Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Nonton Secara Life


__ADS_3

Juan dan Sahara tengah membeli tiket, tak lama dari situ muncul-lah sosok Novan yang akan membeli tiket juga.


"Eh, di sini juga," kata Novan saat melihat Sahara bersama suaminya.


"Asisten kurang ajar, main pergi saja!" cetus Juan.


Novan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena memang merasa bersalah, tapi nasi sudah jadi bubur mau bagaimana lagi. Sahara celingak-celinguk ke belakang Novan.


"Cari siapa?" tanya Juan.


"Anak ini ke sini tidak mungkin sendiri," jawab Sahara. "Mana dia?" tanyanya pada Novan.


"Dia siapa?" tanya balik Novan.


"Hmm, pura-pura. Aku tau kamu ke sini pasti sama Nadien, iyakan?" Bukannya menjawab Novan malah tersenyum kikuk. Sahara tahu bagaimana temannya itu.


"Amit-amit liat kamu, ABG bukan tapi pacaran kayak gitu," cetus Juan. Entah kenapa ia tidak menyukai Novan, padahal mereka tidak pernah bertengkar atau pun ada masalah. Yang jelas, setelah membuli Novan rasa hatinya berbunga-bunga.


"Jangan mulai! Aku lagi gak mood berantem denganmu jangan ganggu mood-ku yang lagi merekah," jawab Novan, lalu ia menyerobot antrian.


"Eh ... Enak saja asal nyerobot! Belakang sana!" ujar Juan sambil menarik kerah belakang pria itu. "Aku lebih dulu mengantri," rutuknya kemudian.


"Di mana Nadien? Aku mau temui dia saja," kata Sahara. "Kalian buatku pusing."


"Nadien ada di sebelah sana, kamu temui saja dia. Tapi jangan bertengkar ya," ledek Novan.


"Siapa juga yang mau berantem." Sahara pun berlalu meninggalkan dua pria yang sedang mengantri. Sahara melihat sekeliling yang diarahkan Novan. "Mana dia?" gumamnya. Lalu pandangannya menuju ke sebuah meja yang ada di sudut. Penampilan Nadien tidak terlalu mencolok, bahkan gadis itu memakai masker wajah. Sahara tahu maksud Nadien, mungkin ia tak ingin menjadi pusat perhatian karena Nadien sedang terkenal.


"Hai," sapa Sahara.

__ADS_1


Nadien yang melihat langsung terkejut mendapati Sahara tiba-tiba. Lalu ia menunjuk wajahnya sendiri. "Aku!" ucap Nadien.


"Iya, boleh aku duduk di sini?" tanya Sahara ramah.


"Mmm, boleh. Silahkan!" Nadien tak bertanya apa pun pada Sahara, meski dalam hati ia sedikit kesal pada ibu hamil itu. Wanita itu yang sudah merebut kekasihnya. Tapi Nadien tidak begitu menyalahkan Sahara karena ia sadar bahwa ini ulah mamanya.


Secara bersamaan Juan dan Novan menghampiri. Nadien tidak begitu heran akan keberadaan mantan kekasihnya itu. Namun, ini pertemuan mereka di jam kantor.


"Maaf lama menunggu," bisik Novan, lalu mendudukkan diri di sebelah calon pacarnya. "Aku sudah dapat tiketnya, kita langsung saja yuk?" ajak Novan.


"Bareng aja," sahut Sahara.


Novan melihat ke arah Nadien, ia mencoba memahami isi hati gadis itu. Nadien pasti tidak nyaman dengan keadaan ini, tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan ibu hamil itu.


"Bagaimana? Tidak apa-apakan kalau kita bareng mereka?" tanya Novan, ia harus bertanya lebih dulu karena ia tak ingin membuat Nadien jadi salah tingkah.


"I-iya, tidak apa-apa kalau emang mau bareng." Nadien dan Novan berjalan lebih dulu sementara Juan dan Sahara menyusul dari belakang. Novan langsung menggenggam tangan Nadien dan gadis itu menoleh ke arah Novan.


***


Mereka berempat sudah duduk di kursi, lampu sudah dimatikan dan film sebentar lagi akan dimulai. Suasana di dalam sangat tenang karena penonton yang lain pun sudah tidak sabar ingin segera menyaksikan film tersebut. Tak lupa dengan cemilan yang memang sudah dibeli sebelumnya. Nadien dan Novan duduk di belakang Juan dan Sahara. Sesekali, bumil itu menoleh ke arah Novan sambil tersenyum kepada Nadien, dan gadis itu membalas dengan senyum tipis.


Sahara menyandarkan kepala di bahu suaminya, film bergenre romatis itu akan segera mulai. Sahara menangkup pop cron, dan Juan memegang sebotol minuman. Film itu sudah mulai, belum apa-apa dari tokoh film itu menunjukkan kemesraan mereka. Sahara sambil memakan cemilan dan Juan hanya bisa mengigit bibir bawahnya karena melihat adegan romatis itu.


Sedangkan Novan dengan kekocakkannya. Pria itu menutup mata gadis yang ada di sebelahnya. "Jangan dilihat adegan pas ini, ini pengaruh buruk," bisiknya.


Nadien menghela napas dengan kasar. Dia itu kenapa sih? Nadien melepaskan tangan Novan dan pria itu langsung menggenggam tangan Nadien. Pandangan mereka beradu. Novan menelan saliva susah payah karena tatapan gadis itu serasa sudah menghipnotis-nya.


Sahara menyikut tangan suaminya, bumil itu melihat Nadien dan Novan. Sedangkan Juan fokus pada film itu. "Liat ini, kamu mau nonton secara life tidak?" kata Sahara.

__ADS_1


Juan pun menoleh, betapa terkejutnya saat melihat Novan dan Nadien. Pemandangan yang sangat luar biasa. Mereka sampai merem melek dengan posisi wajah saling memiring. Novan pintar buat Nadien mabuk kepayang. Karena saat Nadien berpacaran dengan Juan jarang sekali berciuman. Hingga akhirnya, kedua bibir mereka terlepas karena kehabisan oksigen. Dada Nadien naik turun, jantungnya seakan berpacu tanpa batas.


"So sweet," ucap Sahara.


Nadien dan Novan langsung menoleh. Betapa malunya Nadien saat itu, untung lampu dalam keadaan gelap hanya ada cahaya dari layar lebar di depan sana. Jika dalam keadaan terang, sudah dipastikan wajah Nadien terlihat merah.


Juan yang melihat pun terdiam, lalu ia kembali fokus pada layar besar di depan. Raut wajah Juan berubah dan Sahara menyadari itu. Bagaimana pun mereka pernah menjalin hubungan cukup lama.


"Aku tidak bermaksud mengingatkanmu dengan kisah masa lalumu," kata Sahara yang sudah duduk seperti semula. "Kamu pasti ingat masa lalumu ya?" tanya Sahara. Juan tidak menjawab.


Di belakang sana, Nadien pun melihat perubahan Juan. "Kamu sih!" cetus Nadien.


"Kok aku sih! Emang aku salah apa?" kata Novan.


"Maen sosor aja, tidak tau apa kalau ada mereka?" kesal Nadien.


"Hubungannya apa dengan mereka? Kamu juga diam saja dan menikmatinya. kita pacaran saja deh kalau begitu! Aku yakin kalau kamu juga cinta 'kan sama aku?"


Perbincangan mereka di dengar oleh Sahara dan Juan. Sahara semakin penasaran, apa suaminya masih memiliki perasaan pada Nadien dan sekarang tengah cemburu, pikirnya.


Juan pun akhirnya meraih tangan istrinya, lalu mengecupnya. "Aku juga pengen," kata Juan pelan. Sahara menoleh sambil tersenyum.


"Aku kira kamu cemburu dengan kedekatan mereka," kata Sahara.


"Bukan cemburu, tapi iri." Juan menarik tubuh istrinya dengan erat dan Sahara membalas pelukkan itu, ia melingkarkan tangan dari samping.


***


Acara nonton selesai.

__ADS_1


Nadien masih sangat canggung kepada Sahara dan Juan, sampai-sampai gadis itu berjalan dengan sangat cepat sehingga Novan sedikit berlari saat mengejarnya.


Sahara dan Juan tak mempedulikan mereka akan pergi kemana. Mereka sendiri langsung pulang karena hari sudah larut.


__ADS_2