan itu sendiria, ia pun akhirnya mengambil alih piring itu dari Nadien.


"Kok diambil sih? Itu 'kan makananku," ucap Nadien.


"Kamu yakin ini bakal abis? Makanannya banyak loh, kamu tidak makan sebanyak ini nanti perutmu buncit," terang Novan. "Kita makan berdua aja ya, lagian apa kamu suka sama jengkol?" tanyanya.


"Gak tau, aku belum pernah coba. Enak gak sih?" tanyanya penasaran. "Tapi, kok aromanya gini?" Nadien mencium aroma jengkol yang sangat aneh menurutnya.


"Ya, sedikit bau memang. Tapi rasanya dijamin enak, ini penambah nafs* makan tau."


"Masa? Coba suapin aku, aaa...? Nadien membuka mulut dan Novan pun menyuapinya. Saat jengkol itu masuk ke dalam mulut Nadien, ia terdiam sejenak lalu mengunyahnya. Novan yang melihat menjadi ragu.


"Bagaimana?" tanya Novan.


"Enak, rasanya gini tapi enak, aku mau lagi," pinta Nadien. Mereka berdua pun akhirnya makan dalam satu piring berdua. Nadien menikmati makan malamnya beda dari malam-malam sebelumnya.


"Kamu malu gak punya pacar seperti aku? Kamu itu cantik, kaya, pokoknya jika dibanding kita bagaikan langit dan bumi."


Nadien tidak menjawab karena ia merasa aroma mulutnya tidak sedap setelah makan jengkol. Karena ia mendengar kata orang-orang bahwa jengkol itu bau dan ia merasakannya sekarang.


"Kamu kenapa diam saja?" tanya Novan. "Kamu malu ya punya pacar kayak aku?"


Nadien menggeleng lalu mengangguk.


"Tidak suka?" Nadien menggeleng lagi. "Kamu kenapa?" tanya Novan. Nadien menyentuh bibir, tapi Novan salah mengartikan. Ia malah mencium bibir gadis itu.


"Novan ....," teriak ibunya, Ranum memukup bahu anaknya yang tengah mencium kekasihnya. "Apa-apaan kamu ini? Buat malu saja!" bentaknya.


"Sakit, Bu," pekik Novan.

__ADS_1


"Bandel kamu ya, jangan begitu! Kalian belum halal! Jauh-jauh." Ranum menarik tangan Novan biar menjauh dari gadis cantik itu. "Maafkan kelakuan anak Ibu ya? Ibu tidak pernah mengajarkannya kurang ajar seperti itu," terang Ranum.


Ranum tidak tahu saja, sebelum mereka pacaran pun anaknya sering mencium kekasihnya. Semuanya sudah terlanjur, Bu.


"Tunggu halal dulu, baru kalian boleh begitu!" kata Ranum.


"Iya-iya ... Maaf," sesal Novan.


Ranum melihat piring bekas makan Nadien, semuanya ludes tak tersisa. "Enak 'kan masakan Ibu?" tanya Ranum. Nadien mengangguk. "Mau nambah?" Nadien menggeleng ia sudah tidak sanggup menampung makanan itu.


"Ibu, Nadien sudah kekenyangan," kata Novan. "Makanannya abis karena aku juga ikut makan, Nadien makan tidak sebanyak itu, dia tidak boleh makan padat malam-malam begini," terang Novan.


"Jadi artis gitu emang? Tersiksa sekali, kalau laper bagaimana?" tanya Ranum.


"Ya makanannya beda sama kita, Bu," jelas Novan.


"Ya udah, makan buah saja mau tidak?" tawar Ranum.


"Tidak usah, Bu. Aku sudah kenyang," tolak Nadien.


"Ya udah kalau begitu, Ibu tinggal lagi ya? Novan, awas kalau begitu lagi!" ancam Ranum. "Tunggu sampai kalian halal."


"Iya, Ibu ...," jawab Novan.


Nadien dan Novan duduk berjauhan. "Kayak musuh ya kita?" tanya Novan. "Ibu tidak ada ini." Novan menggeserkan duduknya dan merapatkan tubuh mereka.


"Kata ibu juga jauh-jauh, aku tidak PD dengan mulutku, aku mau permen," pinta Nadien. Novan meraba saku menacari apa masih ada permen yang tersisa? Ia tidak merokok sehingga hanya permen yang selalu dibawanya.


"Ya ... Tinggal satu permennya, gimana dong?" tanya Novan.


"Buat aku saja," pinta Nadien.


"Bagaimana kalau ..." kata Novan menggantung.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh, kata ibumu tunggu halal!"


__ADS_2