
Pemilihan model selesai. Juan dan juri yang lain mengucapkan selamat kepada pemenang, lalu Novan ikut nyerobot karena ingin mengucapkan selamat kepada calon pacarnya itu.
"Selamat," ucap Novan.
"Hmm, terima kasih." Tak ada ekspresi dari Nadien gadis itu biasa saja sehingga Novan bertanya-tanya.
Kenapa dia? Apa ada yang salah denganku? pikir Novan. Nadien kembali ke tempatnya, ia pergi menuju vodium belakang dan Novan pun akhirnya menyusulnya karena ia ingin tahu ada apa dengan calon pacarnya itu?
"Nadien, tunggu!" Novan berlari kecil menghampiri. "Kamu kenapa? Semalam baik-baik saja, apa aku punya salah? Kalau ada di mana salahku? Aku akan perbaiki."
Sebelum menjawab, Nadien celingak-celinguk takut ada yang mendengar. "Kamu tidak salah, profesoinal sedikit, ini kantor," jawabnya.
"Aku ingin bicara sebentar," kata Novan.
"Iya, tapi tidak di sini. Tunggu sampai aku menyelesaikan pekerjaanku, aku masih ada pemotretan," kata Nadien.
"Jam berapa selesai? Nanti aku ke sini untuk menjemputmu, sekarang juga aku sedang bekerja."
"Nanti aku kabari," ujar Nadien.
"Kamu tidak punya kontak-ku, bagaimana cara menghubungiku?" tanya Novan.
"Aku akan menyuruh Rani, kamu tunggu saja kabar dariku." Setelah itu, Nadien ke ruangan sebelah karena akan bekerja. Dan Novan kembali menemui bosnya, namun ia tak melihat keberadaan bosnya itu. Novan langsung menyusul ke mobil karena ia yakin Juan sudah ada di sana.
Dan benar saja, sang presdir itu sudah duduk manis di dalam mobil sambil memainkan benda pipihnya. "Maaf telat," ucap Novan sebelum Juan mengoceh.
"Antar aku pulang," kata Juan.
"Pulang? Inikan masih jam kantor," kata Novan.
"Memangnya kenapa? Aku bosnya jadi terserah aku mau pulang jam berapa pun."
"Iya-iya ... Bos mah bebas," kata Novan kesal.
"Ini masih jam kantor, profesional sedikit."
"Oke, aku akan menunggu jam kantor selesai. Setelah selesai nanti itu artinya Anda bukan bos saya lagi!" Novan akan balas sikap tengil bosnya itu.
__ADS_1
Juan putuskan pulang karena sudah janji dengan Sahara, ia akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan istrinya. Bahkan perut Sahara sudah mulai terlihat menonjol meski masih sangat kecil. Hingga mereka pun sampai, Sahara sudah siap bahkan sedari tadi. Lalu wanita itu langsung menghampiri suaminya yang sudah turun dari mobil. Tanpa rasa malu, Juan mencium bibir istrinya di depan Novan. Pria itu jengah saat melihatnya.
"Kenapa? Iri?" tanya Juan.
"Tidak!" elak Novan.
"Iri, bilang bos." Juan mengejek anak buahnya seraya menari-nari, jika di luar kantor mereka bagaikan musuh yang saling tidak menyukai.
"Hati-hati, nanti anaknya malah mirip denganku!" ujar Novan.
"Amit-amit! Mana mungkin, itukan anakku bukan anakmu."
"Doa orang teraniaya selalu dikabulkan," kata Novan.
"Emang aku menganiayamu, hah?" Juan tak mau kalah.
"Kenapa sih, setiap bertemu selalu bertengkar tidak jelas seperti ini kayak anak kecil saja tau gak? Udah ah, keburu sore dokternya keburu pulang." Sahara langsung masuk ke dalam mobil.
Entah apa yang selalu diributkan oleh Juan dan Novan, sejak pertama bertemu mereka selalu bertengkar.
***
"Kamu itu kerja, aku memberimu gaji kenapa kamu yang ngatur?"
"Karena Sahara temanku," jawab Novan.
"Dan kamu karyawanku, Sahara istriku mau lama atau tidak itu bukan urusanmu. Kamu tidak boleg pergi sebelum jam kantor selesai!" ancam Juan.
"Ya ampun ... Sudah dong, aku pusing denger kalian berantem terus. Biarkan saja Novan pergi," kata Sahara. Jelas ia akan mendukung Novan karena ini ada keuntungan tersendiri baginya. Jika Novan bersama Nadien itu artinya Sonia tidak akan menganggu rumah tangganya lagi.
"Kok belain Novan sih? Aku 'kan suamimu." Juan tidak terima karena Sahara lebih membela sahabatnya ketibang dirinya.
"Biarkan Novan pergi, ini semua juga gara-gara kamu 'kan. Kalau kamu tidak bilang Novan pacarnya Nadien kejadiannya tidak akan seperti ini Sonia pasti terus menganggu kita, jadi kita harus dukung mereka demi keutuhan rumah tangga kita," jelas Sahara.
"Kamu memang bela dia, ya udahlah kita masuk. Tidak akan ada habisnya kalau ngurusin dia." Kata Juan sambil menunjuk Novan dengan wajah.
Juan dan Sahara pun masuk ke dalam, mereka sudah tidak sabar ingin segerta tahu bagaimana kondisi calon anaknya. Setelah pemeriksaan selesai, mereka langsung kembali ke mobil dengan wajah bahagia, bagaimana tidak bahagia anaknya dalam keadaan baik-baik saja pasca kejadian kemarin. Sayang, mereka belum tahu jenis kelam*n anak mereka karena usianya belum cukup. Usia kandungannya kini menginjak 3 bulan.
__ADS_1
Sstibanya di parkiran, mereka tak melihat keberadaan Novan di sana. Juan sangat kesal karena ulah asisten kurang ajar itu.
"Lihat, karyawan macam apa itu? Ini masih jam kantor loh baru juga jam 3," omel Juan.
"Sudah biarkan saja, mungkin Novan memang sudah ada janji dengan Nadien. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sebentar," ajak Sahara.
"Kemana?"
"Kemana saja, selama ini kamu pasti sibuk terus bagaimana kalau kita pergi nonton? Anggap aja kita lagi pacaran, aku tidak tahu bagaimana rasanya pacaran."
"Masa? Aku tidak percaya kalau kamu sepolos itu."
"Ih gak percaya, tanya aja sama Novan."
"Iya aku percaya." Juan lebih baik mengiyakan dari pada harus bertanya pada Novan. Mereka pun akhirnya pergi ke bioskop menggunakan taxi.
Di tempat lain.
Novan sudah menunggu Nadien di tempat yang sudah dijanjikan. Tak lama, Nadien datang dengan pakaian sopan. Ia tak lagi memperlihatkan body pasca kejadian kemarin di kamar mandi dan itu sangat membuatnya malu tak terkira.
"Mau kemana dulu?" tanya Novan.
"Terserah, katamu tadi mau bicara."
"Kemana ya enaknya?" Novan memikirkan kemana mereka akan pergi, melihat langit sedikit mendung tidak mungkin jika harus diajak ke taman. "Ke mall bagimana?" usul Novan.
"Boleh, bagaimana kalau kita sambil nonton," kata Nadien.
"Nonton? Boleh juga, apa itu sebuah ajakan pada pacarnya?" tanya Novan.
"Pacar?" ulang Nadien.
"Iya, pacar. Kita pacaran 'kan? Bukannya kalau seorang pria dan wanita sudah ..." Ucapan Novan menggantung dan diteruskan oleh gerakan tangan seperti saling mematuk itu artinya sudah saling berciuman dan menjadi seorang kekasih.
"Itu tidak disengaja, anggap saja khilaf,' elak Nadien yang merasa malu dengan perbuatannya.
"Khilaf katamu? Khilaf sampai beberapa kali? Bukan hanya sekali loh kita seperti itu, masa masih dibilang khilaf."
__ADS_1
"Intinya kita belum pacaran!" tegas Nadien.
"Oke, berarti kita PDKT ya?" kata Novan. Mereka malu-malu malah seperti ABG saat berpacaran. "Ya udah, kita berangkat sekarang," ajak Novan. Ia membuka pintu mobil untuk Nadien, setelah itu ia menyusul. Novan memberikan kenyamanan kepada Nadien, semoga dengan begini mereka akan semakin dekat.