Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Demi Cinta


__ADS_3

Hujan mulai reda, Nadien mengambil uang untuk membayar. "Ini, ambil saja kembaliannya," kata Nadien menyodorkan uang beberapa lembar.


"Ini terlalu banyak." Novan mengembalikan uang dan hanya mengambil 1 lembar saja. Hujan sudah berhenti Novan berniat untuk pulang. "Mobilnya sudah aku perbaiki sudah bisa dijalankan." Kata Novan sambil membuka pintu lalu keluar.


Nadien melihat kepergian Novan dengan motor bututnya, kini ia tahu siapa Novan sebenarnya. Hanya orang biasa dan dia bukan kriteria mamanya. Ia pun menjalankan mobil menuju danau karena cuaca sedikit buruk sehingga tempat itu sangat sepi Nadien jadi ragu untuk turun dari mobil. Ia hanya berada di dalam mobil sambil mendengarkan musik, memutar memori tentang kehidupannya yang jadi seperti ini.


Nadien menyandarkan kepala di stir kemudi. Gadis itu ternyata rapuh, menghilangkan nama Juan dalam hatinya ternyata cukup susah tapi ia harus melupakannya. Cukup lama ia berada di dalam mobil, menikmati keindahan danau pun ternikmati karena cuaca buruk. Akhirnya ia putuskan untuk pulang. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Novan mereka menyadari akan hal itu, tapi memang seperti orang asing. Entah kenapa mereka jadi seperti ini.


***


Novan sampai di rumah, pria itu melamun merasa ada yang kurang. Beberapa hari bersama Nadien dan setiap harinya selalu ada saja yang membuat mereka bertengkar dan itu membuatnya rindu tanpa disadari.


"Berhenti memikirkannya, Novan!" Novan menggelengkan kepala lalu kembali menyibukkan diri di rumah. Apa saja ia kerjakan agar wajah Nadien tak selalu muncul dalam benaknya.


Di teras depan terdapat Sahara dan Juan, mereka tengah duduk santai sambil becanda. Bahkan keduanya berisik tapi tak mengganggu aktivitas Novan. Sahara sampai bingung kenapa sahabatnya itu tak menyapanya sama sekali? Biasanya Novan selalu mengganggu.


"Tumben dia diam saja, kenapa teman kecilmu itu?" tanya Juan pada Sahara.


"Aku tidak tahu, apa mungkin ada masalah ya? Terus kelanjutan hubungannya dengan Nadien bagaimana? Apa kamu tahu?"


"Coba kamu samperin dia!" titah Juan.


"Oke, aku ke sana bentar." Tak seperti biasanya Novan seperti itu, Sahara jadi merasa aneh. Sahara sudah berada di depan teras rumah Novan kedatangannya pun diabaikan oleh sahabatnya.


"Van, kamu kenapa sih? Cerita dong kalau ada masalah aku siap membantumu," ujar Sahara.

__ADS_1


"Tidak akan bisa membantu, ini masalah hati juga keadaan," jawab Novan. Ia terus saja berkutat dengan aktivitasnya yang sedang menanam bunga di pot.


"Kamu cinta ya sama Nadien?" tebak Sahara, meski Juan sudah mengatakan bahwa mereka pacaran tapi tetap saja ia tak percaya kalau bukan Novan yang mengatakannya secara langsung.


"Aku sadar diri, Ra. Bumi dan langit memang tidak akan bersatu sampai kapan pun," terang Novan.


Sahara tahu kemana arah percakapan mereka. "Kalau suamiku membantumu apa kamu siap? Siap mengejar cintamu?!"


"Dia tidak suka padaku, aku bukan kriterianya. Dia putri sedangkan aku hanya kacung." Setelah mengatakan itu Novan pun berlalu meninggalkan Sahara. Sahara hanya melihat kepergian Novan dengan tatapan nanar dan kasihan.


Sahara kembali menemui suaminya. "Apa katanya?" Juan penasaran.


"Sepertinya Novan sudah jatuh cinta pada Nadien, kamu tahu sendiri keadaan mereka. Kalau Sonia tau siapa Novan, pasti tidak akan ada restu dari wanita itu. Kamu bantu Novan dong, buat Novan percaya diri untuk mengejar cintanya," bujuk Sahara.


"Tapi bagaimana caranya? Dia saja tidak mau bekerja denganku, aku bisa saja membantunya dan meyakinkan mamanya Nadien kalau Novan pria yang pantas untuk bersanding dengan anaknya," terang Juan. "Kamu coba saja bicara dengan temanmu itu, dia mau tidak bekerja denganku?" Juan mengakui bahwa Novan bisa diandalkan.


"Besok saja, ini sudah malam. Besok kita pulang ya, kerjaanku sudah menumpuk."


***


Di kediaman Nadien.


"Nadien, kapan Mama bisa bertemu lagi dengan calon menantu Mama itu?" tanya Sonia.


"Ma, aku dan Novan tidak pacaran. Mama jangan berharap karena dia bukan kriteria Mama, Mama pasti kecewa siapa dia sebenarnya. Sudahlah, Ma. Aku berangkat kerja dulu."

__ADS_1


Sonia mendengus kesal, padahal ia sudah setuju dengan hubungan mereka. "Apa yang diragukan lagi? Novan sudah mapan kenapa juga aku tidak merestuinya, dia juga baik aku sudah cocok padanya," gumam Sonia. "Papa juga sudah setuju." Sonia harus meyakinkan anaknya bahwa Novan pria baik dan cocok dengannya.


Nadien mulai dengan rutinitasnya, ia tengah berada di lokasi pemotretan. Bahkan sejak tadi Rani mendesak Nadien perihal hubungannya dengan Novan karena gadis itu ditugaskan Sonia agar anaknya menerima cinta Novan.


"Apa sih, Rani. Aku sama Novan itu tidak ada hubungan apa-apa. Sudah ah, jangan menganggu konsentrasiku!" Nadien tak mengedahkan pertanyaan dari managernya itu, ia tak ingin memikirkan pria mana pun.


Sementara Novan, mini sedang dibujuk oleh Sahara agar mau bekerja di perusahaan suaminya. "Ayolah, Novan ... Kamu mau ya bekerja dengan suamiku, dia akan membantu mengejar cintamu dan meyakinkan keluarganya bahwa kamu itu pantas dan layak untuk dijadikan seorang suami. Dia sudah mengambil ciuman pertamamu loh."


Ucapan Sahara membuat Novan terkejut, dari mana ibu hamil itu tahu kalau Nadien sudah menciumnya? Novan melupakan sesuatu bahwa Juan tahu akan semua itu. Tidak salah lagi kalau Sahara tahu pasti dari suaminya.


"Ayolah, Novan ... Ganti bajumu lalu segera menyusul Juan ke kantor, dia bilang suruh saja menyusul. Demi Nadien rubah keadaanmu, itu peluang agar kamu dapat jodoh."


Novan berpikir sejenak, ia juga merasa rugi karena ciuman pertamanya dicuri. "Baiklah, aku perjuangkan itu demi harga diri karena dia gadis yang sudah mengambil ciuman pertamaku, aku harus meminta pertanggungjawaban!" mantap Novan. Demi cinta Novan berjuang.


"Gitu dong, itu baru sahabatku. Bi, Bibi doakan anakmu ini ya?" kata Sahara pada bi Ranum.


Bi Ranum pun menghampiri. "Doa Ibu menyertaimu, kejar cintamu dan yakinkan diri bahwa kamu pria layak untuknya jangan pikirkan keadaan, Ibu yakin orang tuanya pasti menghargai usahamu," tutur Ranum.


Novan pun menggangti baju dengan setelan pakaian kantor, ia siap bekerja demi Nadien dan membuktikan pada orang tuanya. Novan segera berangkat menyusul Juan.


"Kamu pakai saja mobilku," kata Sahara. "Jangan pakai motor bututmu itu!"


Novan mengambil kunci yang diberikan Sahara lalu segera berangkat. Sepertinya Dewi Portuna memihaknya, tak sengaja ia bertemu dengan Sonia dipinggir jalan wanita itu tengah bersama teman-temannya. Novan menepikan mobil mewah yang siapa pun pasti mengira bahwa itu mobil miliknya. Mendapatkan restu sedikit licik, tapi tak mengapa karena Sonia memang mata duitan Novan harus menunjukkannya pada Sonia.


"Novan," panggil Sonia yang melihat Novan turun dari mobil mewah, ibu paruh baya itu mengenalkan Novan sebagai calon menantunya kepada teman-temannya. Sonia hendak mengadakan arisan di rumah sahabatnya. "Kenalkan, Jeng. Ini loh pacar anak saya," kenal Sonia.

__ADS_1


Novan sedikit canggung, lalu Sonia mengajak Novan ikut berkumpul dengan teman-temannya. Demi meyakinkan Sonia, Novan rela jadi bahan rebutan ibu-ibu karena tubuhnya yang kekar membuat mereka suka.


"Jangan sentuh-sentuh, dia calon menantuku!" kata Sonia.


__ADS_2