
Juan mulai mengupas bawang, dan saat itu juga Sahara kembali mual. Tapi Juan menyuruh istrinya untuk menunggu. Dengan lihai, ia mulai memasak. Sedangkan Sahara hanya memperhatikan dari kejauhan. Kalau bawang mentah ia mual, tapi tidak saat digoreng. Aroma dari bawang goreng itu sangat menggugah selara. Sahara mencium aroma itu dalam-dalam, tidak sabar ingin segera mencicipinya.
"Aku tidak sabar ingin segera menyantapnya," ucap Sahara. "Apa itu masih lama?" tanyanya lagi dengan tidak sabar.
Juan tak menjawab pertanyaan istrinya, ia hanya menoleh sembari tersenyum. Lalu kembali fokus pada penggorengan. Beberapa menit kemudian, Juan hendak mencicipinya, mengambil sendok dan piring. Meniup sendok yang sudah terisi oleh nasi goreng, lalu menyodorkannya ke mulut istrinya setelah merasa dingin.
Sahara menghirup aroma nasi goreng itu lebih dulu sebelum memakannya. Setelah puas, lalu membuka mulut lebar-lebar. Mengunyah makanan itu dengan penuh perasaan, menikmati hasil masakan suaminya.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Juan.
Sahara mengacungkan kedua jempolnya, mewakili pengakuannya bahwa nasi goreng buatan suaminya memang enak. Juan tersenyum senang, merasa puas bahwa akhirnya Sahara bisa makan dengan lahap.
Tapi ia tak mungkin membuatkan nasi goreng setiap hari, ia akan memasak dengan menu lain. Mungkin anaknya hanya ingin makan makanan yang dimasak oleh papanya.
"Anak pinter, makan yang banyak biar cepet gede," bisik Juan di perut Sahara. Juan terus mengajak calon anaknya berkomunikasi, dan Sahara selalu dibuat tersenyum dengan tingkah suaminya.
"Kata bayinya mau di suapi," ucap Sahara. Ia akan mulai dari hal kecil, ia akan terus membuat Juan selalu mengingatkan akan dirinya. Bahwa ia tanggung jawabnya, tanggung jawab suaminya.
***
Hari sudah mulai siang, seperti janji Juan kepada nenek Sahida. Ia akan merenovasi rumah kecil itu menjadi lebih nyaman.
Sahida tengah membereskan baju-bajunya ke dalam tas besar miliknya. Lalu Sahara datang menemuinya. "Nek, mau diapakan baju-baju itu? Nenek mau kemana?" tanyanya. Sahara memang tidak tahu rencana suaminya, dan Sahida pun tidak bilang. Juan sudah mewanti-wanti wanita tua itu agar tidak mengatakannya kepada Sahara.
Juan akan memberikan kejutan untuk istrinya itu, Juan menunjukkan kepeduliannya dari hal terkecil. "Nek, jawab! Nenek mau kemana?" desak Sahara.
"Nenek akan ikut bersama kita beberapa hari, aku mau Nenek tau keadaan rumah kita," jawab Juan dari ambang pintu.
"Rumah kita?" ulang Sahara.
"Iya, rumah kita. Kita akan menempati rumah baru. Nenek bilang kamu takut tinggal di rumah besar sendirian, jadi aku beli rumah yang tidak terlalu besar biar kamu nyaman saat aku tinggal kerja." Juan menghampiri lebih dekat, lalu mengecek isi tas milik nenek Sahida. "Sudah selesai 'kan? Kita bisa berangkat sekarang?" tanya Juan pada neneknya Sahara.
__ADS_1
"Sudah, Nenek hanya bawa baju jelek ini," jawab Sahida sembari memperlihatkan tas jelek miliknya. Juan hanya tersenyum menanggapi penuturan wanita tua itu. Lalu segera mengajak mereka untuk ke mobil.
"Kenapa cuma baju Nenek yang dibawa? Bajuku bagaimana?" tanya Sahara.
"Untukmu sudah aku siapkan, jadi tidak perlu khawatir. Sekarang kita berangkat."
***
Para tetangga menyaksikan kepergian Sahara dan nenek Sahida. Terutama bi Hanum, tetangga yang paling dekat dengan mereka. Nenek Sahida berpelukan sebelum pergi dari tempat tinggalnya. Tetangga di sana ada yang suka dan ada yang tidak suka dengan pernikahan Sahara. Mungkin hanya sebagian orang yang tidak menyukai akan sikap Sahara yang dikenal sebagai gadis bayaran.
Tapi Sahara tidak pedulikan itu, karena ia tak meminta makan dari tetangganya itu. Ia akan baik kepada orang yang baik padanya juga, begitu pun sebaliknya. Tak lama dari situ, muncul-lah Novan, teman semasa kecil Sahara.
"Novan, terima kasih selama ini sudah baik padaku juga nenek-ku. Jasamu akan selalu aku kenang," kata sahara. Novan sudah tidak sungkan lagi pada Sahara sehingga pemuda itu hendak memeluk teman kecilnya itu.
Tapi, Juan langsung menarik tangan Sahara. Sahara istrinya, dan selama itu tidak ada yang boleh memeluknya. Sahara yang terkejut hanya bisa terdiam, dan Novan pun jadi merasa canggung.
"Hati-hati ya, Ra. Jaga dirimu baik-baik," pesan Novan. "Untuk Nenek juga, jaga kesehatan, kalau rindu datanglah kemari," sambung Novan pada nenek Sahida.
Novan tergelak mendengar jawaban nenek Sahida. Dan akhirnya, mereka pun segera pergi menuju mobil yang terparkir di depan gang. Sejak tadi, Juan tak melepaskan tangan Sahara. Sampai di depan mobil, baru pria itu melepasnya.
Juan membuka pintu depan untuk Sahara, lalu membuka pintu belakang untuk nenek Sahida. Dalam perjalanan, Sahara dan nenek Sahida tak banyak bertanya Kedua wanita itu hanya menatap ke arah jalan yang melewati gedung-gedung tinggi. Ini pertama kali Sahara melewati jalan itu, karena Juan membawanya ke rumah baru mereka.
Sampailah mereka di kediaman Juan yang baru, persis seperti keinginan Sahara. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi ada taman di depannya. Ada ayunan yang akan menjadi tempat favoritnya di sana. Sahara tersenyum setibanya di sana. Terus mengedarkan pandangan disekeliling rumah.
"Ayo masuk," ajak Juan.
"Sore, Tuan," sapa security saat kedatangan majikannya. Seperti biasa, Juan hanya menebar senyum. Karena lelaki itu memang begitu adanya, ramah tamah sehingga para karyawan betah bekerja dengannya. "Sore, Nyonya," sapa security pada Sahara.
"Aku tidak mau dipanggil, Nyonya," bisik Sahara di telinga suaminya. "Panggil, Rara saja, Pak," seru Sahara.
"Tidak enak, Nya. Bagaimana kalau, Non saja. Non Rara, bagaimana?" tanya security.
__ADS_1
"Itu lebih baik, Pak!" jawab Sahara.
"Oh iya, nama Bapak Kardiman, Non. Non Rara bisa panggil Pak Diman," ujar security lagi.
"Iya, Pak Diman. Dan ini, Nenek saya, Pak," kenalnya pada Sahida. Kardiman tersenyum ramah dan dibalas ramah juga oleh Sahida.
"Pak, bantu itu bawa ke dalam," kata Juan. Kardiman mengangguk patuh, lalu mengambil tas yang dibawa oleh nenek Sahida.
***
Sahara mengistirahatkan tubuhnya di kasur empuk. Lalu Juan datang membawakan cemilan dan juga susu hamil untuk diberikan kepada istrinya.
"Terima kasih," ujar Sahara yang tahu bahwa susu itu untuk dirinya.
Lalu Juan hendak kembali ke luar, tapi Sahara keburu mencegahnya. "Mau kemana?" tanyanya.
"Aku ada urusan sebentar, tidak akan lama," jawab Juan.
"Apa kamu akan ke rumah sakit untuk menemuinya?" selidik Sahara.
"Tidak, aku ada sedikit pekerjaan," jawab Juan.
"Kalau soal pekerjaan, kamu bisa menyuruh anak buahmu untuk mengantarnya kemari."
"Apa itu tidak mengganggumu kalau aku bekerja di sini? Di sini belum ada ruang kerjaku, jadi pasti aku bekerja di kamar ini," kata Juan.
"Tidak, aku tidak merasa terganggu."
"Hmm, baiklah. Aku akan menyuruh sekretarisku membawa pekerjaanku kemari."
Aku rasa, Sahara mulai posesif
__ADS_1