Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Kebahagiaan Masing-masing


__ADS_3

"Gak salah borong itu?" tanya Sahara setibanya di dalam mobil.


"Kenapa memangnya?" balik tanya suaminya.


"Aku nanti melahirkan loh, apa tidak kebanyakan beli itu?" Sahara pikir hanya akan menjadi penunggu lemari saja lingeri itu.


Dan Juan terdiam sesaat, ia mencerna penuturan istrinya. Tiba-tiba ia pun menoleh pada istrinya saat menyadarinya. Lingeri itu hanya akan menjadi bayang-bayangnya saja selama masa nipas nanti. Sebaiknya ia simpan rapat-rapat lingeri itu dari pada pusingnya nanti naik ke kepala.


"A-aku akan menyimpannya," jawab Juan sedikit kecewa.


***


Mereka pun akhirnya sampai di rumah. Jihan dan suaminya menyambut kedatangan mereka, dan para pekerja di rumah membantu menurunkan barang-barang yang sudah dibeli. Dan tak lama, sebuah mobil box pun sampai. Di mobil itu tempat tidur untuk anaknya nanti.


"Pak, simpan di mana barang-barangnya?" tanya pekerja lelaki di sana.


"Di kamar atas, Pak. Sebelah kamarku," jawab Juan.


Perlengkapan bayi pun langsung di bawa. Tanpa lelah, Juan ikut membantu memasangkan tempat tidur bayi itu. Ia sangat puas saat melihat hasilnya. Di ambang pintu, Sahara nampak melihat. Bibirnya melengkung, sebuah senyuman itu terukir jelas di bibirnya.


Juan menyadari kehadiran istrinya, lalu menghampirinya. "Bagaimana? Kamu suka?" tanyanya.


"Hmm, cantik sekali," jawab Sahara. Ia menyesuri ruangan itu, menyentuh kelambu tempat tidur anaknya. Anaknya pasti akan merasa nyaman jika tidur di tempat yang lembut itu. "Terima kasih," ucap Sahara.


"Untuk apa?" tanya suaminya.


"Untuk semuanya, dari awal bertemu aku sering buatmu kesal. Bahkan kita menikah tanpa cinta, tapi kesabaranmu membuatku jatuh cinta padamu." Sahara memeluk suaminya dan menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Juan membenamkan kecupan di pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Kehadiranmu membuatku sempurna, Sahara. Pertemuan kita sudah takdir, aku bahagia memiliki istri sepertimu. Sikapmu sangat tulus, meski kamu sedang membutuhkan uang waktu itu, tapi kamu tidak memanfaatkan keadaan," jelas Juan.


***


Di tempat lain.


Novan dan Nadien tangah duduk, mereka baru saja menyelesaikan makan malam bersama Jorch. Novan kini tengah merajuk karena istrinya disuapi makan oleh pria bule itu. Dan lebih kesal lagi, Nadien menerima suapan dari Jorch.


Bagi Jorch, hal itu sudah lumrah. Tapi tidak dengan Novan. Novan masih marah meski istrinya sudah meminta maaf. Dan akhirnya, Nadien malah berbalik marah pada suaminya karena lelaki itu sangat menyebalkan menurutnya.


"Kok kamu yang jadi marah sih," kata Novan. "Kan kamu yang salah," sambungnya.


"Apa? Aku yang salah katamu?" ucap Nadien. "Lihat, mereka saja tidak apa-apa dengan kejadian barusan. Kamu tau Rani menyukai pria itu, tapi Rani tidak marah saat Jorch menyuapiku. 'Kan aku sudah bilang, punya istri yang berprofesi sepertiku ya ini resikonya," jelas Nadien.


"Tapi tidak begini juga, Nadien. Ada aku saja kamu berani begitu, apa lagi tidak ada aku!" Novan kesal pada istrinya. Mereka terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah, tanpa tahu sikap masing-masing.


"Mau kemana?" tanya Novan.


"Ke kamar, aku ngantuk!"


Novan pun menyusul. Apa salah jika ia cemburu? Di depan mata, Nadien berani menerima suapan dari laki-laki lain, itu yang buat Novan marah tingkat dewa. Tanpa ia sadari, kemarahannya malah menjadi malapetaka baginya.


"Aku minta maaf, ya aku memang berlebihan. Cemburuku tak beralasan, begitukan maksudmu?" tanya Novan. Novan lebih baik mengalah karena ia tidak akan menang jika melawan yang terhadap namanya wanita.


Nadien tak menjawab, ia malah langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Tanpa mengganti pakainnya terlebih dulu. Novan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Susah ya kalau cewek sudah marah? Aku harus ngapain agar dia tidak marah lagi padaku?" gumamnya sendiri. "Apa aku telepon Juan saja ya?" Novan nampak menimbang-nimbang, antara menghubi Juan atau tidak? Yang jelas, Juan bisa membantunya karena Juan lebih tahu bagaimana siakp istrinya itu. "Tapi jam berapa ya di sana? Nanti aku malah mengganggu mereka lagi," ucapnya sendiri.

__ADS_1


Karena memang sudah larut, Novan pun ikut menyusul istrinya tidur. Ia memeluk istrinya, tapi dengan cepat Nadien memindahkan tangan suaminya. Novan tidak peduli dengan tolakan istrinya, ia terus merayu istrinya itu agar tidak berbalik marah lagi padanya.


"Maafkan aku, aku sudah tidak mengertimu. Jika itu semua memang kebutuhan kerja, aku terima. Tapi jangan marah terus dong," bujuk Novan.


"Aku tidak marah, mungkin memang aku yang tidak bisa menjaga sikap. Aku belum terbiasa dengan ini, apa lagi hanya sekedar dia menyuapiku." Nadien tidak ingin memperpanjang masalah ini, ia anggap ini hanya pemanis. hubungan mereka saat pemula dengan menjadi peran suami istri.


Dan akhirnya mereka tertidur dengan sendirinya.


Tanpa terasa, akhirnya pekerjaan mereka selesai. Tapi, Novan tidak langsung pulang. Ia akan pergi ke suatu tempat yang di mana, Ardinata telah mempercayakannya untuk mengelola pekerjaannya di sana.


Dan kali ini, Novan mau pun Nadien tidak menyembunyikan hubungan mereka di perusahaan Ardinata yang dibidang properti itu. Kedatangan mereka disambut oleh pekerja setia Ardinata di sana. Perlahan, Novan mulai memahami setiap pekerjaannya. Ia akan membuktikan kepada Juan bahwa ia jiga layak menjadi seorang pengusaha.


Novan mulai memperlajari sedikit pekerjaan di sana. Novan tengah menerima panggilan dari Ardinata, menanyakan perihal pekerjaannya di sana. Novan cukup mengerti dan memahami semuanya. Nadien sendiri tengah berdiri di sisi jendela. Dan tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ya, Ma," jawab Nadien. Sonia-lah yang menghubunginya. Dan momen ini sangat pas, Sonia menghubungi anaknya karena ingin tahu bagimana kabarnya. Selebihnya ia ingin tahu apa Novan benar-benar orang kaya atau hanya karyawan di sana.


Nadien memperlihatkan suaminya yang tengah menatap layar laptop ditambahi adanya pria asing di sana itu membuat Sonia semakin yakin kalau Novan memang benar-benar seorang bos. Karena Sonia sudah yakin, Nadien pun menyudahi percakapan mereka.


Novan sudah berbincang dengan pria asing itu. Ia juga tidak butuh bantuan istrinya hanya untuk menerangkan apa yang diucapkan si bule karena karyawan Ardinata, di sana sudah pandai berbicara Indonesia.


Kerjaan sudah sepakat, Novan yang akan menggantikan posisi Ardinata di sana. Mungkin ini awal dari kebahgiaan mereka. Juan dan Nadien akhirnya memiliki kebahagiaan masing-masing.


...----------------...


Rekomendasi hari ini, mampir ya teman-teman.


__ADS_1


__ADS_2