Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Hanya Komitmen


__ADS_3

Bukan masalah gangguannya dari orang lain kepadanya, Juan tak ingin pergi meninggalkan istrinya terlalu lama apa lagi pergi bersama Nadien. Bagaimana pun ia tak ingin membuat hati istrinya menjadi cemas karena pergi bersama mantan kekasih.


"Kamu percaya pada suamimu? Pergi dengan waktu lama bersama mantan, yang benar saja, Sahara?" Novan mengompori. "Pada dasarnya lelaki akan mudah terbuai akan namanya mantan, apa lagi mantan terindah," sambung Novan.


"Ada masalah apa kamu denganku? Kamu memiliki perasaan pada istriku, hah? Terus kamu cemburu karena yang menjadi jodoh Sahara itu aku, iyakan?" Akhirnya Juan mengutarakan ketakutan akan perasaan.


Novan terdiam karena memang benar apa kata Juan. Novan hanya tidak ingin Sahara sakit hati karena ulah suaminya nanti. Maka dari itu ia terus menekan Juan agar membuka mata untuk tidak menyakiti sahabatnya itu.


"Kok kaliam jadi bertengkar sih? Aku percaya karena suamiku tidak mungkin mengkhianatiku," tutur Sahara. Juan bukan tipe laki-laki yang suka tebar pesona, kalau pun ia akan berkhianat mungkin sejak awal akan membohonginya. Juan tak mungkin menyakitinya. Bahkan Juan mengambil keputusan karena ada anak di antara mereka.


Juan jadi emosi karena Novan, bisa-bisanya lelaki itu mengatakan bahwa ia lelaki yang tak bisa dipegang janjinya.


"Aku mau istirahat, boleh aku minta kalian untuk tenang?" pinta Sahara.


Juan mau pun Novan langsung terdiam jika Sahara sudah berbicara. Wanita itu pun langsung memejamkan mata. Sedangkan Novan dan Juan bak musuh yang sudah lama memendam amarah masing-masing. Setelah Sahara dirasa sudah tidur dengan nyenyak, Juan langsung mengajak Novan bicara empat mata.


"Ikut aku, aku mau bicara denganmu," ucap Juan sambil beranjak.


Novan pun ikut menyusulnya dan mereka berbicara di luar.


"Aku tau kekhawatiranmu masuk diakal, Nadien mantanku, tapi setidaknya jangan katakan apa pun di depan Sahara. Dia lagi hamil dan tidak boleh banyak pikiran, selama ini aku tidak pernah membahas wanita lain jika sedang berdua karena itu komitmenku. Aku tidak mau menyakiti siapa pun," terang Juan.


"Sekarang kamu pikir jika kamu ada di posisiku kamu mau apa? Lagi bahagia-bahagianya lalu ada orang datang merusaknya dan mengacaukan semuanya, pikir jadi aku, Novan! Aku mencoba menerima takdirku dan aku harus bertanggung jawab pada Sahara. Apa jadinya kalau tidak menikahinya dan malah menikah dengan Nadien? Sahara akan menanggung malu karena ulahku."


"Jadi kamu terpaksa menikahi Sahara? Apa perasaanmu juga palsu?" tanya Novan.

__ADS_1


"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu," kata Juan, karena menurutnya cukup ia yang tahu bagaimana perasaannya terhadap istrinya. Ia tak ingin Novan terlalu ikut campur mengenai rumah tangganya.


Setelah mengatakan itu, Juan berlalu karena ingin mencari angin segar. Sementara Novan duduk di kursi tunggu, ia tak berani masuk kembali karena takut mengganggu waktu istirahat Sahara. Novan merenungkan kata-kata Juan. Pria itu memang bertanggung jawab dan tidak membiarkan Sahara hamil seorang diri.


Yang jadi pertanyaannya, apa Juan benar-benar sudah melupakan Nadien? Bagaimana kalau ternyata perasaannya masih ada kepada wanita itu, terus Sahara tersakiti? Novan menggelengkan kepala ia tak akan membiarkan itu terjadi pada sahabatnya. Bahkan ia akan ikut bersama Juan untuk memantaunya, takut hanya bertahan sampai Sahara hamil dan pernikahan itu kandas setelah melahirkan.


***


"Apa benar Juan menikahiku karena komitmen?" Tanpa sepengetahuan Juan dan Novan, Sahara mendengar perbincangan mereka. Juan memang baik selama ini, bahkan selalu bersikap sabar tapi ia tak percaya kalau Juan sampai rela membuatnya terluka sendiri karena ia masuk ke dalam hidupnya dan mengacaukan semuanya.


"Berarti semua ini salahku, aku menyakiti mereka karena kehadiranku," lirih Sahara yang meringkuk di atas brankar. "Aku tidak akan egois, Juan. Kamu berhak memilih," tuturnya lagi. Meski Juan sudah mengungkapkan perasaannya, tapi Sahara belum sepenuhnya percaya akan perasaan suaminya. Juan hanya menjaga perasaannya agar tidak stres, pikirnya.


Tapi di sini, Sahara pun tidak ingin memikirkan semuanya apa lagi sampai berdampak pada janinnya. Kebaikan akan dibalas kebaikan, begitu pun sebaliknya. Jika selama Juan masih menganggap akan keberadaannya selama itu juga ia akan berprilaku baik. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menjaga buah cintanya.


***


"Selama aku pergi jaga kesehatanmu, jaga anak kita ya?" kata Juan.


"Hmm, aku akan menjaganya dengan baik kamu tidak usah takut," jawab Sahara.


"Kamu sudah siap 'kan?" tanya Juan. Sebelum pergi, Juan akan mengantarkan Sahara ke tempat neneknya. Kondisinya pun sudah mulai pulih, jadi ia sedikit tenang saat meninggalkannya.


"Novan, aku titip suamiku ya?" kata Sahara.


"Hmm, tentu. Dia aman bersamaku, aku bisa jamin itu kamu tenang saja," jawab Juan.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun keluar dari rumah sakit. Sahara duduk di kursi belakang bersama istrinya dan Novan yang menyetir mobil. Juan menarik tubuh Sahara agar bersandar di tubuhnya. Lalu mengecup pucuk kepalanya dengan sangat dalam.


Apa ini bentuk komitmen? Aku tidak bisa membedakan mana perasaan tulus atau hanya sekedar komitmen, apa suamiku belum sepenuhnya mencintaiku


Mencoba untuk tidak memikirkan semuanya itu bohong, Sahara takut dengan kepergian suaminya yang bersama Nadien. Jauh dari pantaunya membuatnya cemas.


Tibalah mereka di rumah Sahida. Juan mengantar Sahara sampai rumah bahkan sampai kamar.


"Jangan banyak beraktivitas, kamu banyak-banyak istirahat ya. Aku akan cepat pulang." Juan mencium kening lalu mencium bibir Sahara sekilas. Tak ada respons dari Sahara, wanita itu terlihat bengong. "Jangan cemas, aku bersama Novan. Kalau kamu tidak percaya padaku kamu bisa menghubunginya untuk menanyakanku sedang apa di sana," kata Juan lagi.


"Aku percaya, beri aku kabar setibanya di sana." Sahara memeluk Juan dengan sangat erat dan Juan membalasnya.


"Aku pergi," pamit Juan kemudian.


Lalu ia segera berangkat bersama Novan. Mereka langsung menuju lokasi yang berada di luar kota.


"Coba kamu hubungi Rani, apa mereka sudah berangkat?" titah Juan pada Novan setelah berada di mobil menuju perjalan ke Bandara.


"Iya," jawab Novan tanpa protes. Semua agenda Juan sudah diberikan kepadanya jadi Novan tahu apa saja yang akan dilakukan Juan hari ini, dari mulai meeting sampai pria itu beraktivitas selama di luar kota. Mereka pergi ke Surayabaya selama dua hari, lalu setelah itu akan ke Bali selama dua hari pula.


Novan menghubungi Rani dan menanyakan apa mereka sudah ada di Bandara.


***


"Ini kesempatanmu, jangam sia-siakan itu," pesan Sonia pada Nadien yang ikut mengantar anaknya pergi ke Bandara.

__ADS_1


Nadien tak menjawab, ia malah langsung turun dari mobil dan segera pergi. Nadien bosan dengan kata-kata Sonia yang terus memaksanya.


__ADS_2