Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Keadaan Masih Panas


__ADS_3

"Aku tidak ingin mendengarnya, hatiku sakit!" kata Sahara setelah melempar album foto itu.


Juan tercengang melihat istrinya, ia bisa merasakan apa yang terjadi pada istrinya saat ini. Sakit, karena ia pun merasa sakit. Wanita yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya ternyata bukan. Tapi di sini, ia mendapatkan kasih sayang penuh dan rasa tulus yang diberikan oleh ibu sambunnya itu.


"Kamu istirahat ya, jangan pikirkan tentang kita, kita bukan saudara kandung. Kamu istriku, Sahara," ucap Juan.


Entah siapa yang salah, Sahara hanya menatap suaminya. Ia mencintainya, tapi Juan anak dari laki-laki yang sudah menghancurkan keluarganya.


"Aku tidak tau harus membencimu atau tidak, yang jelas, papamu yang menghancurkan keluargaku. Andai papamu tidak hadir dalam hidup kedua orang tuaku mungkin mereka masih bersama," tutur Sahara.


Juan tak percaya bahwa istrinya akan berkata demikian. "Lalu aku harus apa? Pergi dari hidupmu begitu? Aku tidak tau apa-apa, kamu jangan melibatkanku dalam urusan mereka," jelas Juan.


"Aku tau itu, tapi berhubungan dengan orang yang telah membuatku berpisah dengan kedua orang tuaku membuatku sakit dan aku baru tau semuanya hari ini, hatiku sakit, Juan." Sahara menangis kembali. Juan pun langsung memeluknya.


"Aku tau, tapi aku sangat mencintaimu."


Sahida yang berada di sana pun melipir pergi, membiarkan Juan bersama Sahara. Ia yakin kalau cucunya membutuhkan seseorang yang bisa mengerti calon ibu itu.


Juan terus mendekap dan membawa Sahara ke tepi ranjang dan mereka duduk dengan posisi Sahara berada di depannya. Sahara bersandar di dada bidang suaminya, Juan memeluk dari belakang seraya mengelus perut istrinya.


"Demi anak kita, kita jangan ikut ke dalam masa lalu orang tua kita," bisik Juan.


"Kenapa ini harus terjadi padaku? Aku lebih baik tidak mengetahuinya, biarkan mamamu menjadi mertuaku saja," ujar Sahara.

__ADS_1


"Hatiku juga sakit, tapi selama ini mama bersikap baik dan menyayangiku aku tidak yakin kalau mama begitu tega meninggalkanmu, ini pasti ada masalah yang kita tidak tau termasuk nenek." Secara tidak langsung, walau belum tahu apa masalahnya Juan berusaha membuat Sahara tidak membenci ibunya karena ia yakin Jihan tak mungkin berbuat demikian.


Sahara pun terdiam mencoba mencerna apa kata suaminya, jika wanita itu baik pada anak sambungnya wanita itu pasti akan lebih baik pada anak kandungnya bukan?


"Aku tau bagaimana sikap mama, dia lembut sekali dan selalu sabar menghadapiku disaat aku nakal. Jadi aku rasa mama tidak mungkin tidak menyayangimu, dia pasti ada alasan," jelas Juan.


"Masa kecilmu pasti sempurna, berada di keluarga yang utuh. Sedangkan aku ..."


"Sssttt ... Jangan membandingkan masa kecil kita, jangan diteruskan jika kamu tidak ingin membahasnya, yang jelas aku tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi. Kamu wanita yang paling aku cintai." Juan terus mengelus perut istrinya sampai Sahara merasa lebih tenang. Larut dalam lamunan membuat Sahara tanpa sadar tertidur dengan sendirinya.


Jaun menoleh ke wajah istrinya, matanya yang sembab nampak terlihat. Juan merebahkan tubuh Sahara, meraih bantal untuk menopang kepala istrinya. Ia juga mengelus kepala ibu hamil itu dan menciumnya. Juan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Sahara, memeluknya dari belakang dan ikut memejamkan mata.


***


Di tempat lain.


Jihan menyeka air mata yang berjatuhan di bingkai foto itu, setelah tahu siapa Sahara ia terus menangis. Ardinata pun bingung harus bagaimana, sudah lama ia tak melihat tangisan istrinya. Mungkin dulu hampir setiap hari ia melihat Jihan menangis, apa lagi setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


Jihan selalu memasang kedok jika di hadapan putranya, berlaga tidak ada apa-apa. Menjadi sosok ibu yang kuat, bahkan Ardinata tak pernah menyentuh Jihan selagi nama suaminya masih bersemayang dalam hatinya. Mungkin baru sepuluh tahun terakhir istrinya itu mulai membuka hati untuknya.


Itu pun setelah Jihan tahu kabar dari suaminya yang terdahulu. Setelah mendengar kematian Randy, Jihan mencari keberadaan putrinya. Melacak ke setiap daerah pun tidak ada anak yang bernama Rara yang berusia 10 tahun. Sampai kapan pun tidak akan pernah bertemu karena nama Rara itu berubah menjadi Sahara.


"Pa, apa kamu bisa hubungi Juan. Mama mau bertemu Rara, Mama harus menjelaskannya padanya," kata Jihan.

__ADS_1


"Tidak sekarang, Ma. Situasinya masih panas, Rara pasti berpikir tentangmu yang tidak-tidak. Biarkan Juan menjelaskannya pada Rara dengan caranya. Barusan dia chat Papa, katanya istrinya lagi tidur. Mama juga sebaiknya istirahat, jangan nangis terus mata Mama sudah bengkak."


"Tapi aku belum tenang, di mana mereka tinggal? Mama mau menyusul." Jihan berniat mendatangi Sahara, selama ini ia tidak tahu di mana anaknya tinggal. Sahida pergi dari kampung halaman tanpa jejak. "Apa selama ini mereka hidup dengan layak?" gumamnya.


"Tentu, Ma. Kamu bisa lihat bagaimana pertama kali kita bertemu dengan Sahara, Juan pasti tidak mingkin menelantarkan kekasihnya," terang Ardinata.


"Tapi Mama mau bertemu dengannya sekarang! Papa hubungi Juan sekarang!" desaknya.


Ardinata pun menuruti keinginan istrinya. Tapi panggilan itu tidak terjawab karena saat ini Juan pun ikut tertidur dengan istrinya Ardinata, akhirnya memberi anaknya itu sebiah pesan.


Juan, papa minta bujuk istrimu agar bisa memaafkan mama. Ini semua sudah takdir, Sahara tidak bisa menyalahkan mama Jihan bwgitu saja dia juga ikut terpukul dsngan masalah ini. Kita jangan saling menyalahkan, bantu, MAMA


Pesan sudah terikim kepada Juan, namun masih centang dan belum terbaca.


"Bagaimana?" tanya Jihan.


"Tidak diangkat, tapi Papa sudah mengabarinya lewat chat, dia pasti baca dan Juan pastk membantumu biar Rara bisa berkumpul kembali bersama keluarganya yang baru," jelas Ardinata.


"Terima kasih sudah mengerti keadaanku," lirih Jihan.


"Kenapa harus berterima kasih? Kamu itu istriku dan Rara juga anakku, ini semua sudah takdir mungkin ini sudah saatnya Rara tau tentangmu sebagaimana mertuamu menyembunyikan anakmu, tetap, Sahara pasti akan kembali."


Jihan merasa memiliki kekuatan karena suaminya selalu mengerti akan dirinya. Ia merasa berhutang budi banyak kepada suaminya itu.

__ADS_1


"Tapi aku tidak sabar ingin menjelaskannya pada, Rara. Kita pergi saja temukan rumahnya," ucap Jihan.


"Keadaan masih panas, jangan sekarang. Sekali ini saja kamu nurut apa katakku!" Ardinata sedikit membentak karena Jihan keras kepala dan tidak sabaran. Kalau mereka menemuinya sekarang, yang ada semakin runyam apa lagi ada Sahida di sana yang pasti lebih dulu mengatakan semuanya yang tanpa diketahui nenek itu


__ADS_2