Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Kehilangan


__ADS_3

"Apa pun akan aku lakukan demi anak ini selamat, walau nyawaku sebagai taruhannya," kata Sahara.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Sahara. Kamu jangan ambil resiko," terang Juan.


"Kamu ingin anak ini digugurkan sementara nanti kamu akan meningalkanku karena tidak ada lagi yang harus dipertahankan di antara kita, begitukan maksudmu?"


"Apa yang kamu ucapkan? Itu tidak mungkin, aku hanya ingin kamu sehat. Kita bisa mencobanya lagi nanti."


"Bohong, kalau pun aku tadi tidak datang kamu pasti meninggalkanku karena harus bertanggung jawab padanyakan?"


Seperti dugaannya, Sahara pasti salah paham mengenai kejadian tadi. "Kejadian tadi bukan sebagai alasan, walau kamu dijebak seharusnya kamu bisa menghindar, kamu bisa langsung pulang. Tidak harus melakukannya dengannya."


"Maafkan aku, Sahara. Aku tau aku salah."


Sahara kembali meringis, bicara terlalu ngotot membuat perutnya semakin sakit. "Tinggalkan aku, aku mau sendiri," ucap Sahara.


"Baiklah, kamu istirahat. Aku akan menemui dokter untuk mencari solusi." Juan beranjak lalu mencium kening istrinya.


***


"Bagaimana? Apa Anda sudah setuju untuk operasi?" tanya dokter.


"Apa tidak ada cara lain, Dok? Istri saya tidak mau operasi, dia ingin tetap anaknya selamat. Apa resikonya jika kami tetap membiarkannya hidup?" tanya Juan.


"Resiko untuk bayinya tidak ada, hanya saja pada istri Anda. Saya takut terjadi infeksi rahim maka dari itu untuk melakukan operasi. Saya takut nantinya malah terjadi kemandulan kalau tidak dibersihkan. Tapi saya belum periksa apa pendarahannya masih terjadi."


"Periksa dulu, Dok. Semoga ada keajaiban, saya tidak tega melihat istrinya seperti itu," terang Juan.


"Baiklah, Pak. Saya akan segera memeriksa, semoga sudah tidak pendarahan lagi."

__ADS_1


Juan berharap selamat, karena ini terjadi saat melakukan hubungan. Bukan kecelakaan atau apa pun yang berakibat fatal seperi terjatuh dan sebagainya.


Dokter dan suster sudah berada di ruangan Sahara. Juan mendesaknya untuk segera dilakukan pemeriksaan kembali.


"Sus, coba cek. Apa Bu Sahara masih pendarahan," ucap dokter.


Sahara panik, ia takut masih terjadi pendarahan pada dirinya.


"Tidak, Dok," jawab suster setelah memeriksa Sahara. Dokter memang sudah memberikan obat untuk penyumbatan. Dan sepertinya doa Juan dan Sahara terkabul, dokter sampai tidak percaya dengan mukzizat yang terjadi.


Lalu, dokter tersenyum, semoga kandungannya dalam baik-baik saja. "Sus, besok pagi tolong dicek kembali ya? Semoga pendarahannya benar-benar berhenti," kata dokter.


Sahara yang mendengar pun tersenyum, doanya terkabul. Ia sangat berharap agar bayinya bisa selamat. Sahara merasa bahwa hanya bayi ini yang bisa membuat hubungannya bertahan. Selagi Sonia beraksi, ia harus waspada karena wanita itu terlalu nekat untuk ambisinya.


Sahara pun sampai bingung, kenapa ada seorang ibu yang tega melakukan itu kepada anaknya sendiri. Atau jangan-jangan ... Nadien bukan anak kandung Sonia? pikirnya. Kemudian, Sahara menggelengkan kepala. Menepis dugaan yang mungkin belum tentu benar adanya.


Rasa lelah dan kantuk begitu dialami oleh Juan Ardinata. Pria itu terus menguap, tapi sebelum ia tidur dan beristirahat, ia menghubungi Maya agar pulang. Ia menyuruh Maya untuk menghandle kantor selagi dirinya berada di rumah sakit.


"Apa perlu saya hubungi orang tua Bapak?' tanya Maya di sebrang sana.


"Jangan, istri saya tidak apa-apa. Jangan sampai mereka tau kejadian ini," kata Juan. Ia tak ingin menjadi beban pikiran ibunya. Setelah menghubungi Maya, Juan meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu menelusupkan kepala di sisi brankar.


Sahara pun mengelus kepala suaminya. Dan Juan mendongak. "Boleh aku tidur sebentar? Aku sedikt lelah hari ini," terangnya.


"Hmm, tidurlah. Wajahmu juga pucat, lagian ini masih gelap." Ucap Sahara sambil melihat jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, ia pun merasa lelah dan perutnya masih sedikit terasa nyeri.


***


Di apartemen.

__ADS_1


Nadien tidak bisa tidur setelah kepergian Juan, karena Nadien mendapat ancaman dari mamanya sendiri. Ia tetap harus kembali kepada Juan. Tapi Nadien tetap tidak mau.


Nadien tertidur dengan posisi meringkuk. Semakin hari, Sonia semakin menekannya. Apa lagi setelah tahu siapa Juan sebenarnya. Seakan tidak rela kehilangan calon menantu miliarder muda itu. Tapi Nadien memang sudah kehilangan Juan.


Hidup Juan sudah bahagia bersama wanita yang menjadi suruhan ibunya sendiri. "Kenapa Mama begitu tega padaku? Aku bukan boneka yang bisa mama suruh-suruh, tidak cukupkah selama ini aku berjuang membahagiakan kalian?" lirih Nadien.


"Aku merasa orang asing di sini, Ma. Mama terus memaksaku menjadi seperti apa yang mama inginkan. Bahkan menjadi model pun keinginan mama, aku mencoba menjadi yang mama inginkan. Tapi untuk merebut kebahagiaan orang aku tidak mau, ma. Aku takut semua orang membenciku." Nadien kembali menangis.


Tanpa terasa, ia pun akhirnya tertidur. Matanya sembab serta hidungnya yang merah karena terus menangis. Satu jam kemudian, Nadien terlelap dari tidurnya. Namun, tidurnya terusik karena Sonia datang tiba-tiba.


Ia membangunkan anaknya, Sonia kembali mendesak Nadien agar tidak mengakhiri hubungannya dengan Juan.


"Bangun, Nadien," kata Sonia mengganggu tidur anaknya.


Nadien yang mendengar pun membuka mata secara perlahan. "Mama, Mama ngapain di sini?" tanyanya seraya mengucek kedua matanya. Akhir-akhirnya ini, Sonia kerap berlaku kasar padanya. Entah kenapa, Nadien merasa ibunya berubah. Kenapa sebenarnya Sonia itu?


"Mama butuh uang," ucap Sonia.


"Uang untuk apa lagi? Uangku sudah aku berikan semuanya pada Mama, apa uang itu sudah habis?" tanya Nadien. Nadien tidak nemiliki uang banyak lagi setelah hubungannya dengan Juan seperti ini.


"Jangan bohong, kamu selalu memberikan apa yang Mama inginkan," kata Sonia.


"Itu dulu, Ma. Sewaktu aku masih bersama Juan. Mama pikir aku dapat uang dari mana sebanyak itu? Setiap bulannya aku yang membiayai kebutuhan Mama dan papa." Papa Nadien sudah tidak bekerja beberapa minggu ini. Dan Sonia tidak tahu akan hal itu Itu sebabnya Nadien berniat pergi meninggalkan tanah air.


Hidupnya dikekang oleh Sonia, bahkan tidak mengizinkan ia berhubungan dengan Juan. Pada akhirnya ia benar-benar kehilangan Juan untuk selama-lamanya.


"Ayolah, Nadien. Papamu tidak memberi Mama uang. Di mana kamu simpan uangnya?" tanya Sonia sambil menggeledah laci-laci di kamar Nadien. Nadien semakin heran dengan perubahan Sonia yang drastis. Tidak ada lagi sisi baik dari Sonia kepadanya setelah ia membatasi uang bulanan kepada ibunya.


"Aku sudah bilang tidak ada uang, Juan hilang, uang pun ikut hilang, Ma." Kehilangan Juan membuat Sonia susah. Juanlah yang selama ini menghidupinya. Uang hasil kerja Nadien selalu diberikan kepada orang tuannya.

__ADS_1


__ADS_2