
"Arrgghhh ..." Juan kesal dan memukul stir kemudi. "Awas saja kamu, Sahara!!" Juan melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tak sabar ingin segera bertemu dengan istri nakalnya itu.
Sedangkan Sahara, ia tengah tertawa terpingkal-pingkal. Bumil itu sedang menonton tv bersama nenek Sahida. Wanita tua itu ikut tertawa, ia bahagia melihat cucunya yang gembira.
Sahara tertawa sambil membayangkan kekacaun pertemuan suaminya. Wanita mana yang tak marah dan curiga jika melihat tanda merah bekas bibir di kemeja si pria. Bukan cuma Nadien yang marah, Sahara pun pasti akan marah jika itu terjadi padanya.
"Ra, kemana suamimu pergi? Ini sudah waktunya makan malam loh, kamu juga belum makan 'kan?" tanya Sahida.
"Katanya lagi ada urusan sebentar, Nek." Jawab Sahara tanpa menoleh, bahkan ia masih tertawa terpingkal-pingkal. "Nenek makan saja duluan tidak usah menunggu Juan," titahnya pada sang nenek.
Tin tin ...
Suara klakson dari depan rumah terdengar di pendengaran Sahara juga nenek Sahida.
"Aduh, dia sudah pulang," gumam Sahara. "Nek, aku ke kamar dulu, kalau suamiku tanya bilang saja kalau aku sudah tidur." Kata Sahara sambil pergi dan langsung menaiki anak tangga.
Sahida mengerutkan kening, ada apa dengan cucunya itu? Suaminya pulang kenapa tidak menyambutnya? Hingga berpikir, 'mungkin itu hanya alasan'
"Dasar pengantin baru," gumam Sahida sambil geleng-geleng kepala.
Dan Juan pun datang, menyapa nenek Sahida karena wanita tua itu masih menonton tv. "Nek, Sahara di mana?" tanya Juan.
"Di kamar, sepertinya sudah tidur," jawab Sahida. Benar-benar bisa diajak kompromi wanita tua itu, andai dia tahu apa yang dilakukan cucunya, apa akan marah atau malah mendukungnya? Tentu Sahida akan mendukung cucunya karena apa yang dilakukan Sahara itu sudah benar. Menghempas pelakor yang mencoba merebut sesuatu yang sudah menjadi hak paten miliknya.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit ke kamar dulu, Nek." Juan berlari kecil menaiki anak tangga.
"Oh iya, Sahara belum makan loh. Tadi dia menunggumu pulang," sahut nenek Sahida, dan Juan pun menghentikan langkahnya.
Belum makan? Apa dia akan makan kalau aku yang memasak? Tapi Juan sedang marah, ia tak akan memasak malam ini, pikirnya. "Iya, Nek. Aku akan membangunkannya dan menyuruhnya untuk segera makan," jawab Juan. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar.
__ADS_1
***
Lampu di kamar sudah dimatikan, Sahara benar-benar pura-pura tidur karena takut mendapat amukan dari suaminya. Juan sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu. Ia tak bisa marah karena wanita hamil itu sangat sensitif. Yang ia lakukan setibanya di kamar hanyalah, menyalakan lampu, lalu membuka kancing atas kemeja dan menggulung bagian lengannya.
Kepalanya, rasanya ingin meledak. Pupus sudah harapannya bersama Nadien, gadis itu benar-benar marah padanya. Ia menghubunginya pun tidak diangkat, Juan sangat frustrasi. Ia menarik napas dalam-dalam lalu membangunkan Sahara karena teringat ucapan nenek Sahida yang kata 'Sahar belum makan.'
"Sahara?" panggil Juan.
Sahara mengumpat di balik selimut. Dia pasti marah karena sudah tau itu ulahku. Aku pura-pura tidur nyenyak saja.
"Bangun, Sahara. Aku tahu kamu tidak tidur, kamu sengaja begini karena ingin mengelabuiku 'kan? Aku janji tidak akan marah, tapi cepat bangun! Kamu belum beri anak-ku makan, Sahara." seru Juan.
Akhirnya, Sahara pun membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Bahkan ia sampai kegerahan. Keningnya berkeringat karena mengumpat di balik selimut tebal.
"Apa benar kamu belum makan?" tanya Juan. Sahara menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Kenapa belum makan? Nanti mag-mu kambuh lagi, apa harus aku yang memasak untukmu?" tawar Juan.
"Apa itu tidak merepotkanmu?" tanya Sahara.
"Aku tidak mau makan kalau kamu tidak ikhlas melakukannya, lagian aku tidak lapar. Aku mau tidur saja!" Sahara kesal karena suaminya hanya peduli pada calon anaknya, ia kembali merebahkan diri di tempat tidur. Tidak peduli pada Juan yang sedang kesal juga padanya.
Juan menarik selimut agar istrinya terbangun, tapi hasilnya nihil. Sahara malah berbalik merajuk. "Ayolah, Sahara. Kita ke bawah, Nenek juga menunggumu. Kita makan sama-sama," bujuk Juan.
"Kamu hanya peduli pada calon anakmu, tapi tidak padaku!" Tanpa disadari, Sahara menuntut perhatian dari suaminya.
"Oke, aku minta maaf. Maaf karena tidak peduli padamu, tapi sekarang kamu bangun aku akan masakan sesuatu untukmu, kamu pasti suka," bujuk Juan lagi.
Namun, Sahara tetap tak bergeming. Akhirnya Juan menyusul ke tempat tidur, hati dan kepalanya ikut lelah. Apa lagi memikirkan tentang kekasihnya yang marah padanya.
Posisi Sahara tengah meringkuk membelakangi arah suaminya. Dan Juan, ia menyandarkan kepalanya menggunakan tangan sebelahnya sebagai penyangga dan menghadap ke arah istrinya. Lalu menyentuh perut Sahara dari belakang sehingga tangan itu melingkari tubuh seolah memeluk.
__ADS_1
Sahara terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba dari belakang. "Anak Papa 'kan baik, coba bujuk Mama biar mau makan," ucap Juan seolah mengajak anaknya berbicara dan menyuruh ibunya untuk segera makan.
Mendengar perkataan itu, Sahara langsung berbalik. Sehingga posisi mereka saling berhadapan. "Kenapa kamu nakal sekali?" tanya Juan.
"Nakal?" ulang Sahara. "Memangnya apa yang aku lakukan?" tanyanya.
Juan menyentuh bibir Sahara yang merah dengan telunjuk. Sehingga Sahara dengan susah payah menelan ludah. Sentuhan itu seperti magnet, mampu membangkitkan hormon dari si jabang bayi. Sekejap, Sahara memejamkan mata.
"Dasar istri nakal," bisik Juan.
Sahara yang mendengar langsung membuka mata, menajamkan matanya ke arah mata suaminya. "Apa kamu bilang? Aku nakal?"
"Iya, kamu nakal. Lihat, ini perbuatanmu 'kan?" Juan memperlihatkan bekas bibir yang menempel di kemejanya. Sahara yang merasa tersenyum kikuk. "Apa ini namanya kalau bukan nakal?" tanya Juan.
"Itu bukan nakal, tapi melindungi suami dari wanita di luar sana. Itu artinya kamu sudah ada yang memiliki," tutur Sahara.
"Apa kamu sudah mulai menyukaiku sehingga kamu melakukan ini padaku? Kamu takut aku kembali pada Nadien, iya 'kan? Jawab!!"
"Tidak!" elak Sahara.
"Sungguh?" tanya Juan sambil mendekatkan wajahnya.
"Iya," jawab Sahara.
"Tidak mau ngaku kalau kamu sudah memiliki perasaan padaku?" Juan semakin mendekatkan wajahnya sehingga hanya menyisaka beberapa inci saja. Hembusan napas keduanya saling menerpa. Jantung Sahara berdebar tak karuan, posisi mereka sangatlah dekat, bahkan nyaris bersentuhan. "Benar tidak mau ngaku?" desak Juan.
Sahara terus menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bibirnya terkatup, lidahnya terasa kelu seakan tubuhnya terasa mati dan tak bisa digerakkan.
Ya, Tuhan ... Dia dekat sekali, apa dia akan menciumku? Pikiran Sahara benar-benar sudah ngelantur kemana-mana, sampai-sampai ia memejamkan kedua mata
__ADS_1
"Dasar nakal, kamu kira aku akan mencium-mu."