Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Lupa Buka Puasa Suami


__ADS_3

Acara yang tengah digelar pun akhirnya berakhir. Sang pengantin sudah sangat terlihat lelah, mereka langsung undur dari ruangan setelah para tamu pamit satu persatu. Novan meregangkan otot-otot yang terasa pegal, ia menuntun istrinya dan pergi ke kamar hotel.


Begitu pun dengan Sahara dan Juan, mereka sudah berada di kamar. Bahkan Sahara sudah lebih dulu tertidur sambil memeluk baby Han. Juan menatap dua orang yang dicintainya itu, mengelus pipi mungil lembut anaknya, lalu menciumnya dengan sayang. Tak lupa mencium sang istri sebelum tidur.


"Mimpi indah ya, istriku. Aku menyayangi kalian." Lagi-lagi, Juan mencium mereka secara bergantian. Ia pun akhirnya merebahkan tubuh di samping baby Han menyusul mimpi mereka.


***


Di kamar sebelah.


Novan tengah memijat kaki istrinya, padahal, ia sendiri pun tengah merasakan pegal. Namun, demi istri tercinta ia rela menahan rasa pegalnya itu. Sesekali, Novan menguap. Ia sudah mengantuk tapi Nadien masih ingin tetap dipijat sampai ia tertidur.


Sesekali Novan tersungkur menahan kantuk, tak lama, ia mendengar dengkeran halus. Menandakan bahwa istrinya tertidur, ia lega dengan semua itu. Ia terbebas dari aktivitasnya, tanpa menunggu lama lagi, Novan menelusupkan kepala di bantal. Pria itu langsung mendekur dan tidur.


Keesokan paginya.


Novan langsung bersiap-siap, ia harus terbang ke Amerika saat itu juga. Pekerjaan sudah menanti. Nadien sendiri akan ikut dan sudah mengundurkan diri dari dunia hiburan, ia akan menjadi istri yang berbakti pada suami. Novan dan Nadien berpamitan, mereka sudah berada di Bandara. Semua ikut mengantar termasuk Sahara. Untuk yang pertama kalinya, mereka berpelukkan. Sonia yang melihat pun tak menyangka dengan mereka, wanita paruh baya itu telah menyesali perbuatannya. Ia ikut bahagia karena anaknya menemukan kebahagiaannya bersama Novan.


"Aku pamit ya," kata Nadien.


"Hati-hati, beritahu kami jika sudah sampai di sana," kata Sonia.

__ADS_1


"Iya, itu pasti," jawab Novan.


Novan dan Nadien pun undur diri, dan mulai menghilang dari pandangan. Karena Novan dan Nadien sudah tidak terlihat, Juan dan yang lainnya pun pulang ke rumah masing-masing.


***


Di dalam mobil.


Sahara dan suaminya tengah menuju perjalanan pulang, dan untuk baby Han, bayi itu sudah pulang lebih dulu bersama pengasuhnya. Untuk Jihan sendiri tidak ikut mengantar Novan dan Nadien, ibu paru baya cantik itu tengah sibuk mengurus acara aqiqah yang akan digelar untuk baby Han. Bayi mungil itu akhirnya mendekati usia 40 hari, itu tandanya, Juan tak akan lama lagi berbuka puasa.


Pria itu terus menggenggam tangan istrinya, sesekali mengecupnya. Dan Sahara menyandarkan kepala di bahu sang suami, sampai-sampai wanita beranak satu malah tertidur dengan nyenyak karena suaminya terus mengusap kepalanya.


"Sayang, kok malah tidur sih?" kata Juan.


"Sahara kenapa?" tanya Jihan, ia takut anaknya kenapa-kenapa karena belum lama pasca melahirkan, ia takut terjadi sesuatu dengan Sahara.


"Tidur, Ma. Mungkin cape juga," jawab Juan. "Barusan kami ikut mengantar Novan ke Bandara," jelas Juan.


"Hmm, begitu. Udah sana, bawa ke kamar saja. Soal aqiqah juga sudah siap. Kamu terima beres saja," kata Jihan.


"Mama is the best pokoknya, semangat ya, Ma," ujar Juan. Lalu ia pun membawa istrinya ke kamar, dan besok acara aqiqahan digelar.

__ADS_1


***


Tibalah waktunya hari-hari yang ditunggu. Baby Han berusia 40 hari. Bayi itu sangat sehat dan tubuhnya mulai berisi, apa lagi dengan pipinya yang seperti bakpau. Bayi laki-laki itu menangis saat mendengar pengajian dari para jemaah yang hadir. Konon, yang katanya kalau bayi menangis itu akan terberkati dan rezekinya akan bagus saat dewasa nanti.


Sahara menitikkan air mata saat menyaksikan itu semua. Rasanya tak percaya ia memiliki segalanya. Kebahagiaan, berkumpul dengan sang mama yang lama terpisah. Andai, sang nenek belum pergi, mungkin wanita tua itu akan sangat bahagia melihat cicitnya.


"Jangan menangis, aku juga ikut nangis jadinya," ucap Juan.


"Ini tangisan bahagia, aku sangat bahagia," balas Sahara.


Selesai sudah acara itu, para jemaah yang hadir pun mulai undur diri dari kediaman Ardinata. Mereka membawa paperbag sebagai tanda ucapan terima kasih dari yang punya acara.


Baby Han terlihat anteng setelah acara itu selesai, lalu, Sahara membawanya ke kamar karena akan memberikan ASI. "Ma, aku pamit dulu," kata Sahara.


"Aku juga," timpal Juan.


Tiba di kamar, Sahara memang langsung memberikan ASI-nya. Ini sudah cukup larut bagi seorang bayi, sudah saatnya untuk tidur. Namun, pada saat Sahara memberikan ASI-nya, Juan memijat pundak dari belakang. Entah ada maunya atau memang tulus, hanya Juan yang tahu soal itu.


"Kamu pasti cape 'kan?" tanya Juan basa-basi.


"Tidak, cape kenapa coba? Aku 'kan tidak mengerjakan apa-apa, seharian tadi hanya diam saja," jawab Sahara, tanpa ia sadari kalau suaminya ada maunya. "Malah aku ngantuk, aku mau tidur." Sahara merebahkan baby Han tanpa melepaskan pautan bibir baby Han di dadanya.

__ADS_1


Juan menghela napas, kalau sudah begini mau apa? Terpaksa ia pun akhirnya menyusul tidur meski hatinya menggerutu akan ketidakpekaan istrinya. Sahara lupa kalau hari ini jatah suaminya berbuka puasa.


__ADS_2