
Hari yang tunggu pun akhirnya tiba, Juan sudah siap dengan setelan jas-nya. Sayang, Sahara tidak bisa ikut karena kurang enak badan. Jadi ia hanya membantu suaminya bersiap-siap.
"Setelah acara selesai, aku akan langsung pulang," ucap Juan, lalu mencium kening Sahara. "Kamu istirahat saja," tuturnya.
"Hmm," jawab Sahara singkat. Ia percaya kalau suaminya tidak akan macam-macam, sekali pun suaminya bertemu dengan kekasihnya. Karena Juan akan mengakhiri hubungannya yang masih menggantung tidak jelas. Juan belum mengakhiri secara langsung dengan model cantik itu.
"Aku berangkat," kata Juan.
Sahara mengantar suaminya sampai depan rumah mereka, tahu launching skin care dipercepat, mereka tak jadi menginap di rumah nenek Sahida. Pada malam hari mereka langsung pulang ke rumah.
***
Sementara di tempat lain.
Nadien pun sudah bersiap-siap, dengan koper yang tentunya sudah siap juga. Setelah pekerjaannya selesai, ia akan langsung terbang ke Amerika.
Dan Sonia, ia terus mencoba mencegah kepergian anaknya. "Kamu pikirkan ini baik-baik, Nadien. Kesempatan tidak akan datang dua kali," tutur Sonia.
"Kesempatan apa, Ma? Aku dan Juan sudah tidak mungkin bersatu, dia sudah menikah dan bahagia. Makanya aku mau pergi untuk melupakan semuanya, aku cape Mama selalu ikut campur urusanku." Nadien tak menghiraukan keinginan ibunya yang terus mencegahnya.
Nadien berlalu sembari menyeret koper ke dalam mobil. Ia pergi bersama Rani manager-nya. Saat Nadien sudah berada di dalam mobil, Sonia menarik tangan Rani dan memberikan sesuatu pada wanita itu.
"Apa ini?" tanya Rani.
"Cegah kepergiannya, dan ini, kamu masukkan obat ini ke dalam minuman Juan."
"Maksud, Tante?" Rani tidak mengerti.
"Sudah ... Pokoknya kamu lakukan perintahku, tidak cukup dengan kebaikanku selama ini pada keluargamu? Ingat! Kalau bukan aku yang membiayai pengobatan adikmu, mungkin adikmu sudah mati," terang Sonia.
"Ta-tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu lakukan!" Kata Sonia sambil meraih tangan Rani dan meletakkan obat itu di telapak tangannya.
__ADS_1
"Rani ...," teriak Nadien.
"I-iya, sebentar," sahut Rani.
"Lakukan! Awas kalau kamu tidak melakukannya!" ancam Sonia.
Rani pun memasukkan obat itu ke dalam saku, tanpa ia tahu obat apa itu.
***
"Ngapain aja sih lama sekali?" tanya Nadien saat Rani sudah masuk ke dalam mobil.
"Sakit perut," jawab Rani memberi alasan. "Jalan, Pak," ucap Rani kepada supir.
"Kamu kenapa? Masih sakit perut?" tanya Nadien melihat Rani dengan mimik wajah yang tidak dari biasanya.
"Ti-tidak!" Jawab Rani seraya menggelengkan kepala, ia gugup karena tidak tahu harus dengan cara apa memasukkan obat itu ke dalam minuman Juan. Sebenarnya obat apa sih ini? Rani berharap itu bukan racun.
Tibalah mereka di kantor pusat yang diselenggarakan launching-nya skin care prodak terbaru dari perusahaan Juan Ardinata.
Juan pun sebenarnya merasa kasihan kepada Nadien, angan-angan hidup bersama pun pupus. Juan tak menyangka bahwa kisah cintanya berakhir seperti ini. Ia berharap Nadien tak menaruh dendam sedikit pun kepadanya.
Peresmian akan segera dilakukan. Wartawan pun sudah berjajar akan mewawancarai Nadien juga Juan. Acara berlangsung dengan mulus. Sementara di belakang, Rani berpikir keras bagaimana caranya obat yang dipegangnya bisa masuk ke dalam minuman Juan, sedangkan minuman itu dalam kemasan.
Akhirnya, Rani memasukkan obat itu ke dalam botol kemasan yang berisikan minuman. Setelah acara selesai, Rani menghampiri Nadien yang masih bersama Juan juga dengan Maya. Rani masih memegang botol minuman yang berisi obat itu. Saat semua lengah, Rani menukar botol itu dengan milik Juan. Jantungnya ikut berdebar karena takut ketahuan.
Akhirnya, Rani bernapas lega karena berhasil. Mereka masih berbincang, dan Juan mengutarakan sesuatu pada Nadien setelah para wartawan undur diri. Ia ingin bicara empat mata. Sebelum Nadien mengiyakan, Juan meminum minumannya. Air dalam kemasan itu sampai tersisa setengah karena Juan mempersiapkan diri untuk bicara dengan Nadien, wanita yang beberapa tahun mengisi hari-harinya.
"Nadien, boleh kita bicara sebentar?" tanya Juan sambil meletakkan botol di atas meja. "Tapi tidak di sini, bicara di ruangkanku, bagaimana?" Juan tidak ingin ada yang tahu soal hubungannya dengan Nadien, bagaimana pun sebagai lelaki gantle ia harus menjelaskan hubungan mereka.
"Bicara di sini saja, aku rasa sudah tidak ada yang penting lagi di antara kita 'kan?" Nadien menutupi kesedihannya.
"Tidak di sini, Nadien." Juan sedikit memaksa karena memang harus membicarakan hubungannya.
__ADS_1
"Sebentar saja, aku tidak punya banyak waktu."
***
Nadien dan Juan sudah berada di ruangan tertutup, tidak ada yang bisa menguping atau pun mengganggu mereka.
"Langsung saja!" cetus Nadien.
"Aku tau kamu marah padaku, tapi kamu juga taukan kalau ini semua bukan sepenuhnya salahku."
"Jangan bertele-tele, to the point aja!"
Juan terdiam melihat perubahan tutur kata wanita itu. Juan memakluminya. Saat Juan hendak melanjutkan kata-katanya, ada sesuatu yang merasa aneh di dalam tubuhnya. Hawa panas, dan tiba-tiba kepemilikkannya menegang begitu saja.
Ada apa denganku? Kenapa rasanya seperti ini? Juan ingat akan sewaktu sebelum ia tidur bersama Sahara, rasanya sama persis. Juan mencoba menahan hasratnya, ia mencengkram bahu kursi kuat-kuat. Wajahnya perlahan memerah, hawa panas semakin terasa. Melihat bibir ranum Nadien sangat menggoda, ditambah lagi dengan pakaian minim gadis itu. Paha mulus itu begitu menggoda. Juan menggigit bibir bawahnya.
"Katakan! Jangan membuang waktuku!" seru Nadien.
Juan tak dapat menahan sesuatu di dalam sana yang sudah memberontak. Lalu ia menghampiri Nadien dan ikut duduk di sampingnya. Juan menyentuh bahu Nadien, Nadien merasa aneh dengan sikap Juan yang tak seperti biasanya.
"Lepaskan tanganmu dari bahuku!" sentak Nadien.
"Panas, aku kepanasan, Nadien!" seru Juan tidak tahan.
"Kamu kenapa?" tanya Nadien ikut panik. Nadien mundur dari sofa, ia melihat Juan seperti orang kesurupan. "Jangan macam-macam kamu!" Nadien belum sepenuhnya tahu apa yang dirasakan oleh Juan.
Lalu, ia teringat akan keinginan ibunya. Apa ini yang disebut rencana Mama?
***
Sahara merasa gelisah, karena melihat acara di tv, seharusnya suaminya sudah pulang. Tapi kenapa sampai saat ini masih belum kembali? Sahara jadi khawatir apa suaminya ingkar janji? Bertemu dengan kekasih hatinya, apa Juan bisa membatasi diri? Pikir Sahara.
"Kok gak diangkat sih!" gerutu Sahara yang cemas. "Semoga tidak terjadi apa-apa di antara mereka, tapi kenapa aku merasa tidak tenang? Apa aku susul saja dia ke kantor?" Entah firasat atau apa, yang jelas Sahara tidak tenang apa lagi mengingat suaminya tengah bersama wanita yang pernah berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pergi sekarang."