
Novan dan Nadien sampai di toko bayi yang letaknya tak jauh dari Bandara. Anak Juan sudah bagaikan seperti seorang anak Raja. Maya memilih bahan yang berkualitas karena tak ingin kena omel, karena bayi itu sangat dinantikan oleh keluarga Ardinata.
Menyambut kelahiran bayi itu sangat luar biasa.
"Kenapa harus salah prediksi sih? USG-nya tidak canggih tuh," gerutu Novan.
"Kamu ngomel aja, bantu Maya sana!" kata Nadien. "Aku tunggu di sana." Nadien menunjuk sebuah bangku panjang di dekat kasir, ia bersama Rani di sana.
"Hmm, iya-iya. Aku bantu dia, kamu istirahat saja di sana. Perlu aku belikan minum dulu?" tawar Novan. Nadien nampak menggelengkan kepala karena sejujurnya ia sedikit pusing.
Satu bulan lamanya ia berada di luar negri, rencananya hanya 1 minggu minggu berada di sana. Namun, Ardinata menyerahkan pekerjaannya pada suaminya mau tak mau ia harus berada di Amerika satu bulan lamanya.
Ponsel Nadien berdering, Sonia sedari tadi menunggu kepulangan anaknya. Mereka semua rindu kepada anak gadis satu-satunya itu. Dan Ranum pun sudah menantikan kedatangan mereka, bahkan Sonia sekarang berada di istana Novan. Mereka semua sudah tahu bahwa anak-anaknya akan menetap di Amerika, dan resepsi harus digelar semeriah mungkin di sini. Sonia ingin semua tahu bahwa anaknya sudah menikah, dan akan meninggalkan dunia hiburan.
Karena Novan tidak akan membiarkan istrinya bekerja apa lagi Nadien selalu didekati oleh pria-pria yang tertarik pada kecantikan istrinya itu.
Sudah hampir satu jam Novan dan Maya berkutat di dalam toko, belanjaan sudah sangat banyak.
"Apa ini masih kurang?" tanya Novan.
"Sepertinya belum, selimut, aku mau cari selimut. Si bos maunya warna biru semua harus warna biru dan merah," jelas Maya.
"Kamu saja yang teruskan, aku cape, May. Kaki ku sudah pegal," tutur Novan. Ia pun menghampiri istrinya yang tengah duduk bersama Rani. Wajah Nadien nampak terlihat cemberut mungkin model cantik itu kesal karena terlalu lama menghabiskan waktu di dalam toko. Ia kesal karena tubuhnya tiba-tiba kurang vit. Ia pikir mungkin akibat kecapean.
Novan menarik tubuh istrinya agar bersandar padanya, ia tak tega melihat wajah lesu istrinya. "Kamu pulang duluan saja ya sama, Rani. Sepertinya aku masih lama di sini," kata Novan. "Rani, kamu ajak istriku pulang. Kalian istirahat saja," sambungnya pada sang manager istrinya.
"Oke, ayo," ajak Rani pada Nadien.
"Tidak apa-apa kalau aku pulang duluan?" kata Nadien.
"Iya, tidak apa-apa. Kalian pulang saja, bukannya mama-mu sudah menunggu? Mereka ada di rumah bersama ibu, kalian pulang ke rumah ibu saja," tutur Novan. Nadien mengangguk lalu segera pergi bersama Rani.
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian, Maya menyelesaikan belanjaannya tanpa ada yang kurang. Mereka sangat lega karena tugas dari sang bos sudah selesai. Maya pun langsung ke kasir untuk membayar. Novan langsung terkejut saat mendengar nominal pembayaran, sedikit lagi mencapai seratus juta.
"Kamu beli apa saja sampai segitu mahalnya? Harganya sudah mencapai beli rumah, di kampungku harga tanah masih murah bahkan bisa bangun rumah meski hanya sepetak dua petak," kata Novan.
"Aku gimana disuruhnya saja, semua belanjaan sudah di list. Jadi aku ambil sesuai kebutuhan saja. Udahlah, bukan urusan kita juga kok," jawab Maya.
Meski Novan sudah menjadi orang berada, tapi ia tidak bisa menghambur-hamburkan uang. Ia akan membeli barang sesuai kebutuhan, karena pikirnya mencari uang itu sangat susah. Novan mengalami betapa sulitnya mencari uang.
"Cepatlah bayar, aku mau kita segera pulang tubuhku rasanya remuk redam," titahnya kemudian.
***
Kamar si kecil tengah dirombak, semuanya diganti termasuk dinding dengan stiker yang senanda dengan gambarnya. Kini, semua berubah warna menjadi biru dan merah. Kalau kemarin tema hello kitty dan sekarang berubah menjadi spiderman, bernuansa waran merah dan biru.
Novan masih berada di sana, kini ia sempatkan untuk melihat bayinya. Bayi mungil itu tengah tidur di sebelah Sahara.
"Istriku lahiran di rumah, dan yang lebih hebatnya lagi tanpa dokter. Hebat 'kan istriku?" ucap Juan dengan bangga.
"Wah, masa? Serius, Ra?" tanya Novan tak percaya, karena yang ia tahu melahirkan itu sangat sakit karena menaruhkan nyawan.
"Hmm," jawab Sahara singkat, sejak tadi ia tak melepaskan bayi mungilnya itu. Sahara sangat gemas, rasanya tidak sabar menantikan pertumbuhan si kecil. "Bayiku tampan 'kan?" kata Sahara.
Novan menelisik wajah bayi mungil itu. "Kalau dilihat-lihat, anakmu mirip ya denganku?" tanya Novan.
"Enak saja, dia mirip padaku-lah. Aneh juga kalau mirip denganmu!" cetus Juan yang tak terima anaknya dibilang mirip dengan pria itu. "Kata ibumu saja kamu itu jelek, anak-ku itu tampan begitu kok."
"Lihat saja beberapa hari ke depan, wajah bayi yang baru lahir itu berubah-ubah," kata Novan. "Kamu itu sangat membenciku, katanya kalau istrinya lagi nanti anaknya bakal mirip sama orang yang dibencinya itu," tutur Novan lagi.
Seketika, Juan melempar Novan dengan bantal. Perkelahian di antara mereka kini terjadi lagi. "Kamu pikir anak-ku Bunglon bisa beruba-ubah," Juan tak terima.
__ADS_1
"Ih ... Gak percaya!" sungut Novan.
"Sudah pulang sana, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," usir Juan karena kesal.
"Ya, aku inginnya tidak mampir ke sini. Nyesel aku tengok keponakan," sahut Novan.
"Enak saja keponakan, keponakan dari Hongkong. Saudara bukan, temen deket juga bukan!" cetus Juan.
"Iya denganmu tidak! Sahara teman dekatku sejak kecil, justru kamu tuh yang datang tiba-tiba ke dalam hidup sahabatku!" Novan tak mau kalah.
Sahara menghela napas, rasanya ia ingin memarahi kedua lelaki itu. Karena baru melahirkan sehingga ia tak dapat bicara dengan nada tinggi. "Kalian itu berisik, kalau mau ribut di luar sana! Ganggu anak-ku saja!" omel Sahara.
"Ya udah, aku pulang," pamit Novan.
***
Juan menatap wajah putranya, karena ucapan Novan membuatnya ketakutan. Takut anaknya mirip dengan lelaki itu.
"Kamu kenapa? Kamu percaya sama omongannya Novan?" tanya Sahara. "Dia itu hanya bercanda, jangan ditanggepin serius gitu sih."
"Ti-tidak!" elak Juan, padahal iya ia takut.
"Aku laper, ambilin makan dong," pinta istrinya.
"Siap." Ucap Juan seraya hormat, ia akan menjadi suami siaga. Ia tak ingin seperti tadi saat istrinya melahirkan. Ia tak menyambut kelahiran putranya yang bernama Sarhan Ardinata Putra.
Bayi mungil itu kini melengkapi kabahagiaan keluarga kecilnya. Sahara tersenyum melihat tingkah suaminya. Betapa beruntungnya ia memiliki suami seperti Juan, lelaki idaman setiap wanita. Sahara berharap, kelak anaknya akan memwarisi sikap suaminya yang selalu ramah terhadap perempuan.
...----------------...
Kembali membawa cerita teman, silahkan mampir. Jangan lupa dukungan untuk ceritaku, terima kasih.
__ADS_1