Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda

Gadis Bayaran Terjerat Cinta Tuan Muda
Firasat


__ADS_3

"Sudah ah, jangan bahas dia. Sial bertemu dengannya," tutur Nadien. Mengingat pertemuan pertama sampai tadi malam buat Nadien kesal. Ia harap selama di Bali nanti pria itu tidak berulah.


***


Juan pulang saat itu juga, bahkan ia sudah berada di pesawat. Sebetulnya, bukan Sahara yang menyuruhnya untuk pulang. Juan merasa khawatir saat meninggalkan istrinya sendiri saat hamil. Apa lagi usia kandungannya masih sangat rawan.


Akhirnya, pesawat mendarat dengan sempurna. Setibanya di Bandara, Juan menghubungi Sahara tapi tak ada jawaban dari istrinya itu. Kepulangannya pun tidak diketahui oleh ibu hamil itu. Saat ia sedang bersama Nadien, mungkin Sonia tidak akan berulah, justru yang jadi masalah saat ia meninggalkan istrinya sendrian. Makanya Juan pulang karena firasat yang tidak mengenakkan.


Sedangkan Sahara, ia tengah bersama Sahida di rumah. Tengah menonton tv sambil rebahan. Saat sedang asyik menonton, tiba-tiba kedatangan seseorang. Sahara sampai terkejut saat melihatnya karena orang itu datang tanpa permisi atau pun mengetuk pintu terlebih dulu.


"Wah ... Jadi istri seorang pengusaha kehidupanmu sangat berubah drastis ya," ucapnya yang tak lain adalah Sonia. Lalu, wanita itu membuka kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangan ke sudut ruangan.


"Mau apa Anda kemari? Saya sudah tidak ada urusan, urusan kita sudah selesai," kata Sahara.


"Oh ya, itu dulu, Sahara. Sekarang lanjut, kamu harus tinggalkan Juan!" katanya lagi. "Perjanjian kita tidak seperti ini, saya tidak menyuruhmu sampai menikah dengannya."


"Aku tidak akan meninggalkan suamiku, aku lebih berhak dari putrimu. Nadien sudah menerima pernikahan ini, jadi saya harap Anda pergi dan jangan cari masalah!"


"Waw." Sonia berjalan sambil bertepuk tangan dan mengitari tubuh Sahara. "Berani sekali kamu, jangan mentang-mentang punya segalanya kamu jadi bertingkah. Tidak ingat dulu punya uang banyak dari siapa? Sampai kamu bisa mengobati nenekmu yang sudah sekarat, itu uang dariku."


"Tapi saya tidak mengemis dari Anda Nyonya Sonia." Mata Sahara mendelik, dia pikir Sahara akan takut pada wanita tua itu. "Bahkan saya bisa mengganti uang itu dua kali lipat," tantangnya.


"Sombong!" cetus Sonia.


Namun tiba-tiba, Sahida datang sambil membawa sapu dari arah dapur. Ia mendengar keributan di rumahnya dan ia tidak menyukai itu.


"Tamu tidak sopan, datang-datang bikin ricuh. Mau ku pukul pakai sapu, hah?" Sahida sudah melayangkan sapu ijuk ke arah Sonia. Sonia yang terkejut mundur beberapa langkah.


"Beraninya keroyokan," teriak Sonia. "Kalau berani lawan satu-satu!"

__ADS_1


"Wah bener-bener nantang wanita ini," kata Sahida. "Jangan pikir saya sudah tua lalu tidak bisa apa-apa!" Sahida bahkan menggulung baju bagian lengan karena sudah ancang-ancang.


"Nenek ... Jangan ladenin wanita itu, kita usir saja. Nyonya Sonia sebaiknya pergi jangan coba-coba pada Nenek-ku." Setelah operasi keadaan Sahida sudah membaik bahkan ia lebih bugar. Sewaktu muda dulu nenek Sahida jago bela diri.


"Sini kalau berani, jangan ganggu cucuku!"


Saat mereka akan berkelahi, Juan datang dan melihat pertikaian wanita tua itu. "Apa-apaan ini?" teriaknya.


Sahida yang melihat langsung membenarkan lengan bajunya, wanita tua itu sedikit malu pada cucu menantunya itu. Dan Sonia pun langsung jaga sikap karena jaga image. Ia tak ingin terlihat brutal di hadapan Juan karena berharap pria itu kembali pada putrinya.


"Sedang apa Anda di sini? Mau mengganggu istriku? Belum cukup dengan ulahmu kemarin? Hampir saja aku kehilangan calon anakku, kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku aku tidak akan segan-segan melaporkanmu pada polisi."


"Ya ampun ... Kamu tega sekali pada calon mertuamu ini, maafkan saya. Saya menyesal, atas nama Nadien saya minta kamu kembali padanya." Tanpa tahu malu Sonia meminta Juan kembali setelah apa yang dilakukannya mana mungkin Juan sudi menerimanya.


"Enak saja, Anda pikir suamiku apa?" Sahara pun tidak terima akan hal itu. "Siapa suruh bikin mereka putus, sekarang nyesel sendiri 'kan?"


Sonia semakin menggebu karena ucapan Sahara. "Sebaiknya pulang sebelum saya panggil warga sekitar," usir Sahara. "Lagian Nadien sudah punya pacar, pacarnya jauh lebih kaya dari Juan. Kalau tidak percaya tanya saja padanya," kata Sahara.


"Iya, mereka sedang di Bali," jawab Juan. Agar Sonia yakin Juan menyuruhnya untuk menghubungi Nadien yang sedang bersama Novan di sana. "Sebaiknya Anda pulang, saya rasa Anda sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganku, Nadien hanya mantan," ucapnya.


Karena Juan mengabarinya tentang Nadien yang sudah punya kekasih bahkan jauh lebih kaya, Sonia pun akhirnya undur diri dari sana.


***


"Kamu tidak apa-apakan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Juan khawatir. Bukannya menjawav, Sahara malah memeluknya karena sudah dua hari tidak bertemu. Tentu bumil itu sangat rindu pada suaminya. Juan pun membalas pelukkannya, dan mencium perut istrinya.


"Papa juga kangen," bisik Juan. Juan berdiri lalu menyapa nenek Sahida. "Nenek sudah sangat sehat ya? Aku tidak menyangka Nenek seberani itu."


Sahida jadi canggung karena ulahnya diketahui oleh menantunya. "Sebaiknya kamu istirahat," kata Sahida sambil mengambil sapu yang tergeletak di lantai dan membawanya ke dapur.

__ADS_1


Sementara Sahara dan Juan kembali berpelukkan saling melepas rindu. "Kok sudah pulang, kenapa tidak mengabariku?" tanyanya dengan manja.


"Istri nakalku ternyata manja sekali."


"Bukan aku yang manja, tapi anakmu."


"Anakmu juga, kita berdua yang membuatnya."


"Emang bener Novan sama Nadien pacaran?" tanya Sahara.


"Hmm, dan kamu harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa?"


"Sudah bohong pada mamanya Nadien tentang Novan."


"Ah, itu urusanmu. Bantu saja mereka meyakinkan Sonia, nanti wanita itu bisa murka kalau ternyata kita membohonginya."


"Firasatku ternyata benar, hatiku tidak tenang meninggalkanmu. Kalau aku tidak datang tepat waktu nenek pasti sudah menghajar mamanya Nadien. Nenekmu lucu sekali." Juan jadi tertawa.


"Nenek memang jago bela diri, dan sifatnya mewarisiku jadi kamu jangan macam-macam!"


"Mana mungkin aku macam-macam, aku hanya merindukanmu, dan ..."


"Dan apa?" Sahara mendelikkan mata. "Dokter bilang kita tidak boleh melakukannya."


"Iya aku tahu, 'kan bisa membantuku dengan cara lain." Juan menaikturunkan kedua alisnya.


Juan dan Sahara pun pergi ke kamar. Juan langsung membersihkan diri, dan Sahara duduk santai sambil memainkan ponselnya. Ia jadi penasaran pada Novan, bagaimana bisa mereka pacaran? Apa iya Novan menyukai Nadien secepat itu? Sahara hapal betul siapa sahabatnya itu.

__ADS_1


Tapi itu kabar baik, bi Ranum sudah tidak sabar ingin segera memiliki seorang menantu. Apa lagi menantunya seorang pablik figur, dia pasti senang dengan kabar ini. Tak lama, Juan pun keluar dari kamar mandi. Rambut basah dan wajah segar membuat Sahara berpaling dari benda pipihnya.


__ADS_2