
Juan meraih tangan istrinya lalu mengecupnya dengan dalam. Sayang seribu sayang, dirinya yang lagi puasa tak bisa menjamah istrinya. Sehingga ia memendam hasratnya seorang diri, ia pun tak menceritakan keinginan sebenarnya.
Sahara pun menyandarkan kepala di bahu sang suami sambil mengelus kepala yang masih botak itu, siapa lagi kalau bukan baby Han. Tidak pekanya, Sahara malah semakin merapatkan tubuhnya tanpa disadari telah membangkitkan sesuatu di tubuh suaminya. Sahara tidak tahu akan hal itu karena milik suaminya tertindih bantal yang di atasnya ada baby Han.
"Sayang, aku mau mandi dulu. Kamu pindahin baby Han ya?" pinta Juan.
Sahara pun menarik diri sambil mengangguk, lalu berdiri dan menggendong anaknya bersama bantalnya. Juan menyembunyikan sesuatu yang kini sudah menegang, ia memilih untuk membersihkan diri menghilangkan hasratnya dengan cara mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
***
Tubuhnya kini sudah basah, dan miliknya sudah tidak menegang lagi akibat guyuran air dingin. Selama istrinya belum habis masa nipasnya, maka ia akan terus menahan sampai waktunya tiba. Juan lelaki setia, ia tak mungkin jajan di luar. Memiliki istri cantik tak membuatnya berpikir akan mengkhianati istrinya.
Beberapa saat, mandi pun selesai. Ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya. Sedangkan Sahara tengah duduk selonjoran di samping baby Han. Lalu melihat suaminya yang kini sudah segar bugar.
Tok tok tok ...
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Ra ...," panggil sang mama.
"Iya, Ma," jawab Sahara. Lalu ia turun dan membuka pintu. "Ya, Ma?" kata Sahara lagi.
"Makan malam dulu, suamimu mana? Apa masih tidur?" tanya Jihan. Dan Juan pun menghampiri sambil memakai kaos oblong. "Mama kira kamu masih tidur, ayo makan malam dulu," ajaknya.
"Aku masih kenyang, Ma. Aku nanti saja kalau laper, lagian baby Han sendiri takut nanti kebangun. Mama ajak saja suamiku," jawab Sahara.
"Ya udah kalau begitu, ayo," ajak Jihan pada Juan.
"Aku tidak akan lama," bisik Juan kepada istrinya sambil berlalu.
Setibanya di ruang makan, Juan langsung mengambil piring meletakkan nasi cukup lumayan banyak, serta lauk pauk dan sayur. Ardinata sampai melongo dibuatnya.
__ADS_1
"Kamu yakin makan sebanyak itu?" tanya sang papa.
Juan hanya tersenyum tanpa menjawab. Mana mungkin Juan menghabiskan makanan sebanyak itu, ia akan makan berdua dengan istrinya di dalam kamar.
"Loh, mau kemana?" tanya Ardinata lagi saat anaknya berlalu.
"Makan berdua, Pa. Biar romantis," jawab Juan berteriak saat menaiki anak tangga.
"Ma, makan berdua juga yuk? Mengenang masa muda dulu," ucap Ardinata pada istrinya.
"Malu sama umur, Pa. Sudah punya cucu juga," tolak Jihan secara halus.
"Ish ... Mama ini gak romantis sekali sih, romantis itu gak mandang umur, Ma. Sini, duduk dekat Papa." Ardinata menepuk kursi meja makan di sebelahnya. "Bila perlu kita buat adik untuk Juan, Ma," sambungnya kemudian.
Jihan langsung melotot, dikira hamil diusianya tidak beresiko apa? Usia Jihan sudah mencapai 40 tahun, bahkan sebentar lagi 41. Mana mungkin ia melahirkan lagi? Yang ia inginkan memiliki cucu banyak dari Sahara.
"Canda, Ma," ucap Ardinata saat melihat tatapan tajam istrinya.
Bi Lastri yang melihat pun menertawakan majikannya yang menurutnya sangat lucu. Ardinata tak berubah, sejak dulu ia menginginkan hadirnya sosok penerus dari istri tercintanya itu. Tapi Jihan tidak mau karena yang diinginkannya hanya Rara. Rara yang ia harapkan waktu itu sehingga ia mengabaikan keinginan suaminya.
Karena cinta yang amat besar, Ardinata tak memaksa istrinya untuk hamil. Hanya kecewa yang ia rasakan saat Jihan memintanya mengantar ke dokter untuk memasang pengaman. Tapi kekecewaannya tidak ia tunjukkan. Sikap Ardinata kini memawarisi anaknya, (Juan Ardinata)
***
"Makan yang banyak biar cepet pulih," kata Juan saat menyuapi istrinya.
"Aku sudah pulih, sayang ... Kamu mau aku gendut? Tipe wanita idamanmu 'kan cantik, seksi, body langsing. Kalau aku gendut terus kamu cari yang baru," ujar Sahara.
"Pikirannya kok gitu sih! Kamu 'kan habis melahirkan, wajar saja kalau sedikit berisi. Kalau gak banyak makan nanti ASI-nya sedikit kasian baby Han 'kan?"
"Dari tadi aku terus yang makan, kamu malah nggak. Sini, biar aku yang suapin kamu." Sahara mengambil alih piring yang dipegang suaminya lalu menyuapi suaminya. "Kamu yang harus banyak makan, biar sehat terus dan bisa menjaga kami," tutur Sahara.
__ADS_1
Belum suapan kedua kali, baby Han sudah terbangun. Terpaksa Sahara menyuduhi menyuapi suaminya. "Kayaknya baby Han haus," ucap Sahara.
Ibu muda itu menggendong putranya dan hendak memberikan ASI secara langsung. Sahara merasakan perih saat baby Han mulai memompa ASI-nya. Dan Juan melihat ekspresi istrinya yang meringis kesakitan.
"Jangan dipaksa kalau memang sakit, aku buat susunya dulu kalau begitu." Ucap Juan sambil beranjak dan meletakkan piring di atas meja. Ia langsung membuat susu formula yang memang sudah tersedia di dalam kamar.
"Tapi Baby Han tidak mau minum susu itu, kata Mama juga harus dibiasakan biar tidak sakit lagi," kata Sahara.
"Tapi aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti itu, bila perlu aku beli susu yang paling mahal biar Baby Han mau menyusu," oceh Juan sambil melanjutkan aktivitasnya. "Sini, biar Baby Han sama aku. Tadi juga anteng saat aku gendong."
Dan benar saja, baby Han langsung terdiam dan mau menyusu. Juan meletakkan baby Han di tempat tidur tanpa melepaskan botol susunya. Dan Sahara sibuk mengoleskan salep di bagian putin*nya.
Beberapa saat, baby Han sudah tertidur. Juan menopang botol susu dengan alat khusus, lalu menghampiri istrinya yang masih sibuk mengolesi putin* dengan salep. "Perlu bantuan?" tawar Juan.
"Sudah selesai kok," jawab Sahara. Namun buah dada itu sangat keras karena air susu yang sangat subur sehingg merembes keluar. "Coba ambilkan pompa itu, sekalian sama botol bersih," pinta Sahara kemudian.
Setelah Juan memberikan alat pompa itu Sahara langsung memeras susunya dengan alat itu agar air susunya tidak keluar lagi dan tidak sakit. Juan merasa kasihan sehingga ia hanya bisa memijat pundak istrinya pelan.
"Aku tidak apa-apa, nasib wanita memang seperti ini," ucap Sahara menenangkan suaminya.
"Iya aku tau, dan tugas suami membantu istrinya bukan? Aku memang tak bisa merasakan apa yang kamu rasakan, jadi aku menggantinya dengan keringatku. Mengganti air susu untuk Baby Han, dan semoga keringatku menjadi berkah untuk keluargaku. Aku sayang kalian." Juan memeluk istrinya dari belakang.
"Terima kasih sudah tulus mencintaiku, aku sangat mencintaimu," ucap Sahara dari lubuk hati yang paling dalam. Ungkapan hati keduanya membuat mereka tahu apa arti sebuah keyakinan, meski hubungan itu tidak diawali rasa cinta tapi berkat takdir yang diterima dengan ikhlas sehingga akhirnya berujung manis.
...----------------...
Rekomendasi karya teman.
Nama pena : MinNami
Judul : My Beautiful Venus
__ADS_1