
Karena memang sudah ketahuan, Novan pun membalikkan tubuhnya. Tapi, di belakang Nadien ada seseorang berlari ke arahnya.
"Jambret ... Jambret ...," teriak orang sekitar yang tengah mengejar.
Si jambret pun terus berlari sampai pada akhirnya menabrak Nadien, dan gadis itu tersungkur mengenai tubuh Novan. Keduanya pun terjatuh dengan posisi Nadien berada di atas tubuh Novan. Kejadian tak terduga menimpa mereka. Bibir mereka saling menempel, kedua bola mata mereka saling beradu.
Sementara orang-orang terus berlari mengejar si jambret tanpa menyadari apa yang terjadi di sana. Nadien langsung mengangkat wajahnya, lalu Novan dengan cepat menyingkirkan tubuh Nadien sehingga gadis itu menggelinding.
"Aduh," pekik Nadien yang merasa sakit di bagian tangan. "Kasar sekali sih," gerutunya.
"Ya, Tuhan ... Bibirku terjamah," cetus Novan. Itu pertama kali bibirnya bersentuhan.
Nadien yang mendengar tak percaya.
"Hah, ciuman pertama? Yang benar saja? Sok polos," gumamnya sambil bangkit dan mengusap sikut tangan yang terasa sakit bahkan lecet. "Uh ... Sakit sekali."
"Bilang apa barusan? Sok polos? Kamu pikir aku pernah ngapain sampai kamu berpikir seperti itu tentangku, hah?"
"Apaan sih? Sial tau gak setiap kali bertemu denganmu!" kesal Nadien. "Lagian ngapain sih ngikutin? Kamu itu asisten apa penguntit? Juan yang menyuruhmu?" duganya.
"Jangan bawa-bawa suami orang, ini tidak ada sangkutannya."
"Lalu? Kamu sengaja gitu ngikutin aku?"
Keduanya malah bertengkar karena kesal. Nadien kesal karena Novan menciumnya, tapi kan Nadien yang posisinya di atas, berarti dia yang menciumnya. Nadien langsung mengusap bibir dengan kasar, niatnya menghapus jejak bibir Novan di bibirnya.
"Tidak akan rabies, aku bersih. Gak harus begitu juga, seharusnya kamu beruntung karena kamu yang mendapatkan ciuman pertamaku."
"Hoeeekkk." Nadien ingin muntah saat mendengarnya. Mimpi apa semalam sampai ketiban sial seperti ini?
"Itu penghinaan, apa mau ku cium lagi, hah?" Novan sudah menyodorkan bibir, tapi ia bercanda karena ingin mengerjai Nadien.
"Novan ...," teriak seseorang. "Jangan kurang ajar!" katanya lagi, siapa lagi kalau bukan Juan.
Nadien dan Novan pun langsung menoleh. Tapi apa yang dilakukan Nadien di luar ekspektasi Novan. Nadien malah mencium Novan beneran. Juan sampai tak percaya. Sedangkan Novan malah melongo. Apa yang dilakukan wanita itu padanya?
Nadien seperti itu karena ingin meyakinkan Juan bahwa ia sama sekali tak ada hubungannya dengan kejadian kemarin saat Juan merangsang dan hampir menjamahnya. Bahkan Juan marah padanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Novan pelan. Bukannya menjawab, Nadien malah merangkul lengannya. Novan sangat risih dengan perlakuan gadis itu. Ada Juan bukannya itu bagus? Novan pun akhirnya membalas perlakukan Nadien. Ia ingin Juan melupakan Nadien dan pernikahannya dengan Sahara bukan hanya komitmen.
Juan langsung melipir pergi. "Apa-apaan mereka itu? Sengaja mau buat aku cemburu?" gumam Juan. Juan tidak peduli dengan kedekatan Nadien dengan siapa pun. Karena sikap Sonia yang seperti itu ia harus melupakannya. Tapi sepertinya Novan salah sangka akan perasaannya pada Sahara. Juan memang sudah jatuh cinta kepada istrinya itu, komitmen yang diucapkan hanya ingin memancing perasaan Novan kepada istrinya.
"Tapi baguslah kalau mereka pacaran, biar ibunya Nadien sadar cinta tak harus memandang materi." Juan pun berlalu dan benar-benar sudah menghilang dari pandangan Novan dan Nadien.
Sementara mereka. Nadien langsung mendorong tubuh Novan jauh-jauh.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!" cetus Nadien.
"Dasar wanita gila, bukannya kamu yang merangkulku duluan? Aku tau alasanmu seperti itu, mau buat Juan cemburu gitu? Tidak akan, dia sudah menikah, camkan itu!"
"Aku tidak peduli!"
"Matamu tidak bisa berbohong kalau kamu masih cinta pada suami orang, ingat! Juan suami orang!"
"Ya sudah kalau tidak percaya," kata Nadien.
"Ya, udah ...," balas Novan.
"Tidak akan! Tugasku sudah selesai, bye!"
"Iihhh ... Nyebelin." Nadien menghentakkan kaki karena kesal dengan sikap Novan. Lalu ia menyentuh bibirnya. "Apa iya itu ciuman pertama? Ah tidak mungkin, dia pasti bohong. Ceweknya juga pasti banyak, lihat saja tampangnya. Tidak meyakinkan."
Nadien mengoceh tidak jelas, kenapa juga harus memikirkan itu ciuman pertama atau bukan? Tidak penting, pikirnya.
***
Juan menatap gedung-gedung dari jendela kamar, ia jadi teringat dengan istrinya. "Pasti Sahara sudah tidur," gumamnya.
Sedangkan yang dipikirkan malah tengah melamun. Kata-kata Juan selalu terngiang di telinga. "Dia bilang komitmen, apa benar hanya komitmen? Lalu pernikahan ini?" Sahara menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar, ia tak bisa tidur malam ini karena gelisah.
Lalu melihat ponsel, sejak kepergian Juan, suaminya belum menghubunginya. Novan pun tak kunjung memberi kabar, apa saja yang mereka lakukan? Kenapa tak sempat mengabariku? pikirnya.
Tapi rindu memang tak bisa ditahan, Sahara sudah jatuh cinta tanpa batas. Akhirnya ia menghubungi suaminya. Dengan cepat panggilan itu dijawab karena Juan pun tengah menggenggam ponselnya.
"Ya, sayang. Kok belum tidur?" tanya Juan.
__ADS_1
"Kangen, tapi bukan aku," kata Sahara.
"Bukan kamu? Lalu?" tanya Juan.
"Anakmu."
"Kok anakku? Anakmu juga."
"Kan memang anak ini yang kamu perhatikan, cuma anak ini yang kamu prioritaskan." Sahara tak bisa menahan kekesalan saat mendengar sebuah komitmen yang terucap di bibir suaminya.
"Kamu kenapa? Kok terdengarnya marah, kamu marah aku pergi? Di sini ada Novan, aku tidak mungkin macam-macam," kata Juan.
"Kalau tidak ada Novan kamu bakal macam-macam gitu?" tuduh Sahara.
"Mana mungkin begitu, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku lihat. Novan dan Nadien kayaknya pacaran."
"Masa sih? 'Kan mereka baru kenal, apa Nadien sengaja ingin buatmu cemburu dan memanfaatkan Novan. Novan bukan orang yang mudah bergaul, dia jutek loh sama cewek," tutur Sahara. Perbincangan mereka mengalihkan kekesalan Sahara, ia jadi ingin tahu apa berita itu benar?
"Aku mau telepon Novan kalau begitu, aku tidak percaya." Sahara langsung mematikan panggilan secara sepihak sehingga Juan mendengus kesal.
***
"Novan? Kamu bener pacaran sama mantan suamiku?" tanya Sahara lewat vidio call
"Ya ampun, sampai segitunya suamimu itu, dia langsung cerita padamu? Apa menurutmu dia cemburu? Aku begitu karena ingin menyadarkan suamimu kalau Nadien hanya mantan, aku mau buat matanya terbuka dan melupakan wanita itu," jelas Novan.
"Jadi kalian tidak pacaran?" tanya Sahara.
"Tidak! Aku hanya menjaga suamimu di sini, aku tidak percaya pada wanita itu. Aku takut suamimu tergoda lagi."
"Terima kasih, Novan. Kamu awasi terus mereka, aku takut Sonia berulah lagi dan menjebak suamiku."
"Tenang saja, selagi ada aku suamimu aman. Tapi bibirku jadi korban," kata Novan.
Sahara mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Novan barusan. "Lupakan saja, kamu tidur dan istirahatlah. Jaga kesehatan." Novan menutup panggilan. Lalu ia menyentuh bibir mengingat kejadian tadi. Itu memang ciuman pertama.
"Tapi tidak sengaja, apa masih dibilang ciuman pertama?" ujarnya sendiri. "Itu bukan ciuman!"
__ADS_1