
"Coba ini." Sonia memberikan sebuah stick daging pada Novan, ia benar-benar menjamu calon menantunya itu.
"Aku sudah selesai makan, aku duluan." Nadien beranjak dari tempatnya karena ia benar-benar sangat lelah. Berendam di bath-up pasti lebih menyenangkan dan membuatnya menjadi rilex.
"Mau kemana? Novan sendirian kalau kamu tinggal tunggu sampai papa pulang," sahut Sonia menghentikan langkah anaknya.
"Biarkan saja Nadien istirahat, Tante. Aku mau pulang saja," timpal Novan.
"Ma-ma ... Jangan Tante!" kata Sonia.
"I-iya, Ma.Biarkan saja Nadien istirahat," kata Novan membenarkan ucapannya.
Nadien pun tak lagi menunggu jawaban dari mamanya, gadis itu segera menaiki tangga. Rani saja sampai bingung melihat perubahan sikap Sonia yang sangat welcome banget pada Novan. Punya ajian apa pria itu? Kaya tidak, ganteng juga pas-pasan, pikirnya. Ah, sudahlah bukan urusannya. Karena Rani juga lelah, ia putuskan untuk pulang.
"Tante, aku pulang dulu ya? Beberapa hari Nadien cuti jadi aku tidak akan ke sini," pamit Rani.
"Oh iya, hati-hati di jalan," ucap Sonia.
Rani benar-benar bingung perubahan Sonia sangat drastis, biasanya kalau Rani izin pulang selalu ada saja yang membuatnya tertunda akan kepulangannya. Sonia selalu menyuruh ini-itu dulu padanya, tapi sekarang tidak dengan gampangnya ia mendapatkan izin. Ada bagusnya juga Novan di sini.
"Ma ...," teriak Nadien dari lantai atas.
"Ya, kenapa, sayang," sahut Sonia.
"Kran airnya kok mati sih, Ma," teriaknya lagi.
"Ya ampun, Mama sampai lupa manggil tukang," gumam Sonia.
"Kenapa, Tante? Eh, maksudku Mama." Lidah Novan sering keseleo karena belum terbiasa memanggil mama.
"Mama lupa manggil tukang, kran air di kamar mandi Nadien memang sering eror," terang Sonia.
"Aku bisa betulkan kalau diizinkan," kata Novan.
__ADS_1
"Bener? Apa tidak merepotkan?" tanya Sonia. "Ya udah kamu ke atas saja dan tolong betulkan krannya."
Novan pun beranjak dan langsung menuju kamar Nadien setelah diberi arahan di mana letak kamar putrinya. Pintunya telalu banyak sehingga Novan sedikit bingung. "Mungkin yang ini," ucap Novan menemukan pintu yang sedikit jauh dari pintu yang lainnya.
Klek
"Ma," panggil Nadien. Benar, itu kamar Nadien. Tapi di mana gadis itu? Hanya suaranya saja yang terdengar. "Aku di dalam, Ma. Buruan ke sini, mataku sudah pedih ni," ucap Nadien.
Novan tidak tahu kondisi Nadien saat itu, jadi ia langsung masuk karena Sonia sudah mengizinkannya. Alangkah terkejutnya Novan saat itu. Tubuh putih mulus tanpa noda itu terpangpang jelas di depannya. Mata Nadien terpejam karena dipenuhi busa shampo.
"Ma, cepat betulin aku tidak bisa melihat."
Glek, kerongkongan Novan terasa tercekat tubuhnya bergetar melihat dua tonjolan yang terlihat sempurna itu, sampai-sampai ia tak berani melihat tubuh Nadien di bagian bawah. Tubuh Novan bergetar. Perlahan, Novan membetulkan kran air itu dengan sangat cepat karena ia tak bisa berlama-lama di sana.
Byuurrr ...
Air keluar dari shower, tubuh Novan ikut basah karena kran air yang tiba-tiba menyala. Namun ia harus keluar lebih dulu sebelum Nadien tahu siapa yang sudah membetulkan kran-nya. Novan berhasil keluar dari dalam kamar mandi, ia menyentuh dadanya yang berdegub kencang. Tubuh polos itu terlintas dalam benaknya namun dengan cepat ia menggelengkan kepala menepis bayang-bayang itu.
"Sudah dibenerin?" tanya Sonia mengagetkan Novan. "Bajumu basah, ganti punya papa saja." Sonia tak menunggu jawaban ia langsung pergi ke kamar sebelah untuk mengambilkan baju untuk Novan.
"Ngapain di sini? Kenapa belum pulang juga? Terus bajumu kenapa basah?" tanya Nadien beruntun.
"Lah ... 'kan abis betulin kran makanya basah begini," jawab Sonia.
Nadien menunjuk pintu lalu ke Novan secara bergantian. "Ka-kamu ..."
"Iya, Mama yang nyuruh, Mama mana bisa betulin kran yang eror."
"Jadi kamu melihatnya?" Mata Nadien sudah sangat merah.
"Melihat apa? Melihat kran? Iya pasti melihat, Nadien. Kamu ini ada-ada saja, kalau tidak melihatnya mana bisa dibetulin. Novan calon menantu yang baik, keknya serba bisa cocok jadi mantu Mama," terang Sonia.
"A-aku permisi mau ganti baju yang basah." Novan jadi gugup lalu setelah itu melipir pergi ke kamar mandi yang ada di dapur.
__ADS_1
***
"Dia melihat tubuhku? Ya, Tuhan ... Mau ditaro di mana muka ku ini?" Nadien benar malu kalau Novan melihat seluruh tubuhnya yang polos. Apa setelah ini ia masih berani menampakkan diri di hadapan lelaki itu? "Dia sudah pulang belum ya?"
"Nadien ...," panggil Sonia di luar. "Temani Novan tuh, dia masih ada di bawah," sahutnya lagi.
"Aku ngantuk, Ma. Bilang saja kalau mau pulang tidak usah pamit aku mau tidur."
Sonia yang mendengar pun langsung kembali menemui Novan yang sedang main catur bersama papa Nadien, pak Chandra. Kedua lelaki itu terlihat lebih akrab karena Novan akan lebih mudah bergaul dengan laki-laki ketibang perempuan.
"Skakmat!" Pak Chandra sudah 2 kali dikalahkan oleh Novan.
"Ah, Papa. Masa kalah terus!" Sonia menyaksikan permainan mereka.
Lalu, Nadien mengintip dari anak tangga. Melihat kedua lelaki itu merasa sedikit menghangat. Biasanya, pak Chandra akan mengintrogasi setiap pemuda yang datang ke rumahnya, hanya saja Juan tak sempat diintrogasi oleh papanya karena hubungan mereka tidak banyak orang yang tahu termasuk orang tua Nadien sekali pun.
"Nadien pinter cari calon suami, Ma. Papa kalah sudah 2 kali baru kali ini loh ada yang ngalahin, Papa," ujar Chandra secara tidak langsung membanggakan Novan.
Novan menggaruk kepala yang tidak gatal karena merasa tersanjung. Sedangkan Nadien memutar bola mata dengan jengah. Semakin sulit untuk dijelaskan, mamanya pasti murka jika tahu siapa Novan. Bagimana ini? Nadien mengacak rambutnya frustrasi. Lalu ia kembali ke kamar karena tidak mau bertemu Novan, kejadian tadi sangat memalukan.
***
"Sudah malam, sebaiknya saya pulang. Tidak enak bertamu sampai semalam ini," ujar Novan.
Pak Chandra melihat jam di pergelangan tangan. "Baru juga jam 8, ini masih sore temani Om main catur sekali lagi Om harus bisa kalahin kamu, kalau Om kalah kamu boleh pulang."
Terpaksa Novan meladeni pak Chandra kembali main catur. Lagi-lagi pak Chandra kalah sehingga ia merelakan Novan pulang. "Tidak pamit pada Nadien?"
"Nadien pasti sudah tidur, Om. Tidak enak kalau harus dibangunkan, saya langsung pulang saja."
Di luar, Novan melihat ke arah kamar yang di tempati oleh Nadien. Lampu kamar itu masih menyala namun tiba-tiba lampu mati begitu saja, ia yakin kalau gadis itu belum tidur. Kejadian tadi pasti membuatnya malu, bukan hanya Nadien ia pun malu karena sempat ada yang terbangun melihat tubuh molek itu.
"Hapus pikiran kotormu, Novan!" Ia memukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
----------------
Sebentar tinggalkan Juan dan Sahara dulu ya lagi nanggung kisah Novan yang mulai ehem-ehemπππ jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungan dari kalian.