
Juan mengerejap, pria itu terbangun lebih dulu lalu melihat jam di ponsel, tapi ia mendapat pesan dari sang papa. Juan pun beranjak dengan sangat pelan karena tidak ingin mengganggu istrinya yang masih tertidur. Ia pun pergi ke luar dan duduk di teras, Juan membaca pesan itu sambil memijat pelipisnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
Hari sudah mulai sore, Juan terus melamun sampai tidak menyadari seseorang di sana bahkan sudah duduk di hadapannya. Ya, Novan yang duduk di sana. Pria itu sedikit bingung biasanya bosnya akan mengomel jika sedang bersamanya tapi kali ini tidak. Juan pun berniat kembali ke dalam dan tak merespons keberadaan asistennya itu.
"Kau itu kenapa? Apa tidak melihat keberadaanku?" tanya Novan.
"Diamlah, aku lagi pusing," jawab Juan berlenggang masuk ke dalam.
"Kenapa dia? Apa ada masalah atau jangan-jangan mereka bertengkar dengan Sahara," gumamnya sambil menyentuh dagu karena berpikir.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku tidak mungkin bertengkar dengan istriku!" sahut Juan yang masih di ambang pintu. Novan pun menoleh dan tersenyum canggung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Lalu kenapa cemberut begitu? Tidak biasanya, ayo sini cerita siapa tau aku bisa membantumu." Ucapan Novan membuat Juan kembali duduk dan menanyakan sesuatu pada pria itu, siapa tahu Novan dan bi Ranum tahu masalalu keluarga Sahara.
"Apa kamu tau sesuatu tentang orang tua istriku?" tanya Juan.
Novan mengerutkan kening. "Kenapa menanyakan itu? Apa karena ini kamu tidak masuk kantor? Apa Sahara sudah bertemu dengan mamanya?"
"Jadi kamu tau soal mama Sahara? Apa kamu juga tau kenapa mamanya pergi dan meninggalkannya?"
"Aku tidak tau, yang aku tau mama Sahara masih hidup. Tapi sepertinya ibuku tau soal ini karena ibuku berteman dengan mama Sahara."
"Bisa aku bertemu dengan ibumu?" ucap Juan.
"Ayo ikut," ajak Novan.
***
__ADS_1
"Ya, jadi begitu ceritanya. Jihan pergi bersama laki-laki lain. Bibi kurang tau pasti alasan kenapa Jihan pergi, yang jelas Jihan sangat menyayangi keluarganya. Nenek Sahida memang kurang menyukai menantunya karena sering keluyuran malam, tapi Bibi tau kalau dia membantu perekonomi keluarganya. Jihan bekerja di club sebagai pelayan."
Juan terus mendengarkan cerita bi Ranum sampai ia menyimpulkan bahwa papanya ikut terlibat. Atau jangan-jangan mamanya pergi memang karena papanya? pikirnya. Tapi perjuangan Jihan membuatnya terharu, saking sayangnya pada keluarganya Jihan rela banting tulang membantu suaminya yang sudah sakit-sakitan.
Sahara tak patut membenci mamanya, ia harus mempertemukan mamanya dan istrinya. Tanpa Sahida tahu, Juan akan menyusun rencana agar semua kembali normal.
"Apa kamu bisa membantuku agar istriku mau bertemu dengan mamanya?" tanya Juan pada Novan.
"Ya, nanti aku bantu. Tapi coba kamu bujuk dulu dia, siapa tau Sahara mau. Aku sendiri lagi pusing di kantor, aku masih baru loh di sana terus harus menggantikanmu."
"Ya sudah, kamu urus saja kantor. Semua aku serahkan padamu, nanti aku beri kamu bonus," kata Juan.
Bonus? Apa ini akan menjadi awal kariernya? Semoga saja, ia sudah tidak sabar ingin membuktikan bahwa ia layak untuk Nadien.
"Baiklah, aku pulang. Terima kasih infonya ya, Bi?" Juan pun pamit dan akan mengatakan semuanya padanya Sahara tetang mamanya yang sangat menyayanginya.
***
"Kamu sudah bangun?" Juan menghampiri lalu mengecup kepala istrinya.
"Abis ngapain dari rumah Novan?" tanya Sahara tanpa menoleh.
"Abis menemui bi Ranum," jawab Juan.
"Untuk apa?" Penasaran, Sahara pun kini menoleh dan melihat wajah suaminya.
"mencari info tentang mama, bi Ranum cukup tau kisah mereka aku sampai nangis mendengar kisah mama Jihan, dia menyangi keluarganya dan dia juga sangat menyayangimu," jelas Juan.
"Kalau dia sayang padaku dia tidak mungkin pergi meninggalkanku," kata Sahara.
__ADS_1
"Bi Ranum memang tidak tau kenapa alasan mama pergi yang jelas dia menyayangimu, apa kamu tidak ingin mendengar alasan kenapa mama pergi? Semua orang punya kesalahan di masalalu, apa kamu tidak mau beri mama kesempatan? Apa kamu juga tidak ingin kembali berkumpul?"
"Aku ingin, tapi sepertinya nenek tidak terima dengan sikap mama yang pergi meninggalkan papaku. Papaku sampai meninggal karena ingin mengejar mama yang pergi bersama laki-laki lain. Itu artinya mama tidak ingin hidup susah dan malah pergi milih laki-laki kaya." Mengingat cerita neneknya, Sahara tidak begitu yakin kalau mamanya sangat menyayanginya.
Saat mereka berbincang, tiba-tiba kedatangan tamu. Tamu itu langsung masuk dan Sahida langsung mengusirnya. Siapa lagi tamu itu kalau bukan Jihan dan Ardinata, hanya Jihan yang membuat Sahida mengamuk.
Sahara dan Juan yang mendengar langsung pergi ke ruang tamu.
"Rara," panggil Jihan. Jihan nekat datang meski sudah dicegah oleh suaminya. "Mama ingin kita bicara," ucap Jihan lagi.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Jihan. Kamu sudah bahagia, sudah punya keluarga yang utuh kamu juga sudah mendapatkan laki-laki kaya," cetus Sahida.
"Bu, ini tidak seperti yang Ibu bayangkan. Aku lakukan ini demi anak dan suamiku," kata Jihan.
"Apa katamu? Demi anak dan suami! Apa aku tidak salah dengar? Jelas-jelas kamu pergi memilih pria kaya ketibang bersama anakku yang sudah sakit-sakitan," ucap Sahida.
"Cukup menyudutkan istriku, dia tidak salah. Harusnya Ibu berterima kasih pada menantumu ini, kalau bukan dia mungkin anakmu meninggal karena digerogoti penyakitnya. Jihan yang membiayai pengobatan anakmu, Bu. Tidak seharusnya Ibu bersikap seperti itu, dia juga tersiksa berpisah dengan keluarganya dan aku menyesal. Semua itu karena aku yang memberikan syarat pada Jihan. Setiap hari istriku menangis, dan kenapa Ibu mengganti nama Rara? Kami mencarinya karena namanya bukan Rara jadi kami tidak menemukannya. Kenapa Ibu mengganti nama Rara?" tanya Ardinata.
Sahida pun terdiam beberapa saat. "Pergi! Sebaikanya kalian pergi, jangan buat keributan di rumahku!" usir Sahida.
"Nek," protes Sahara yang masih ingin mendengar cerita mamanya.
"Kenapa? Apa kamu mau ikut bersama ibumu?" tanya Sahida. "Apa gunanya biaya operasi itu jika akhirnya tetap meninggal karena ingin mengejar seorang istri yang pergi bersama laki-laki lain?" Sahida tak terima itu karena anaknya yang pergi untuk selama-lamanya. Ibu mana pun akan merasakan sakit yang amat luar biasa jika ditinggal mati.
Sahara pun diam karena baru kali ini neneknya terlihat marah. "Tanpa mamamu kamu masih hidup, dan sekarang dia mau mengambilmu dariku! Belum cukup membuatku kehilangan putraku, hah?" ucap Sahida sambil melihat wajah Jihan yang menunduk. "Kamu mau ambil cucuku dan membawanya begitu?"
"Tidak, Bu. Aku hanya ingin Rara tau betapa aku menyayanginya, Ibu tidak akan kehilangan Rara," jelas Jihan.
"Omong kosong! Pergi! Saya bilang pergi!" usir Sahida.
__ADS_1