Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Menanam Benih


__ADS_3

Keesokan paginya.


Ardinata masih tertidur, sebetulnya laki-laki paruh baya itu sudah terbangun. Hanya saja ia berpura-pura karena diminta istrinya untuk mengantarnya ke dokter untuk memperpanjang KB yang dilakukan oleh Jihan.


"Pa, ayo dong bangun. Nanti keburu siang, Mama sudah buat janji dengan dokter Mirna," kata Jihan. Ia terus menggoyangkan tubuh suaminya, berharap akan segera bangun.


Ardinata menggeliat sambil menguap. Lalu mengucek kedua mata seolah masih mengantuk. "Ada apa sih, Ma? Inikan masih pagi, Papa masih ngantuk," jawab suaminya, lalu kembali memejamkan mata.


"Papa ...!!! Papa 'kan sudah janji mau anter Mama ke dokter, ya udah, Mama pergi sendiri saja," cetus Jihan.


Ardinata langsung terbangun, sebenarnya ia tidak mau istrinya dipasang KB lagi. Ia berharap istrinya mau hamil, apa lagi melihat kelucuan baby Han membuatnya semakin ingin memiliki momongan dari istri tercintanya. "Oke, Papa bangun."


***


"Bagaimana caranya ya agar Jihan tidak pasang KB?" Ardinata memikirkannya sambil mandi, hingga ia memiliki ide yang cukup membuatnya terkekeh sendiri. "Kenapa aku tidak kepikiran masalah ini dari dulu?" Ia langsung menyelesaikan mandi dengan secepat kilat.


Hingga akhirnya ia selesai dengan aktivitasnya, dan ia langsung menemui istrinya yang tengah bersama sang cucu. "Ma, Papa udah siap nih," kata Ardinata.


"Kalian mau kemana?" tanya Sahara.


"Ke dokter," jawab sang mama.


"Ngapain?" tanya Juan.


"Pasang KB," jawab Jihan lagi.


"Oh ...," jawab Sahara dan Juan.


"Mama sama Papa pergi dulu ya," pamir Jihan.


***


Di rumah sakit.

__ADS_1


Sebelumnya, Ardinata meminta doktee melakukan sesuatu. Awalnya dokter itu tidak mau melakukannya karena bagaimana pun itu masalah menyangkut nama baiknya jika KB itu disabotase. Berhubung Ardinata sangat memohon, akhirnya dokter membantu keinginan suami dari pasien.


"Sudah," ucap dokter setelah ia menyuntik Jihan di bagian panta*


"Terima kasih, Dok," ucap Ardinata. Dan mereka pun pamit.


Selama perjalanan pulang, Ardinata tak henti-hentinya mencium punggung tangan istrinya. "Papa kenapa sih?" tanya Jihan melihat keanehan suaminya.


"Tidak, Papa lagi kangen aja. Ma, kita pergi ke hotel yuk? Di rumah kayaknya gak bisa itu ..."


Jihan mengerutkan kening. "Apa sih, Pa. Ngapain juga ke hotel? Di rumah 'kan bisa, lagian ini masih pagi. Nunggu malam 'kan masih lama."


"Tidak usah nunggu malam deh, Ma. Papa udah kebelet nih, ya mau ya?"


Jihan tidak pernah menolak keinginan suaminya selain memiliki momongan, bahkan ia selalu memberi kepuasan terhadap suaminya. Karena itu kunci utama kebahagiaan rumah tangga baginya. Mau tak mau ia menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Ardinata sangat antusis saat istrinya menyetujui keinginannya. Ia langsung menancapkan gas mencari hotel terdekat. Setelah mensabotase KB yang dilakukan istrinya, ia tak akan memberi jarak lagi. Ia akan terus menanam benih agar istrinya cepat hamil. Dan tibalah mereka di hotel yang cukup besar di kota. Setelah memesan kamar, mereka langsung masuk ke kamar.


Ardinata membuktikan perasaannya, penuh kasih sayang dengan curahan yang tiada henti. Jihan merasa menjadi wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Meski bukan yang pertama, ia berharap ini labuhan cinta yang terakhir


***


"Pa, pelan-pelan dong." Ucap Jihan sambil menahan ciuman suaminya yang sedikit bringas.


"Papa udah kebelet nih, Ma." Tanpa menunggu lama lagi ia langsung melucuti pakaian keduanya bahkan pakaian itu sudah berhamburan di atas lantai.


Belum apa-apa Jihan sudah dibuat mabuk kepayang oleh suaminya. "Papa semangat sekalu sih, Mama sampai sudah pelepasan," lirih Jihan yang tersengal ulah suaminya.


"Tapi Mama suka 'kan? Papa akan memuaskan Mama hari ini, bila perlu kita nginap di sini ya?" Ardinata tidak akan melepaskan istrinya karena ini kesempatan ia untuk menanam benihnya. Ia berharap sepulang dari sini keinginannya terwujud, berharap Jihan langsung hamil.


Ardinata kembali merengkuh tubuh yang polos itu, meski umurnya sudah cukup matang tapi tubuhnya masih sangat terjaga. Buah dada yang tidak lembek bahkan masih kencang karena Jihan pandai merawat tubuhnya.


"Pa, Mama sudah lelah," lirih Jihan.

__ADS_1


"Tapi Papa masih ingin, Ma. Baru juga sekali," bisik suaminya.


"Kasih jarak deh, Mama lemes banget. Mama mau istirahat dulu." Suaminya benar-benar tidak memberi ampun, bahkan suaminya biasanya selalu meminta udahan lebih dulu. Tapi kali ini tidak, Ardinata sudah memikirkannya matang-matang.


Sebelum ia melakukan dengan istrinya, ia meminum obat kuat lebih dulu karenaia yakin kalau ia pasti kalah dari istrinya.


Keduanya pun istirahat beberapa jam. Saat Jihan masih tidur, Ardinata kembali meminum obat kuat sehingga miliknya sudah berdiri tegak. "Ma, bangun. Papa mau lagi nih," bisiknya.


Mendengar itu, Jihan langsung membuka mata. Bahkan matanya menajam, baru kali ini suaminya bagai orang kesurupan. Tapi ia tak dapat menolak saat tubuh suaminya sudah digesek-gesekan di paha.


"Papa minum obat kuat ya?" tanya Jihan.


Bukannya menjawab, suaminya malah mengungkung tubuhnya. Untuk sekedar menjawab pun ia sudah tidak dapat menahannya. Ia langsung saja memasukkan bagian tubuh menegang itu ke dalam ini. Pinggulnya langsung bergerak cepat sampai-sampai tubuh Jihan ikut bergoyang karena hentakkan yang dihujam oleh suaminya.


Meski begitu, Jihan ikut puas karena ia pun menikmatinya. Ini permainan yang bisa dibilang sejarah dalam hidupnya. Beberapa kali ia dibiat seakan terbang ke awan. Tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Jihan merasa sudah lemas dan sangat kelaparan.


"Pa, Mama laper banget nih. Mama mandi dulu ya, terus Papa pesen makanan yang banyak. Tenaga Mama terkuras habis."


Bibir Ardinata melengkung, ia puas karena sudah berhasil menanam benihnya. "Iya, Mama mandi duluan saja. Papa mau pesen makan, makanan yang paling spesial untuk Mama, agar Mama punya tenaga lagi. Nanti malam lagi ya, Ma?"


Jihan langsung melotot, rasanya tidak sanggup lagi kalau ia melayani suaminya. Bagian tubuhnya sudah sangat perih, bahkan untuk berjalan saja sudah seperti pinguin. Ia sudah seperti pengantin baru yang habis dijamah di malam pertamanya.


"Iya-iya ... Tidak lagi," kata suaminya.


Dan Jihan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan suaminya memesan makanan. Hingga Jihan sudah kembali dengan rambut yang basah, menggunakan jubah handuk menghampiri suaminya. Makanan sudah tersedia, tanpa menunggu lama lagi ia langsung menyantapnya, bahkan tak menunggu suaminya.


"Mama laper, Pa. Maaf kalau tidak menunggu Papa. Keburu Mama pingsan kalau nunggu Papa mandi dulu," ucapnya dengan mulut penuh makanan.


"Iya tidak apa-apa, habiskan saja. Setelah ini kita pulang," jawab Ardinata.


"Gak jadi nginep?"


Ardinata menggelengkan kepala sebagai jawaban, karena misinya kini sudah selesai. Ia berhasil beberapa kali menanamkan benihnya.

__ADS_1


__ADS_2