
Sonia mengajak Novan berfoto selfy, lalu membuat status di WA. Saat itu juga Nadien melihatnya, terkejut sudah pasti. Novan pintar mengambil hati orang tuanya.
"Ada apa?" tanya Rani melihat Nadien tengah menatap layar ponsel. Nadien memperlihat ponselnya ke Rani gadis itu pun sama terkejutnya bahkan sampai menutup mulutnya yang menganga.
"Kok, bisa?" Rani tak percaya. "Pake ajian apa laki-laki itu sampai buat orang tuamu jatuh hati kepadanya?"
Tidak ada yang spesial dari laki-laki itu, hanya karena mengira Novan pria kaya Sonia langsung dekat tanpa mencari tahu siapa diri Novan yang sebenarnya. Kejadian kemarin menjadi pelajaran bagi Sonia, namun siapa sangka yang ia kira malah bukan orang kaya, begitu pun sebaliknya.
Sonia kembali menambah statusnya, kali ini, Novan dikerubuni oleh ibu-ibu genit yang merupakan teman-teman Sonia. Tanpa sadar, Nadien cemberut karena tidak suka.
"Dasar genit! Sama ibu-ibu saja begitu apa lagi sama yang muda," cetusnya.
"Cie ... Cemburu ni ye," goda Rani.
"Apaan sih, gak jelas banget!" Nadien memutar bola mata jengah lalu beranjak dari posisinya karena pemotretan hari ini memang sudah selesai.
***
Hari sudah mulai gelap. Novan tak diperbolehkan pulang oleh Sonia, calon menantunya ia kenalkan pada teman-temannya sampai-sampai Nadien datang menghampiri mereka. Nadien menarik tangan Novan dan langsung membawanya pergi. Di tempat yang sunyi, Nadien menghempaskan tangan Novan begitu saja.
"Apa maksudmu begini?" tanya Nadien.
__ADS_1
"Begini gimana?" Novan tidak mengerti.
"Kenapa semakin larut dalam kebohongan? Kenapa tidak jujur dengan keadaanmu? Kamu beri harapan palsu kepada orang tuaku ngaku-ngaku jadi orang kaya, kalau mereka tau siapa kamu sebenarnya mereka tidak mungkin menerimamu sebaiknya sudahi ini!" sentak Nadien.
"Siapa yang bohong? Aku atau kamu? Siapa yang menciptakan situasi seperti ini? Kamu! Kamu yang mengira kita pacaran, aku tidak membohongi orang tuamu. Memangnya aku mengaku sebagai pacarmu? Tidak 'kan? Aku juga tidak mengaku sebagai orang kaya, aku sadar siapa aku."
Nadien terdiam beberapa saat. "Tapi tidak harus muncul lagi dan menemui mamaku."
"Aku tidak berniat menemuinya, kami bertemu tidak sengaja," jawab Novan.
"Lalu, apa ini?" Nadien menyentuh pakai Novan yang kebalikannya dari penampilannya kemarin.
"Kenapa? Ada yang salah dengan pakaianku? Salah jika aku memperbaiki diri dan mencari pekerjaan yang layak? Kamu jangan berpikir aku seperti ini karena akan mencari perhatian dari orang tuamu atau membohongi mereka. Apa lagi padamu, secuil pun aku tak tertarik padamu!".
"Kenapa? Mau marah? Kamu pikir kamu itu cantik? Menarik, hah? Bahkan kamu sendiri yang menciumku, sebagai laki-laki aku merasa dilecehkan."
"Apa kamu bilang? Iihhh ..." Nadien memukul Novan membabi buta. Novan langsung menghentikan pukulan itu, mencekal lengan Nadien dengan sangat erat. Pandangan mereka bertemu beberapa saat. Lama, semakin lama sehingga tak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Perlahan, wajah mereka mendekat. Tak sadar bahwa Nadien datang marah-marah karena tidak ikhlas bahwa Novan tengah dikerubuni emak-emak genit.
Dan Novan, memang sengaja buat Nadien kesal padanya. Larut dalam situasi mencekam, hawa-hawa dingin menerpa dari udara. Kini, kedua bibir itu saling beradu. Nadien memejamkan mata dan Novan menyelipkan tangan di leher jenjang gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Ini pertama kali Novan bermain. Nadien memberi arahan sehingga Novan terbuai dengan permainan gadis yang sudah berpengalaman berciuman itu. Apa yang mereka lakukan? Tanpa sadar perasaan itu tumbuh karena saling merindukan. Rindu akan kekonyolan dari seorang Novan, dan tiba-tiba pria itu diam bahkan saling tak mengenal.
__ADS_1
Mereka melepaskan ciuman itu, Novan mengusap bibir Nadien yang basah. Dan gadis itu terkikuk sadar akan apa yang telah dilakukan. Bibir Novan melengkung tersenyum tipis, melihat sikap Nadien yang menjadi manis. Entah malu atau apa, Nadien berniat meninggalkan Novan. Namun dengan sigap pria itu menarik tangan gadis itu dan Nadien terjerembab ke dalam pelukkannya.
Memeluknya dengan sangat erat, cinta itu tumbuh dengan sangat cepat. Bayang wajah gadis itu selalu menghiasi hari-harinya. Lebih tepatnya setelah Nadien mencuri ciuman pertamanya.
"Ini pertama kali bagiku, kamu wanita yang pernah aku cium. Dan ini memang bukan ciuman pertamamu, tapi aku ingin bibirku yang terakhir kamu sentuh," bisik Novan.
Nadien melepaskan diri dari pelukkan itu, lalu menatap wajah Novan. Mencari keseriusan apa betul ia yang mencuri ciuman pertamanya? Nadien memang membutuhkan sosok pengganti itu, membantunya terlepas dari jeratan dan bayang-bayang lelaki yang selalu menghiasi hidupnya selama beberapa tahun ke belakang.
Melepas dengan iklas dan kini ia mendapatkan gantinya yang jauh lebih baik. Seharusnya ia beruntung bahwa ia-lah orang yang pertama disentuh olehnya. Pria itu terasa kaku saat berciuman dengannya. Namun, ada sesuatu yang membuat gadis itu gelisah. Keadaan Novan pasti tak diterima oleh keluarganya.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku takut rasa sakit itu terulang, aku takut ini hanya akan menambah luka. Pergi! Pergi dari hidupku, jangan beri aku harapan seperti ini. Carilah wanita yang bisa membuatmu nyaman." Nadien berhasil melepaskan diri, ia takut ini hanya membuatnya sakit semakin dalam. Ia tahu apa yang akan terjadi nanti jika orang tuanya tahu siapa diri Novan sebenarnya. Lebih baik sakit sekarang dari pada nanti.
Novan melihat kepergian gadis itu dengan tatapan nanar. Perlahan punggung itu kian menghilang dari pandangan.
"Aku akan buktikan bahwa aku layak untuk dimiliki, aku akan yakinkan orang tuamu bahwa hanya aku yang terbaik untukmu."
***
Sendiri, menatap langit-langit kamar. Nadien menyentuh bibirnya, sentuhan bibir itu masih sangat terasa wajahnya mulai terbayang di pelupuk mata. Inikah cinta? Bibir Nadien tersenyum tapi senyum itu kian memudar kala mengingat siapa Novan. Seorang lelaki biasa dengan pakaian kucel dengan seragam montir yang penuh dengan oli.
Jika Sonia tahu, pupus sudah harapan itu. Nadien tak ingin menyakiti hati dan mematahkan perasaan Novan. Meski pria itu tak mengatakan cinta, ia tahu bahwa lelaki itu memiliki perasaan di balik sikapnya yang tengil.
__ADS_1
"Tapi, apa benar dia sedang mencoba merubah nasib? Mencari pekerjaan yang lebih baik?" Sebenarnya, Nadien tak mempermasalahkan siapa yang menjadi jodohnya asal bertanggung jawab dan bisa menjaga perasaannya saja sudah lebih dari cukup. Cinta, baginya tak mengenal kasta. Yang penting bahagia.
Rasa gelisah itu kini dialami oleh Nadien, tak hanya dirinya yang seperti ini Novan tak kalah gelisah karena takut Nadien menjauh karena dirinya yang masih seperti ini.