
"Sikapmu begini hanya karena mengalihkan perasaanmu 'kan? Memutarbalikkan fakta bahwa sebenarnya kamu itu sedang menghibur diri, iyakan? Matamu tidak bisa berbohong, hatimu terluka karena Nadien selalu berpikir bahwa kamu lelaki brengsek?" Pertanyaan Sahara membuat Juan menarik diri, lalu pria itu mengalihkan pandangannya.
Ya, Juan terluka karena sikap Nadien yang tak percaya lagi padanya. Satu-satunya yang bisa membuat perasaannya tenang adalah seperti ini, berlaga tidak apa-apa di hadapan istrinya. Sahara terus melihat ke arah suaminya, kenapa pria itu begitu mencintai kekasihnya?
"Kamu bisa curahkan semua tentang isimu yang terluka padaku," kata Sahara.
Juan tersenyum kecut, ia terlalu bodoh sehingga mengabaikan istrinya yang kini tengah mengandung darah dagingnya. Cinta memang membutakan segalanya. Nadien sudah tidak lagi percaya akan cintanya yang begitu besar. Juan menghembuskan napas dengan kasar, ia tak ingin memikirkannya lagi. Hati Nadien sekeras batu.
Sahara menyentuh tangan suaminya, lalu Juan pun menoleh ke arah punggung tangannya yang ditumpu oleh tangan Sahara. "Kamu sudah memilikiku, kamu tidak sendiri. Sebentar lagi hidupmu lengkap. Demi anak ini, lupakan dia!" Sahara menarik tangan Juan dan meletakkannya di perutnya yang masih rata.
"Ya, kamu benar, Sahara. Aku tidak boleh seperti ini," jawab Juan pasrah. Pasrah saat kehilangan Nadien, meski hatinya belum terima sepenuhnya.
"Jadi, jangan sedih lagi!" kata Sahara.
"Tapi kamu melupakan sesuatu!" ujar Juan.
"Apa?" tanya Sahara.
"Perasaanmu, kamu cinta padaku 'kan?" desak Juan. Hening untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba ... Tawa Juan menggelegar, ia melihat ekspresi Sahara yang terlihat kaku. "Aku becanda, jangan dianggap serius. Kamu melakukan ini karena uang bukan karena cinta padaku, sayangnya permainanmu kurang cantik. Jadinya kamu hamil terus terjerat dalam masalahmu sendiri, iyakan?"
Sahara tersenyum miris. Tanpa kamu sadar perasaanku mulai tumbuh, aku harap, kelak kamu akan menerimaku dalam hidupmu.
"Hey, kenapa bengong?" tanya Juan. "Kamu tidak usah memikirkanku, aku akan baik-baik saja. Untuk saat ini aku akan fokus pada kandunganmu," tutur Juan.
Fokus pada kandunganku? Kenapa aku merasa sakit saat mendengar kata itu? Sadar, Sahara. Dia menikahimu karena anak yang kamu kandung. Tapi bolehkan aku berharap? Perasaan tidak ada yang tau kedepannya akan seperti apa.
"Kakimu masih sakit gak?" tanya Juan kemudian. "Apa perlu kita ke dokter? Aku takut kakimu terkilir atau keseleo."
"Tidak usah, kita pulang saja." Tidak ada yang lain selain menenangkan hatinya yang mulai tak menentu, beginikah rasanya cinta sendiri? Pikir Sahara. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh.
"Baiklah kita pulang, aku takut kakimu masih sakit. Nanti aku pijat di rumah," kata Juan.
__ADS_1
"Emangnya kamu bisa?" Mendengar itu, Sahara jadi senang karena Juan sangat perhatian. Ia juga tak bisa menebak perasaan suaminya itu, baiknya tidak ketulungan. Hanya wanita bodoh yang menolaknya, dan ia beruntung meski dinikahi tanpa cinta tapi Juan tidak menunjukkan ketidaksukaannya padanya.
***
"Bisa jalan gak?" tanya Juan.
"Bisa, gak bisa kenapa? Tadi aja bisa jalan kok, kenapa sekarang gak," jawab Sahara. Mereka sudah sampai di rumah.
"Itu motor siapa?" Juan melihat sebuah sepeda motor di halaman rumahnya. Karena penasaran, Sahara pun ingin melihatnya. Melihat dari arah jendela tempat duduk suaminya.
"Itu motor, Novan. Dia ke sini pasti sama ibunya," jawab Sahara. Wajahnya terlihat bahagia akan kedatangan sahabat kecilnya itu. Dan pria yang di sebelahnya kelihatan tidak suka karena waktu kemarin sempat melihat Novan akan memeluk Sahara.
Sahara hendak turun, tapi Juan mencegahnya.
"Tunggu di situ dan jangan turun!" Juan langsung turun dan menghampiri pintu. Ia membukanya dan langsung membopong istrinya.
"Juan, turunkan aku. Aku bisa jalan kok, ada Novan juga bi Ranum, aku malu kalau mereka lihat."
Akhirnya, Sahara pasrah dibawa masuk ke dalam. Dan setibanya di dalam, Novan atau yang lainnya bertanya-tanya.
"Sahara kenapa?" tanya Ranum.
"Iya, dia kenapa?" timpal Novan.
Sahida yang khawatir langsung mendekat, dan melihat keadaan cucunya. "Sahara kenapa nak, Juan?" tanya Sahida.
"Aku tidak apa-apa, Nek," jawab Sahara. Lalu ia menoleh ke arah Novan juga bi Ranum. "Kalian ada di sini?" tanyanya pada mereka.
"Iya, Nenek yang menyuruhnya kemari," jawab Sahida. "Gak apa-apakan kalau mereka kemari nak, Juan? Nenek kesepian jadi menyuruh mereka ke sini," sambungnya.
"Iya, Nek. Tidak apa-apa, kalian lanjutkan saja obrolan kalian. Aku dan istriku ke kamar dulu," pamit Juan.
__ADS_1
Juan pun langsung pergi ke kamar dan Sahara masih tetap berada dalam gendongannya. Setibanya di kamar, Juan merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur. Lalu menghampiri laci dan mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut.
"Apa itu?" tanya Sahara melihat botol yang di genggam oleh Juan.
"Ini minyak urut, mama selalu menyuruhku membawa ini katanya akan berguna. Dan sekarang ternyata ini memang berguna," jawab Juan. Jihan berasal dari kampung, pengobatan pertama yang dilakukam saat terkilir atau keseleo yaitu diurut, dan ini obat paling ampuh saat terjadi kecelakaan seperti terkilir saat terjatuh seperti Sahara.
"Mama mu perhatian ya?" kata Sahara.
"Bukan cuma mama, aku juga perhatian." Juan membanggakan diri.
"Ya, ya ... Aku percaya kamu perhatian."
Juan duduk di sebelah Sahara, lalu meraih kaki istrinya itu dan meletakkannya di paha. Kaki yang putih muluh tanpa noda itu diolesi minyak, perlahan, Juan memijatnya.
"Bagaimana? Enak tidak pijatanku?" tanya Juan.
"Lumayan." Juan benar-benar memberikan perhatian ekstra terhadap istrinya, Sahara semakin dibuat jatuh hati kepada lelaki itu.
"Kalau masih sakit bilang ya? Kita ke dokter, aku takut ini berpengaruh pada anakku," ucap Juan.
"Mana ada? Kamu itu aneh, kaki sama perut apa hubungannya?" Sahara merasa ini sangat konyol, ia pun tertawa karena lucu.
"Aku serius, Sahara. Kamu tidak tau saja kalau itu cucu yang sangat dinantikan oleh mamaku, dia bisa marah kalau menantunya kenapa-kenapa."
"Jadi kamu melakukan ini karena mama mu? Sebenarnya kamu itu menerima anak ini apa tidak?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Dia anakku mana mungkin aku tidak menerimanya, jangan aneh-aneh dengan pertanyaanmu itu!" Nada bicara Juan terdengar ketus, ia tak ingin dinilai orang tua yang tidak baik. Juan berasal dari keluarga baik-baik juga penuh dengan rasa tanggung jawab. "Aku begini karena takut kamu kenapa-kenapa."
"Iya, maaf. Aku terima perhatianmu, selebihnya tolong ambilkan aku makan. Kamu lupa tidak memberi anakmu makan, tadi 'kan sibuk sama perasaanmu yang ..."
"Jangan dilanjutkan!" pungkas Juan.
__ADS_1