
Keesokan harinya.
Juan sudah berada di kantor, bahkan saat ia berangkat Sahara masih tertidur dengan nyenyak. Ia hanya menyiapkan segelas susu di atas nakas kamar. Hari ini Juan memulai aktivitasnya seperti biasa.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Juan pada Maya.
"Bertemu clien, model untuk peluncuran kosmetik kita," jawab Maya.
Perusahaan Juan memang dibidang kosmetik, dan minggu ini ia meluncurkan prodak terbaru. Skin care yang begitu diminati wanit. Tak hanya wanita, sebagian pria pun menggunakan skin care.
"Jam berapa pertemuannya?" tanyanya
"Setelah makan siang," jawab Maya.
Juan melirik jam di tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Masih lama untuk bertemu dengan clien, masih ada waktu 2 sampai 3 jam.
"Ada sesuatu yang Bapak butuhkan?" tanya Maya.
"Tidak, kamu boleh keluar," ucap Juan. Maya pun keluar dan menyiapkan beberapa berkas untuk ditandatangani oleh clien. Kontrak kerja selama pekerjaan berlangsung.
Dan Juan, ia menghubungi Sahara. Meski jauh, ia harus memantau kesehatan istrinya. Ia tak ingin mag Sahara kambuh dan berdampak pada kandungannya.
***
"Kenapa dia tidak membangunkanku," ucap Sahara pas bangun tidur. Sahara tidur seperti kebo, bahkan susu yang disiapkan oleh Juan sudah dingin. Sahara tidak meminum susu itu karena rasanya pasti sudah tidak enak.
Sahara bangun jam 8 pagi, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mua dan gosok gigi terlebih dulu. Ini keseharian Sahara selagi masih tinggal di rumah lamanya. Setelah itu selesai, ia pergi menemui nenek Sahida.
Nenek tua itu sedang ada di taman tengah menyiram tanaman bunga. Di rumah itu hanya ada satu asisten dan seorang security. Asisten pun hanya paruh waktu, datang pagi, setelah pekerjaannya selesai asisten itu akan pulang dan kembali jam 5 sore untuk menyiapkan makan malam.
"Kamu baru bangun?" tanya Sahida yang melihat kedatangan Sahara. Sahara hanya tersenyum. "Lain kali jangan seperti ini, kamu 'kan sudah menikah. Harusnya bangun lebih awal dan siapkan kebutuhan suamimu," ujar Sahida.
"Iya, Nenek. Aku belum terbiasa," jawab Sahara. "Apa suamiku sudah berangkat?" tanyanya.
"Sudah, pagi-pagi sekali," jawabnya.
"Apa yang menyiapkan susu suamiku?" tanya Sahara.
__ADS_1
"Iya, siapa lagi kalau bukan suamimu. Kamu harus bersyukur menikah dengannya, dia sangat perhatian padamu," kata Sahida.
Perhatiannya hanya pada anaknya, Nek. Tidak untuk-ku
"Aku masuk dulu kalau begitu," pamit Sahara. Ia tak langsung mandi atau pun sarapan, kebiasaan lamanya masih belum bisa dirubah. Sahara menyalakan tv dan menonton film kartun kesukaannya. Sedang asyik menonton tv, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya," jawab Sahara tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Juan.
Sahara langsung melihat layar ponselnya saat mendengar suara suaminya. Lalu kembali meletakan benda pipih itu di telinga.
"Lagi nonton tv, kenapa emang?" tanyanya.
"Sudah sarapan?"
"Belom."
"Mandi?"
Satu jam kemudian.
Juan datang, lalu melihat istrinya tengah meringkuk di sofa sambil menonton tv. Juan yang kesal langsung mematikan tv-nya. Sahara mendongak, melihat suaminya yang sedang memegang remote tv.
"Kok dimatiin sih," gerutu Sahara. "Aku lagi nonton," ucapnya lagi.
"Jam berapa ini? Belum mandi, belum sarapan," ujar Juan. "Perlu aku mandikan seperti bayi!" sungutnya kesal. "Hilangkan kebiasaan burukmu, kamu itu sudah menikah, dan jadi istriku."
Sahara terdiam karena merasa Juan membentaknya. Ia salah paham apa arti ucapan suaminya. Yang Juan ingin, Sahara hidup teratur. Juan tak ingin istrinya telat makan dan berakhir ke rumah sakit.
"Kebiasaan buruk? Ya, ini kebiasaan burukku," ucap Sahara dengan mata yang sudah menggenang hampir menangis.
Dan Juan melihat itu, ia harus tegas demi kebaikan istrinya. Apa kata orang kalau sikap istrinya seperti ini. "Jangan salah paham, Sahara. Maksudku-."
Sahara tak ingin mendengar, ia merajuk karena Juan membentaknya. "Sahara ...," panggil Juan.
"Ada apa?" tanya Sahida yang baru saja tiba, ia mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sahara salah paham, maksudku bukan seperti itu, Nek. Aku mau dia tidak telat makan," jelas Juan.
"Maafkan, Sahara. Nenek harap kamu mengerti, dan jangan terlalu keras padanya, bicara pelan-pelan saja," ujar Sahida.
Juan yang belum tahu sikap Sahara pun segera menyusulnya. Sahara mengurung diri di kamar dan Juan terus membujuknya. "Sahara, buka pintunya. Aku tak bermaksud menyinggungmu."
Sahara merajuk, tidak seperti biasanya wanita itu marah. Mungkin efek dari hormon yang tak stabil. Gampang marah dan gampang sedih. Penuturan suaminya itu disalah artikan, padahal ini demi kebaikannya. Juan ingin istrinya berubah, sekarang hidup dilingkungan berbeda. Sahara harus bisa beradabtasi, itu maksud Juan.
"Aku minta maaf, Sahara. Ayolah buka pintunya," bujuk Juan kembali.
"Pergi, aku tidak mau diganggu!" sahut Sahara. "Terlalu banyak kebiasaan burukku, aku tidak bisa mengimbangimu," teriaknya.
"Ayolah ... Sebagai tanda permintaan maafku, kamu boleh minta apa pun," kata Juan.
Di dalam sana, Sahara menimbang-nimbang perkataan suaminya. "Boleh minta apa pun?" gumamnya. Tak lama, muncul Sahara dari balik pintu. "Serius aku boleh minta apa pun?" tanya Sahara setibanya di hadapan Juan.
Baru saja Juan akan menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Ya," jawabnya pada panggilan. "Oh, iya. Saya segera ke sana." Juan pun menutup ponsel. "Kamu siap-siap, kita akan pergi makan siang. Setelah itu terserah, kemana pun kamu mau aku temani."
Sahara tersenyum lebar, akhirnya ia bisa pergi jalan-jalan. Dan siang ini Juan akan bertemu clien, seorang model yang akan menjadi model skin care prodak terbarunya. Selagi menunggu Sahara, Juan memainkan ponselnya. Satu persatu ia membuka foto-foto Nadien. Lalu menekan tombol delete. Nadien benar-benar marah, sebagian fotonya ia hapus.
Walau bagaimana pun, ia harus menjaga perasaan Sahara Meski tidak mencintainya, setidaknya ia tak menyakitinya.
Dan Sahara, seperti biasa. Ia akan terlihat cantik jika akan bepergian. Juan yang melihat penampilan istrinya sangat terpukau. Wanita itu seperti bunglon, bisa berubah dalam sekejap. Juan sampai tak berkedip, setidaknya tidak membuatnya malu saat diajak pergi.
Rayuan suami memang sangat manjur. Sahara langsung bahagia karena diajak pergi ke tempat umum untuk yang pertama kalinya. Karena hampir semua orang tahu bahwa Sahara-lah istrinya, orang yang dicintainya. Pikir orang lain.
"Beginikan cantik," puji Juan.
"Tidak buatmu malu 'kan?" tanya Sahara.
"Tidak, perfack." Mereka berdua pun pergi dan pamit kepada Sahida sebelum berangkat.
***
"Kita akan makan siang sama siapa?" tanya Sahara.
"clien kerja," jawab Juan.
__ADS_1