Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Seakan Terbang


__ADS_3

Nadien meletakkan jari telunjuk di bibir lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya beberapa jam lalu. Novan mengerutkan kening, karena istrinya menahan bibirnya yang hendak menciumnya.


"Kenapa?" tanya Novan.


"Aku mau ke kamar mandi, sebentar saja," jawab Nadien.


Novan menarik napas berat, mau tak mau ia mengizinkan. "Ya udah, jangan lama-lama," relanya. Setelah kepergian istrinya, Novan memainkan ponselnya. Ia membaca deretan pesan masuk ke dalam ponsel. Saat membaca pesan itu, ia segera beranjak dari tempat tidur lalu membuka lemari. Ada sebuah paper bag di dalamnya, penasaran ia pun membukanya dan melayangkannya di udara.


"Ah sialan ni, Juan. Bisa-bisanya dia memberiku dalaman begini," gumamnya. Lalu, pintu kamar mandi terbuka. Novan langsung menyembunyikannya ke belakang.


"Apa itu? Apa yang kamu sembunyikan?" selidik Nadien.


"Ti-tidak, ini bukan apa-apa," elak Novan.


"Apa? Jangan bikin aku penasaran!" desak Nadien.


Novan hanya malu dengan pakaian kurang bahan itu, ia takut istrinya berpikir yang tidak-tidak terhadapnya karena baru saja mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


Nadien menghampiri, lalu merampas apa yang dipegang suaminya. Novan mencoba menghindar, tapi Nadien tetap ingin tahu.


Akhirnya, Nadien berhasil merebutnya.


"Itu dari Juan," jelas Novan.


Nadien menajamkan mata tak percaya, ternyata suaminya sudah menyiapkan baju keramat untuknya.


"Serius! Itu dari Juan." Ucap Novan sambil memperagakan jari berhuruf V. "Nih, kalau gak percaya kamu baca saja pesan darinya." Ia memperlihatkan pesan dari Juan.


Nadien mendekatkan tubuhnya. Novan yang salah paham malah mundur beberapa langkah. "Apa kamu sudah menginginkannya?" Nadien semakin mendekat dan Novan malah berkeringat dingin sambil menelan salifa susah payah.


Kenapa Novan malah jadi seperti ini? Bukankah tadi ia yang mengajak istrinya ke tempat tidur? Kenapa sekarang malah melempem? Setelah melihat lingeri itu ia jadi panas dingin, membayangkan istrinya memakai pakaian seksi itu. Ia malah tidak kepikiran akan baju itu, sepolos itu kah ia?

__ADS_1


Nadien mengalungkan tangannya di leher suaminya sambil menatap dalam matanya. Novan salah tingkah seperti maling yang ketangkap basah.


"Ma-mau apa?" tanya Novan.


Nadien tersenyum miring, suaminya mendadak demam panggung. "Ya ampun, suamiku kenapa jadi polos seperti ini? Dia juga berkeringat sekali," batinnya. Ia menyentuh kening dengan jari lalu turun ke hidung dan terakhir di benda kenyal yang pernah mencumbunya. Soal percintaan, Nadien cukup jago ketibang suaminya karena Novan tidak berpengalaman.


"Aku suka ini," ucap Nadien. Jari jemarinya menyusuri bibir suaminya dan Novan semakin menelan saliva karena akibat perlakuan istrinya. Nadien memancing sesuatu yang sudah bangkit sejak tadi, bahkan sudah menggesek di paha istrinya. Nadien merasakan itu karena lelaki normal pasti langsung merespons.


Napas Novan tersengal seperti sudah lari maraton. Kedua pandangan mereka masih saling beradu. "Apa kamu menginginkannya?" tanya Novan memberanikan diri.


Nadien malah tersenyum, karena ia tidak mungkin mengakui bahwa ia pun sebenarnya sudah siap melakukannya. Novan-nya saja yang tidak peka akan respons istrinya yang sudah memberi kisi-kisi. Tanpa mendengar jawaban, akhirnya Novan meraih tubuh istrinya. Membopongnya dan merebahkan tubuh itu di tempat semula.


"Lalu, apa gunanya baju kurang bahan itu?" tanya Nadien.


"Apa kamu mau memakainya?" Novan sangat berharap istrinya menggunakan lingeri itu. Nadien mengangguk pelan dengan malu-malu tapi mau. Tentu, Novan sangat senang.


"Aku akan memakainya, kamu tunggu di sini aku mau ke kamar mandi dulu."


Nadien sudah mengganti baju, perlahan ia membuka pintu dan siap untuk keluar. Lingeri itu berwarna hitam dengan seutas tali di bagian pundak. Sangat kontras di kulit putih mulus sang model itu, kaki jenjangnya sangat terekspos.


Novan melihat makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna, berdiri di ambang pintu dan masih malu-malu. Padahal, Novan sudah melihat seluruh tubuh Nadien kala itu. Tapi tetap saja, Novan masih bergetar saat menatap tubuh yang terbuka dengan belahan dada yang sangat menonjol.


Nadien berjalan sangat pelan. Novan sudah menanti, ia terbaring miring dengan kepala tersangga oleh tangan. Lalu mengulurkan tangan sebelah lagi menyambut kedatangan istrinya. Gadis itu pun akhirnya sudah duduk, dan Novan merubahkan posisi. Kepalanya bersandar dan paha istrinya sebagai bantalnya.


Dada gadis itu tepat di atas kepala Novan. Pria itu ingin sekali menyentuhnya, namun belum memiliki keberanian yang cukup kuat. Semua ini pertama kali baginya.


"Sayang," panggil Novan


"Hmm." Jawab Nadien sambil memainkan rambut suaminya.


"Bolehkah aku ..."

__ADS_1


"Boleh, semuanya sudah jadi milikmu," pungkas Nadien.


Novan sangat kegirangan dan ia langsung duduk saling berhadapan. Ia menyelipkan tangan di leher jenjang istrinya, lalu menariknya karena ia akan menciumnya. Akhirnya, kedua bibir itu saling terpaut. Novan tak menjeda ciumannya, ia benar-benar sudah dalam mode on. Tangan yang satunya lagi mencoba menyentuh dua gundukkan yang sedari tadi ia ingin sekali menyentuhnya.


Dengan bantuan Nadien, kini Novan dapat menyentuh dua bulatan itu. Nadien mengajarkan suaminya, membantu merema* kedua gunung itu secara bergantian. Cukup puas bermain di luar, Novan pun menyelipkan tangan dan memasukkannya. Jantung Novan semakin dag dig dug, kenyal, padat dirasakannya.


Ingin yang lebih, ia mengeluarkannya dari cangkangnya. Dengan berani ia meluma*nya. Nadien merasakannya, sensasi yang luar biasa bahkan membuat kepemilikannya semakin lembab. Gadis itu menarik wajah suaminya dan menciumnya sedikit ganas karena terpancing permainan suaminya.


Tentu Novan mengharapkan ini. Nadien mendorong tubuh suaminya hingga ia berada di atas tubuh lelaki itu. Kedua gunungnya sudah keluar dari persemayamannya, bahkan menggantung di atas tubuh suaminya. Novan merema* keduanya, dan kembali meraupnya seperti bayi yang kehausan.


Pemanasan itu semakin panas, entah sejak kapan keduanya sudah melepaskan pakaiannya. Mereka sudah bergelung di dalam selimut.


"Sakit," pekik Nadien saat Novan mencoba memasukkan miliknya.


Novan kesusahan, tapi ia terus mencoba mendorongnya. Hingga akhirnya.


"Aaaaa ..." Novan langsung membungkam mulut istrinya dengan mulutnya, semoga dengan begini istrinya dapat tenang karena ia takut ibunya mendengarnya.


Perlahan, Novan melepaskan bibirnya, dan di bawah sana masih tertanam bahkan belum bergerak sedikit pun. Nadien menitikkan air mata.


"Sakit ya?" tanya Novan. Nadien mengangguk pelan, untuk bersuara pun ia tidak sanggup. "Tahan ya, aku akan menggerakkannya pelan-pelan," bisiknya. Lagi-lagi, Nadien hanya mengangguk. Ia pasrah apa yang dilakukan oleh suaminya karena suaminya berhak mendapatkannya.


Pinggul itu perlahan maju mundur. Nadien mencengkram punggung suaminya kuat-kuat. Kuku panjang itu melukai punggung suaminya. Novan mulai mengatur ritme setelah istrinya tak lagi meringis. Nadien mencoba menikmati meski rasa nikmat belum ia rasakan.


Pertarungan itu masih berlangsung. Nadien mulai merasakan sedikit permainan itu, hingga tak lama, keduanya pun merasakan nikmat yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Seakan terbang menuju langit ke tujuh.


...----------------...


Hai gaes, maaf ya baru update🙏🙏


Aku bawa karya teman nih, yuk kepoin ceritanya menarik loh

__ADS_1



__ADS_2