Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Sederhana Tapi Bahagia


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jihan meminta Sahida untuk pergi ke makam almarhum suaminya, dan mereka semua pergi ke TPU yang cukup lumayan jauh. Bahkan Sahara pun baru pun baru pertama kali datang ke TPU itu. Sahida tak pernah membahas kedua orang tua cucunya itu meski sang cucu menanyakan hal tersebut. Nenek tua itu tidak ingin Sahara mencari ibunya.


Sepintar apa pun nenek tua itu menyembunyikannya dari Sahara, tetap tidak ada yang bisa memisahkan anak dari orang tuanya kecuali maut yang memisahkan.


Setelah menempuh hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di pemakaman. Sahara dan Jihan saat melihat batu nisan yang bernama Randy itu pun akhirnya tak kuasa menahan tangis.


"Papa."


"Mas," ucap Jihan dan Sahara bersamaan.


Mereka bedua pun akhirnya berjongkok dan medoakannya, setelah itu menabur bunga dan air. Hampir 1 jam mereka berada di sana karena tempatnya cukup rimbun dengan rumput-rumput sehingga mereka harus membersihkannya terlebih dulu sebelum pulang.


Ardinata yang tak pernah bekerja kasar pun ikut membantu membersihkan makam tersebut. Setelah semua bersih mereka pun pulang karena sebentar lagi akan mengadakan syukuran, Jihan akan mempersiapkanya yang akan dibantu oleh bi Ranum.


***


Acara syukuran tinggal beberapa hari lagi, bi Ranum ikut sibuk karena Jihan menyerahkan semuanya pada temannya itu. Ranum juga meminta anaknya untuk mengajak calon menantunya pada acara syukuran tersebut.


Sahara, kini tengah duduk santai bersama suaminya. Juan benar-benar menyerahkan pekerjaan pada Novan karena selama kehamilan istrinya ia akan fokus pada Sahara saja. Kelahiran anak mereka sangat dinantikan oleh pihak keluarga apa lagi dengan Ardinata.


Di kantor.


Novan berusa bekerja menjadi orang kepercayaan Juan, setiap hari kini ia bertemu dengan kekasihnya. Bahkan ia sering menjemput sang kekasih dan Novan kini semakin dekat dengan calon mertuanya.


Dan sekarang pun Novan tengah bersama Nadien yang kini sedang berpose memegang handbody. Novan terus memperhatikan gerakan Nadien yang ia rasa sangat seksi, konsentrasi Nadien buyar karena Novan terus menganggu dari kejauhan. Nadien meminta waktu sebentar pada sang foto grafer.

__ADS_1


"Mas, aku izin sebentar," ucap Nadien, lalu ia menghampiri kekasihnya yang sudah mengganggunya. "Apaan sih ganggu saja, aku lagi fokus aku mau pemotretan ini selesai. Setelah ini aku mau ke salon 'kan mau ketemu calon mertua," jelas Nadien, dan kata-kata itu membuat Novan bahagia.


Nadien sangat berbeda dengan ibunya, gadis itu menerima Novan apa adanya. Novan sudah jujur mengenai siapa dirinya. Ia orang tak berpunya bahkan rumahnya saja sangat jauh dari kata layak. Tapi setelah ia mendapatkan bonus dari bosnya ia akan merenovasi rumahnya bahkan bila perlu ia akan membeli sebuah rumah untuk dihuninya kelak setelah menikah nanti.


"Oke-oke, aku tidak akan mengganggu. Kamu lanjut saja, aku mau balik ke ruanganku," ucap Novan. "Eh apa itu?" tanya Novan sehingga Nadien menoleh ke tempat yang ditunjuk Novan.


Cup.


Novan mencuri sebuah ciuman, ia mencium pipi gadis itu sampai rona di pipi Nadien terlihat. Gadis itu menyentuh pipinya yang setelah dicium oleh Novan. Meski terlihat sederhana namun itu mampu membuatnya sangat bahagia. Novan mampu membuatnya nyaman dan gaya pacarannya sangat menyenangkan menurutnya, terasa ringan karena mengalir begitu saja.


Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nadien dan Novan, mereka saling menghargai, apa lagi Novan baru pertama kali memiliki seorang kekasih.


***


Acara syukuran kini digelar. Para tamu sudah memadati rumah Sahida, mereka mendoakan kelancaran kehamilan Sahara. Sahara terlihat cantik malam itu, mengenakan pakaian panjang berwarna putih, ditambah dengan kerudung yang dikenakannya membuat aura kecantikkannya keluar.


Jika semua sibuk dengan acara itu, tidak untuk bi Ranum. Wanita itu tengah gelisah menantikan calon menantunya yang akan dikenalkan Novan padanya. Apa lagi saat ia tau siapa yang menjadi kekasih anaknya. Bi Ranum tidak percaya diri dengan keadaannya yang miskin.


"Aku lagi nunggu Novan, katanya dia ajak calon mantuku," jawab Ranum.


"Oh ya, aku jadi penasaran siapa wanita beruntung yang mendapatkan hati anakmu. Novan laki-laki yang baik, juga semangat hidupnya luar biasa. Dia bisa loh menggantikan Juan di kantor." Jihan memuji kehebatan anak dari sahabatnya.


Tak lama, terdengar suara Novan di luar.


"Nah, itu kayaknya Novan. Coba kamu lihat, mungkin dia sama kekasihnya."


***

__ADS_1


Kedatangan Nadien benar-benar jadi pusat perhatian ibu-ibu di sana. Siapa yang tidak kenal dengan Nadien, ibu-ibu di kampung Sahida itu selalu menyaksikan aksi Nadien di televisi.


Ada yang memeluk bahkan mencium model cantik itu karena gemas.


"Sudah dong, Bu. Pacar saya nanti bau jigong karena dicium-cium, saya aja belum nyium," gerutu Novan.


Nadien sampai kewalahan mengahadapi ibu-ibu di sana. Untung Sahida keburu datang dan langsung menarik Nadien mengajaknya ke dalam.


"Ya ampun, Van. Calon istrimu cantik sekali," puji Sahida. Nadien tak kalah cantik dari Sahara karena ia pun menggunakan hijab untuk yang pertama kalinya.


"Selamatkan kekasihku, Nek. Ajak dia ke dalam kamar dan jangan sampai ibu-ibu itu mendekat, kasihan Nadien, pasti pipinya sakit karena dicium-cium," kata konyol Novan.


"Kamu ini." Sahada memukul bahu Novan. "Mana ada sakit dicium," katanya.


"Ya sakitlah, Nek. Nenek gak lihat giginya keluar gitu, nanti pipi Nadien luka," jelas Novan dengan keadaan ibu yang mencium Nadien waktu tadi. Suara Novan sampai terdengar di telinga ibunya, dan wanita itu pun langsung menghampiri.


"Mana? Mana calon mantuku?" tanya Ranum tiba-tiba.


"Ini lagi, pasti mau peluk cium Nadien juga 'kan?" tuduh Novan pada ibunya.


"Apa sih kamu ini? Ibu penasaran, tadi ibu-ibu bilang pacarmu cantik. Ibu sampai tidak percaya, kamu jelek-jelek pacarnya kok cantik," kata ibu Novan. Novan mendengus kesal, bisa-bisanya ibunya berkata seperti itu.


"Nadien di dalam, sengaja aku sembunyikan biar tidak ada yang membawanya, aku takut ibu-ibu di luar bawa Nadien pulang ke rumahnya," kata Novan.


Ranum pun akhirnya bertemu dengan Nadien, benar apa kata ibu-ibu di depan, calon menantunya sangat cantik. Sayang sekalai bi Ranum tidak tahu akan soal Nadien yang seorang model, karena ia tak memiliki tv di rumah.


"Ini benar pacarmu, Van?" tanya Ranum tak percaya.

__ADS_1


"Ibu tidak percaya kalau dia kekasihku? Ibu meragukanku begitu? Jelek-jelek gini juga aku anakmu, Bu. Anak jelek akan terlahir dari Ibunya yang jelek," ledek Novan.


"Kurang ajar kamu sama Ibu, dasar anak nakal." Ranum mentoyor kepala anaknya Nadien yang melihat pun tertawa karena lucu dengan tingkah anak dan ibu itu. Sederhana namun begitu membahagiakan.


__ADS_2