
Pergulatan panas pun akhirnya berakhir. Kini mereka tengah mandi bersama. Rumah Novan sudah terjamah oleh kedua manusia itu. Mereka hanya mandi dan tidak terjadi apa-apa. Seusai membersihkan diri, Juan dan Sahara berpakaian rapi kembali. Hanya rambut basah mereka yang membuat seisi rumah itu berpikir yang tidak-tidak. Apa lagi yang dilakukan sepsang suami istri kalau bukan bercinta?
Novan yang tahu akan hal itu pun bungkam seribu bahasa, ia tak ingin pagi ini ada keributan. Bahkan ia sudah siap dengan setelan kantornya, pagi ini ia ada janji bersama sang kekasih. Mereka akan pergi ke butik untuk membeli pakaian yang akan menjadi saksi bisu di hari spesial mereka.
"Bu, aku pergi dulu ya?" pamit Novan.
"Kenapa buru-buru? Sarapanmu belum habis," kata bi Ranum.
"Takut telat, Bu. Aku mau ke butik dulu soalnya."
"Ya udah, hati-hati."
"Ra, aku duluan," pamit Novan.
"Tuh 'kan, aku selalu tidak dianggap," gerutu Juan.
"Novan lagi buru-buru, harap dimaklum ya? Kamu jangan marah-marah terus sama dia," kata Sahara.
"Kamu bela terus aja dia!"
"Sensi banget sih, diam-diam kamu minta diperhatiin ya sama, Novan?" ledek istrinya.
"Gak-lah!" elaknya. "Abis sarapan kita langsung pulang ya?" ajak Juan. Dan Sahara mengangguk.
***
Novan sudah berada di kediaman Nadien. Sonia menyambut baik kedatangan calon menantunya, ia sudah tidak ragu dengan Novan.
"Sudah sarapan belum?" tanya Sonia. "Kalau belum sarapan dulu selagi nunggu Nadien selesai," sambungnya.
"Sudah, Ma. Aku sudah sarapan," jawab Novan. Tak lama, Nadien muncul. Ia sudah siap pergi bersama kekasihnya. Wajah Nadien pagi ini sangat ceria, mamanya sudah benar-benar mersestui. Sehingga, kemana pun ia tak lagi dilarang-larang.
"Aku sudah siap," ucap Nadien setibanya di hadapan Novan.
__ADS_1
"Ma, aku sama Nadien berangkat dulu ya?" pamit Novan. "Papa di mana? Kok pagi ini tidak kelihatan?" tanyanya lagi.
"Papa sudah berangkat, katanya ada urusan penting," jawab Sonia. "Ya sudah kalian berangkat, nanti keburu macet," titahnya.
Nadien dan Novan pun berangkat menuju butik. Butik itu tempat langganan Nadien, sehingga ia ke sana hanya mengambil kebayanya saja. Dan untuk Novan harus dicoba terlebih dulu. Untung, pakaian mereka sudah pas di badan sehingga mereka langsung pulang setelah mendapatkan barang yang diinginkan.
Pulang ke kantor maksudnya, karena mereka harus menyiapkan keberangkatkan seusai ijab qobul nanti. Novan dan Nadien masih menjalani rutinitas seperti biasa. Pekerjaan masih sibuk hingga mereka pulang larut.
***
Dan tibalah waktu yang ditunggu-tunggu. Hari ini, Novan akan mempersunting Nadien Chandra Kirana, gadis yang ia cintai. Dan Nadien gadis pertama yang dipacari oleh Novan Sahputra. Kini, Novan sudah duduk manis. Menunggu kedatangan sang mempelai wanita.
Beberapa saat, mempelai wanita pun hadir. Nadien berjalan dengan sangat anggun, gadis itu menunduk malu. Meski hanya kerabat terdekat yang ikut hadir di sana. Sang pengantin terlihat sangat cantik, sang mempelai pria pun merasa pangling. Nadien memang cantik, tapi kali ini lebih cantik.
Nadien sudah duduk di samping Novan. Duduk berhadapan dengan penghulu serta ayah kandung Nadien. Pak Chandra mengulurkan tangan, dan dijabat oleh Novan. Keringat dingin bermunculan di area kening. Novan gerogi, napasnya terasa pendek. Tangannya pun bergetar, pak Chandra merasaka itu.
"Tenanglah, Novan. Kamu ini bukan mau masuk penjaraa, kamu itu mau menikah," ucap papanya Nadien.
"Saudara Novan Sahputra, apa Anda sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Iya, saya siap," jawab Novan tegas.
Selanjutnya, pak Chandra meneruskan ucapan pak penghulu karena pak penghulu sudah memberikan intrupsi.
Dengan lantang pak Chandra menikahkan putri semata wayangnya kepada Novan Sahputra dengan mas kawin yang cukup mewah sehingga yang mendengarnya pun cukup tercengang. Dan dengan satu kali tarikan napas, Novan berhasil mempersunting anak pak Chandra.
Haru biru terjadi. Ranum pun menitikkan air mata saat anaknya resmi melepas masa lajangnya. Semua ikut menitikkan air mata termasuk Sahara karena pernikahannya jauh berbeda dengan dirinya. Tapi, Juan memberi kekuatan. Ia menggenggam tangan istrinya.
"Maafkan aku," ucap Juan.
"Maaf untuk apa?" tanya Sahara.
"Pernikahan kita beda dengan mereka," lirih Juan,
__ADS_1
Sahara tersenyum lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya. "Tapi aku cukup bahagia menikah denganmu," kata Sahara. "Ini hasil buah cinta kita, dia yang akan melengkapi kebahagiaanku."
Sementara Novan dan Nadien sudah sungkeman kepada orang tua masing-masing. Ranum memeluk menantunya bahkan menciumnya, Ranum sangat tulus merestui pernikahan mereka. Lalu bergantian memeluk anaknya.
"Jaga istrimu, bahagiakan dia. Kamu sudah melepas masa lajangmu, kamu sudah jadi seorang suami. Rasa tanggung jawabmu sangat besar, hanya satu pinta Ibu. Jangan sampai membuat istrimu menitikkan air mata, kebahagiaan istri adalah kunci sukses seorang suami," kata Ranum memeluk putranya.
"Iya, Bu. Aku janji akan menjaganya sampai maut memisahkan!" mantap Novan.
Tidak ada yang tak bahagia di sana, semua terharu saat melihat sungkeman pengantin. Walau acaranya sederhana, namun penuh makna bagi mereka. Acara pun selesai, semua yang hadir satu persatu mulai undur diri. Bahkan Sahara dan Juan pun pulang karena tidak ingin menganggu hari bahagia mereka.
Sonia dan suaminya pun tak berlama-lama di sana. Sehingga hanya menyisakan Ranum, wanita paruh baya itu tidak mungkin pergi karena ia akan tinggal bersama Novan dan Nadien di rumah pemberian Juan.
Ranum menyuruh anak dan menantunya beristirahat, apa lagi besok lusa mereka akan pergi ke luar negri.
***
Novan dan Nadien sudah berada di kamar, dalam satu ruangan dengan statua berbeda. Entah, tiba-tiba rasa canggung menyelimuti. Mereka masih berdiri, memandang wajah masing-masing. Lalu, perlahan tangan Novan terangkat. Menyentuh pipi mulus gadis itu.
Padahal, ini bukan pertama kali mereka dengan posisi seperti itu. Sudah sering kali bibir mereka saling terpaut. Namun kali ini benar-benar berbeda, ada hawa yang ditakutkan oleh gadis bernama Nadien Chandra Kirana itu.
Novan membenamkan sebuah kecupan di kening, sangat dalam. Lalu melepaskannya dengan perlahan. Kali ini, Novan menatap bibir mungil berwarna merah menyala itu, begitu sangat menggoda. Ingin rasanya ia menciumnya, tapi rasa canggung itu kembali muncul tiba-tiba. Jantungnya pun ikut berdebar hebat seakan berhenti saking saltingnya.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Nadien malu.
"Kamu sangat cantik, aku semakin jatuh cinta," ucap Novan. Novan menuntun Nadien ke tempat tidur dan mereka duduk berdampingan. Perlahan, Novan dan Nadien merebahkan diri, dan ....
Terjadilah sesuatu di antara mereka.
...----------------...
Selagi nunggu, kalian bisa mampir di sini ya.
__ADS_1