Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Memborong Lingeri


__ADS_3

Kini, Novan dan Nadien sudah berada di sebuah restoran. Tepatnya di dekat pantai. Bahkan kali ini, Rani ikut serta. Gadis itu berpenampilan beda dari biasanya. Nadien pun hampir tak mengenali gadis berumur 23 tahun itu. Rani yang terbiasa berpenampilan apa adanya, dan kali ini gadis itu memoles wajahnya.


"Apa aku sudah cantik?" tanya Rani tiba-tiba.


"Kamu kesambet jin dari mana?" tanya Nadien.


"Ih, aku serius!" Rani terlihat cemberut karena temannya itu meledeknya.


"Apa kamu menyukai tuan Jorch?" tanya Nadien.


"Dia masih single tak ada salahnya kalau aku naksir," jawab Rani.


"Bagus deh, kamu pepet saja terus. Jangan biarkan si bule itu main mata terus pada istriku," timpal Novan.


Tak lama, ponsel Novan berdering. Ternyata yang menghubunginya adalah Juan, pria itu penasaran dengan pertemuannya itu. Ia berharap prodaknya akan diterima di masyarakat Amerika sana. Juan menghubungi melalui vidio call.


"Apa ada yang ingin kamu tanyakan pada sahabatmu ini?" tanya Juan pada Sahara.


Sahara pun mengambil alih ponsel suaminya, ia menyapa pengantin baru itu.


"Hai, Ra? Gimana kabarmu? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Novan di sebrang sana.


"Iya, aku baik-baik saja. Bagaimana di sana? Apa menyenangkan?" tanya Sahara. Novan mengangguk, jelas sangat menyenangkan apa lagi pergi sambil bulan madu. Novan berharap sepulang dari sana istrinya seperti Sahara.


"Kalian happy-happy ya di sana, jaga kesehatan. Aku tunggu kabar baik sepulang dari sana," ujar Sahara.


Novan tahu kemana arah pembicaraan mereka. Pria itu hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban.


"Eh, sudah dulu ya. Si bule sudah datang," ujar Novan. Dan tak lama, ponsel pun mati. Sahara memberikan ponsel itu kepada suaminya.


"Novan mengakhirinya, katanya si bule sudah datang. Siapa si bule yang dimaksud Novan?" tanya Sahara.


"Pimpinan di sana, namanya tuan Jorch," jawab Juan.

__ADS_1


"Mereka sedang apa?" tanya Sahara lagi.


"Sepertinya akan makan malam, 'kan waktu kita di sini beda sama di sana," jawab Juan. Jika di sana malam hari, berarti di Indonesia siang hari. Juan dan Sahara tengah duduk santai di taman belakang. Tak lama dari situ, Jihan datang sambil membawakan cemilan.


"Terima kasih, Ma," kata Juan.


Jihan hanya tersenyum, lalu menoleh ke arah anaknya. "Ra, kamu sudah baik-baik saja 'kan?" tanyanya. Terkadang, Sahara masih terlihat murung. Memang tak mudah melupakan orang yang selalu ada bersama kita semasih hidup.


"Ya, Ma. Aku baik-baik saja, aku sudah mengikhlaskan almarhum nenek. Aku ingin nenek tenang di sana," jawab Sahara, bumil itu mengambil cemilan yang disuguhkan oleh ibunya.


Dan Juan senang akan keikhlasan istrinya merelakan nenek Sahida.


"Kalau kalian bosan, kalian pergilah jalan-jalan. Bisa sekalian lihat-lihat perlengkapan bayi," usul Jihan.


"Aku sudah mengajaknya, katanya nanti saja kalau sudah selesai acara tujuh harian nenek," sahut Juan.


"Kalau emang mau pergi, pergilah. Acara tahlil 'kan nanti setelah isya," kata Jihan lagi. Ia hanya ingin melihat putrinya kembali tersenyum seperti dulu, mungkin dengan melihat perlengkapan bayi anaknya akan kembali semangat bahwa sang buah hati sudah dinantikan.


"Gak papa kalau aku pergi?" tanya Sahara memastikan.


Akhirnya, Sahara putuskan untuk pergi sambil menghibur diri.


***


Juan mengajak istrinya ke pusat perbelanjaan. Di sana menyediakan semua peralatan bayi. Kelahiran anakanya tidak akan lama lagi. Juan menyiapkannya dari sekarang, dari mulai kereta bayi bahkan sampai mainan. Karena calon anaknya perempuan, jadi mereka memilih warna pink disetiap kebutuhan anaknya itu.


Sahara memilih sepatu mungil berwarna pink, ia tersenyum karena membayangkan. Sepatu bayi itu sangat cantik, merasa lucu kalau anaknya yang memakainya. Ia jadi tidak sabar menanti buah cintanya. Namun, tak terasa air matanya terjatuh membasahi pipi. Ia teringat, betapa dinantikannya anaknya itu oleh mendiang neneknya. Tapi, buru-buru ia mengusap sudut matanya. Ia tak ingin suaminya tahu kalau ia masih berduka.


Sahara juga harus memikirkan perasaan orang terdekatnya. Mereka sangat mengkhawatirkan dirinya, dan ia pun harus meyakinkan mereka kalau dirinya baik-baik saja.


"Apa saja yang kamu inginkan? Apa sudah menemukan yang kamu suka?" tanya Juan.


"Aku hanya ingin ini." Sahara memperlihatkan sepatu cantik itu kepada suaminya. Juan pun menyukainya karena sepatu itu memang sangat lucu.

__ADS_1


Hampir semua pernak-pernik Juan yang memilih, dan Sahara setuju-setuju saja dengan hal itu. Semua perlengkapan sudah dibeli, dan tidak ada yang tertinggal.


"Berapa, Mbak total semuanya?" tanya Juan pada kasir.


Kasir itu pun menyebut nominalnya. Sahara sangat terkejut saat mendengarnya. Pasalnya, ia tidak tahu apa saja yang dibeli oleh suaminya sampai menghabiskan uang puluhan juta.


"Kamu beli apa saja sampai banyak begitu?" tanya Sahara. "Kan tidak harus semuanya, kita bisa cicil belinya," katanya lagi. Sahara lupa siapa suaminya, bagi Juan, uang segitu tidak ada apa-apanya. Untuk orang lain saja ia sampai bisa memberikan sebuah rumah, apa lagi untuk anaknya. Tentu ia ingin yang terbaik untuk calon anaknya kelak.


"Semua kebutuhan anak kita, jadi kita tidak usah bolak-balik. Pulang dari sini aku mau siapkan kamar untuk anak kita."


Juan dan Sahara sudah tidak tinggal di rumah mereka. Setelah kepergian Sahida, Jihan mengajak anaknya tinggal di rumah utama. Karena rumah itu lebih leluasa tinggali olehnya.


"Ya sudahlah, terserah kamu saja," ucap Sahara. Ia juga tidak mungkin mengembalikan barang yang sudah dibeli.


Mereka pun undur dari toko itu. Juan mengajak ke tempat pakaian wanita.


"Untuk apa kita kesini?" tanya Sahara.


"Beli itu, beli beberapa saja," kata Juan. Ia ingin istrinya terlihat cantik meski perutnya dalam keadaan buncit. Selagi belum melahirkan, ia akan mengajak istrinya bercinta menggunakan lingeri baru yang lebih menggoda.


"Aku malu," ucap Sahara. Apa lagi dalam keadaan perut besar, mungkin orang-orang akan mengira bahwa mereka sering bercinta, pikirnya.


"Kamu duduk saja, biar aku yang memilih," ujar suaminya.


Sahara membulatkan mata tak percaya, suaminya akan memilih pakaian wanita termasuk **********. Apa kata orang nanti? Dan ternyata benar apa kata suaminya itu. Juan sudah menghilang dari pandangan, pria itu sudah mendapatkan beberapa jenis pakaian tidur ala bercinta. Ingin rasanya Sahara menenggelamkan diri. Juan jadi pusat perhatian ibu-ibu yang tengah belanja.


Ibu-ibu pada berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. Hampir setiap warna suaminya itu membelinya, bahkan ada banyak model. Terlihat Juan mondar-mandir ke tempat lain hanya untuk mengambil pakaian yang berbeda jenis. Hingga akhirnya, Juan memborong lingeri. Tanpa sadar bahwa ia akan berpuasa setelah istrinya melahirkan nanti. Dan pakain wanita itu hanya akan menjadi penunggu lemari.


Saat mengantri di kasir pun ibu-ibu tadi masih membicarakannya di belakang, dan Juan tidak peduli akan hal itu. Ia membelinya untuk istrinya sendiri, karena kehangatan di ranjang itu paling penting dalam sebuah hubungan.


...----------------...


Rekomemdasi hari ini, silahkan mampir selagi nunggu aku up, maaf upnya tidak dari biasanya. Aku sibuk RL🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2