
"Tunggu!" Novan terus mengejar Nadien. Pada tempat yang sudah mulai sepi, Nadien memperlambat langkahnya. Ia rasa sudah cukup aman dari sepasang suami istri itu, mereka tengah di lorong menuju lift. "Kamu masih marah?" tanya Novan berhasil menghentikan langkah gadis itu.
"Tidak, bukankah kita sering melakukannya? Untuk apa aku marah? Gak ada untungnya juga 'kan?"
"Kok gitu sih ngomongnya, kamu nyesel?"
"Tidak! Sudah ku bilang tidak ya, tidak!" sentak Nadien kesal.
"Tuh 'kan marah-marah terus, jangan ngambek-ngambek-lah kayak anak kecil aja. Apa mau pulang sekarang? Sudah malam juga." Novan melihat jam di pergelangan tangannya.
***
Nadien dan Novan sudah berada di dalam lift. Di dalam lumayan penuh, dan Novan memberi perlindungan kepada Nadien agar gadis itu tidak terhimpit oleh pengguna lift yang lain. Lagi-lagi posisi mereka saling berhadapan, tak henti-hentinya Novan memandang wajah gadis itu. Nadien sampai malu dan wajahnya berubah merah.
"Jangan melihatku seperti itu terus!" kata Nadien.
"Kenapa? Aku suka, hidungmu, matamu, alismu." Ucapan Novan semakin membuat Nadien jadi salah tingkah. Novan berbeda dari pria lain, laki-laki itu walau pun ngeselin tapi ngangenin.
Apa aku sudah jatuh cinta padanya? Tapi kenapa secepat ini? Apa istimewanya dia?
Nadien melihat Novan dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tidak ada istimewanya dari laki-laki itu, hanya bertubuh lumayan kekar dan tingginya melebihi dirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh denganku? Aku jelek ya?" Pertanyaan konyol itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Nadien menahan tawa dengan membekap mulutnya sendiri. "Aku suka tawamu, jangan ditutup!" Novan meraih tangan Nadien agar terlepas dari bibirnya.
"Mau apa? Jangan macam-macam, di sini banyak orang!"
Novan melihat ke sekitar, lalu berdiri dengan tegap. Posisinya jadi pusat perhatian. Dan tak lama, pintu lift terbuka. Mereka berdua pun keluar karena sampai di tujuan yaitu tempat parkir mobil.
***
"Ini mobil Sahara, aku pinjam," kata Novan jujur saat sudah berada di dalam mobil. "Aku orang tak punya, aku tidak tau apa kamu akan menerimaku atau tidak, yang jelas aku menyukaimu. Ya, aku akui pertemuan pertama kita buatmu kesal," tutur Novan.
Nadien hanya menjadi pendengar setia.
"Kamu mau tidak jadi pacarku? Tapi aku tidak punya apa-apa, aku hanya punya cinta dan keberanian." Itu ungkapan isi hati Novan yang sebenarnya, ia tahu mana saatnya untuk serius. "Nadien." Novan meraih tangan gadis itu, dan posisi duduknya menghadap ke arah Nadien. "Lihat aku!"
__ADS_1
Nadien melihat wajah Novan dengan serius, melihat kesungguhan dari mata lelaki itu. "Kamu mau tidak jadi pacarku?! Tapi aku tidak terima penolakan! Kamu loh gadis beruntung yang aku cintai."
Beruntung? Nadien sampai langsung membulatkan mata saat mendengar kata itu. "Iya, beruntung. Karena ini pertama kali aku mengungkapkan isi hatiku kepada seorang gadis, bahkan kamu yang mendapatkan ciuman pertamaku." Novan sangat berkata jujur, tidak ada yang disembunyikan dari dirinya.
"Tapi bagaimana dengan mamaku?" tanya Nadien.
"Itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang, kamu mau tidak jadi pacarku?!"
Nadien mengangguk cepat, Novan mampu membuatnya nyaman meski sering membuatnya kesal. Novan yang melihat anggukan itu langsung memeluknya dengan sangat erat bahkan sampai Nadien merasa sesak.
Uhuk, uhuk ...
Nadien sampai batuk saking kencangnya Novan memeluknya. "Maaf, aku terlalu bersemangat," ucap Novan, lalu melepaskan pelukkannya.
"Mamaku bagaimana?" tanya Nadien.
"Untuk sementara biarkan seperti ini, mereka menganggapku orang kaya dan aku butuh sandiwara ini untuk menaklukkan mereka."
"Tapi bagaimana kalau mereka tau? Kebohongan tidak selamanya abadi."
Novan kembali memeluk gadis yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya beberapa menit yang lalu. Lalu melepaskan pelukkannya, saling memandang satu sama lain. Mereka kembali menautkan bibir mereka, kali ini ciuman itu berbeda karena sudah memiliki status yang jelas. Mereka begitu menikmati momen mereka, Novan lepas kendali, ia membuka kancing baju yang dikenakan gadis itu.
Kancing pertama terlepas, kedua terlepas dan ketiga. Novan menghentikannya. "Maaf, aku rasa ini sudah kelewatan." Novan kembali mengancingkan kancing yang sudah terlepas.
"Sebaiknya kita pulang."
***
Novan mengantar Nadien pulang sampai ke rumah. Kedatangan mereka disambut oleh kedua orang tuan Nadien. Pak Chandra sudah siap membawa catur, ia akan mengajak calon menantunya itu bermain dan kali ini pria itu harus kalah olehnya.
"Ayo kita main," ajak pak Chandra.
"Tapi ini sudah malam, tidak enak bertamu malam-malam begini," tolak Novan secara halus.
"Tidak apa-apa, dienakin aja. Lagian 'kan yang punya rumah yang ngajak, Om tidak menerima penolakkan!"
__ADS_1
Novan menoleh ke arah Nadien seakan minta pendapat. Gadis itu hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. "Aku masuk dulu, aku mau mandi," pamit Nadien.
Mau tidak mau, Novan menerima tantangan calon bapak mertuanya. Dan mereka sudah duduk saling berhadapan bahkan fokus pada kotak-kotak berwarna hitam dan putih itu. Kali ini, pak Chandra harus menang. Ia tidak menerima kekalahan.
"Skakmat!" Lagi-lagi Novan berhasil mengalahkan pak Chandra.
"Udah deh, Pa. Papa tu gak ada bakat." Kata Nadien membawakan cemilan dan minuman lalu meletakkan di atas meja. Wajah segar dari gadis itu nampak terlihat karena baru selesai mandi.
"Cantik." Satu kata itu meluncur begitu saja dari mulut Novan.
"Anakku memang cantik, dan kamu laki-laki beruntung yang sudah mendapatkan hatinya," tutur pak Chandra.
"Denger! Kamu yang beruntung mendapatkanku, bukan aku yang beruntung mendapatkanmu!" kata Nadien, lalu mendudukkan diri di sebelah sang pacar.
Tak lama, Sonia datang dan ikut bergabung dengan mereka. "Oh iya, teman-teman Mama ingin bertemu lagi denganmu, kata mereka kamu bisa senam zumba tidak? Kalau bisa mau tidak jadi instruktur zumba, ajari teman-teman Mama."
"Mama!" protes Nadien.
"Mmm, maksud Mama bukan begitu, apa ya ..."
"Tidak boleh! Novan itu pacar aku, aku tidak rela Novan disentuh tante-tante."
Sonia hanya nyengir kuda karena sudah salah berucap. "Ya sudah, lupakan saja itu. Kamu ikut Mama arisan saja ya?"
"Mama!" Nadien kembali protes.
"Iya-iya, tidak! Mama diam dan tidak ajak Novan, kecuali dia yang mau."
"Awas saja kalau berani ikut!" ancam Nadien pada Novan.
"Iya, aku tidak akan ikut!" sahut Novan, ia tak akan berani macam-macam.
"Kalian ganggu saja, Papa lagi maen nih sama calon mantu," kesal pa Chandra.
"Si Papa, kalah ya kalah aja, Pa. Mending kita tidur, biarkan mereka berdua pacaran, ayo," ajak Sonia lalu menarik tangan suaminya.
__ADS_1