
Juan terpaku mendengar apa kata Sahara.
"Sampah? Aku tak menganggap kamu seperti sampah, kamu istriku yang sedang mengandung anakku. Jangan berharap aku akan melepasmu begitu saja!"
"Egois sekali, kamu harus memilih di antara kami. Bertahan dengan Nadien dan lepaskan aku, kalau kamu pilih anak ini putuskan kekasihmu itu."
"Ra, kalian belum tidur," teriak Sahida di luar kamar. "Ini sudah malam cepat istirahat," sambungnya lagi.
"Iya, Nek." Jawab Sahara sembari melirik ke arah suaminya, setelah itu ia langsung menganggkat kaki yang menjuntai untuk naik ke atas ranjang yang sempit menarik selimut untuk segera tidur. Ia tak peduli pada Juan, karena lelaki itu belum memutuskan kepada siapa dia akan memilih.
"Kok tidur sih, aku tidur di mana? Tempat tidurnya sempit sekali, Sahara."
"Tidur saja di luar, aku tak sudi tidur denganmu," jawab Sahara. "Nanti peluk-peluk dan ngigo tentang Nadien lagi," rutuknya.
"Aku ngigo? Apa yang ku katakan?" Juan penasaran apa yang telah ia ucapkan selagi tidur. "Kalau tidur di luar apa kata nenekmu? Nanti dia berpikir yang tidak-tidak, bukankah nenekmu tidak ingin mendengar keburukan tentang rumah tangga kita?"
"Kamu terlalu mencintainya sampai tidur pun kamu selalu menyebut namanya, kamu bisa tidur di kursi kayu kalau takut sama nenek. Aku ngantuk aku mau tidur." Sahara menarik selimut sampai menutupi kepala, sambil menahan sakit di perut karena sejak pagi Sahara belum makan karena tak berselera.
***
Plak, plak ...
Juan menepuk nyamuk yang beterbangan, tapi ia heran kepada istrinya, kenapa tidur senyenyak itu? Sedangkan di kamar ini banyak sekali nyamuk. Mungkin karena sudah terbiasa, pikirnya.
Tanpa Juan tahu, Sahara tengah menahan sakit di perut. Tak lama dari situ, Juan melihat istrinya bangkit dari tidurnya. Wanita hamil itu pergi ke dapur, entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Juan pun mengikutinya tanpa sepengetahuan Sahara.
Bumil itu tengah mengeluarkan penggorengan dari bawah meja kompor.
"Apa dia mau memasak?" kata Juan yang masih mengintip dari balik pintu.
__ADS_1
"Kok gak ada nasi sih," ucap Sahara. "Perutku sakit sekali." Ucapnya sambil memegang perut yang keroncongan. Lalu ia pun duduk di kursi kayu yang bisa dibilang itu meja makan di sana. Apa yang mau dimasak? Tidak ada apa-apa di dapur itu. "Aku ingin nasi goreng, apa aku ngidam ya?" gumamnya.
Juan yang mendengar langsung terenyuh, istrinya tengah kelaparan. Ia pun akhirnya menemui Sahara. Langsung meraih tangannya dan mengajaknya keluar.
"Kita mau kemana?" tanya Sahara.
"Kita cari makan, aku dengar tadi kamu mau makan nasi goreng."
Sahara tak menolak ajakan Juan karena ia memang menginginkan makanan itu, rasanya sudah berada di ujung lidah. Membayangkan makan nasi goreng di pinggir jalan tentu akan terasa nikmat bukan?
***
"Pak, nasi goreng 2," kata Juan setibanya di tempat yang menjual nasi goreng di pinggir jalan.
Tak lama, nasi goreng pun jadi. Juan langsung menyodorkan satu piring nasi goreng kepada Sahara. "Hmm, makanlah. Kalau ada apa-apa kamu bilang padaku, aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku tidak mau anakku ileran karena menginginkan sesuatu," ucap Juan.
Sahara tidak peduli apa kata suaminya, melihat nasi goreng yang menggoda di lidah ia langsung menyantapnya. Disusul oleh Juan, ia pun ikut makan bersama.
Sahara menggeleng, perutnya sudah terisi dan sudah kenyang. Mereka pun akhirnya pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.15, Juan mampir ke minimarket 24 jam.
"Tunggu saja di mobil, ada sesuatu yang mau aku beli." Juan langsung turun dan membeli kebutuhan dapur untuk di rumah nenek Sahida, ia menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana sehingga pas kembali ke mobil istrinya sudah tertidur dengan nyenyak.
Juan tak membangunkan Sahara, ia kembali melajukan mobil dan menepikan mobil di pinggir jalan tepat di gang sempit menuju rumah nenek Sahida. Tak tega membangunkan Sahara, Juan menggendong istrinya itu sampai rumah. Setelah membaringkan tubuh Sahara di tempat tidur ia kembali ke mobil untuk mengambil belanjaan.
Sebetulnya ia bisa menyuruh pegawainya untuk melakukan ini semua, Juan tak ingin menjadi pusat perhatian di daerah nenek sahida. Itu akan menambah para tetangga menggosip tentang Sahara yang dinikahi oleh orang kaya.
Ia yakin kalau Sahara pasti tidak nyaman dengan hal itu, sekalian Juan akan membuktikan bahwa rasa tanggung jawabnya sangatlah besar kepada keluarga istrinya itu.
Setelah itu selesai, Juan meletakan belanjaannya di dapur. "Sepertinya rumah ini harus direhab." Melihat sekeliling rumah itu, Juan merasa kasihan kepada nenek Sahida.
__ADS_1
Juan kembali masuk ke kamar, melihat istrinya yang sudah tidur dengan nyenyak. "Maafkan aku, Sahara. Hanya ini yang bisa aku lakukan agar kamu tidak pergi." Juan mengusap kepala Sahara, setelah itu kembali ke kursi untuk tidur. Sebelum tidur ia menggunakan lotion anti nyamuk agar bisa tidur tanpa gangguan.
***
Pukul 06.15, Juan sudah terbangun. Bahkan ia sudah berada di dapur.
"Nak Juan sedang apa?" tanya Sahida.
"Nek, aku sedang buat susu untuk istriku," jawab Juan.
"Wah, banyak sekali belanjaannya. Kapan beli ini semua?" tanya Sahida, ia melihat banyak makanan terutama saat melihat beras. Setelah sahara pergi 2 hari lalu tak ada yang membeli beras karena Sahara tulang punggung keluarga.
"Semalam, Nek," jawab Juan. "Oh iya, nanti Nenek ikut bersama kami ya, aku mau membetulkan rumah ini Nenek mau 'kan?"
"Sahara beruntung menikah denganmu, Nenek harap kalian selalu bahagia. Nenek titip cucu Nenek ya? Dia tidak punya siapa-siapa selain Nenek."
Juan tersenyum sambil mengocek susu di dalam gelas. "Nenek tidak usah khawatir, aku akan menjaganya. Aku permisi dulu ya, Nek." Juan membawa gelas yang berisi susu untuk Sahara.
***
Setibanya di dalam, Juan melihat Sahara sudah terbangun. Istrinya itu sedang mengikat rambut panjangnya dengan asal, aura dari kehamilan Sahara begitu terpancar. Juan memang mengakui dalam hati, bahwa istrinya itu memang cantik.
"Aku bawakan susu untukmu, minumlah selagi hangat." Juan menyodorkan susu kepada istrinya itu. sahara pun menerimanya.
"Apa ini bentuk perhatianmu?" tannyanya seraya meminum susu hangat itu.
"Itu sudah kewajibanku sebagai suami, setidaknya kamu tahu kalau aku menerima calon anakku. Dia tanggung jawabku." Lalu Juan berjongkok tepat di depan perut Sahara. "Anak Papa tumbuh dengan sehat ya? Jangan rewel kasian Mama." Setelah mengucapkan itu, Juan mencium perut Sahara.
Sahara tak menduga apa yang dilakukan suaminya, ia kira Juan tak akan berani melakukan itu.
__ADS_1
"Kamu istriku dan dia anakku, tidak ada larangan untukku melakukan itu," kata Juan. "Tetaplah bersamaku dan jangan pergi!"