
Sahara membungkam mulutnya, Juan marah karena tidak ingin membahas kekasihnya yang ikut-ikutan mengatai-nya pria brengsek.
"Katanya perhatian, tapi lupa memberiku makan," celetuk Sahara mengalihkan pembicaraan.
Juan tertawa melihat ekspresi wajah Sahara yang cemberut, tapi ia segera pergi ke dapur untuk mengmbil makanan untuk istrinya.
Fokus-lah pada keluargamu. Calon anakmu!!
Juan sedikit berlari menuruni anak tangga, ia harus cepat mengambil makanan untuk istrinya yang kelaparan karena ulahnya.
***
"Sedang apa?" tanya Sahida yang melihat Juan di dapur.
"Sahara mau makan, jadi aku ambilkan," jawab Juan.
"Ya ampun, Nek. Punya mantu perhatian sekali, Sahara beruntung memiliki suami sepertinya. Nak Juan punya kembaran gak? Kalau ada kenalkan pada Bibi," kata bi Ranum menggoda.
"Hus, kamu ini. Kalau pun ada mana mau sama kamu, pantasnya kamu itu menggendong cucu," sahut Sahida.
Bi Ranum tertawa renyah, ia hanya bercanda.
"Aku permisi dulu," pamit Juan. Ia segera kembali ke kamar karena istrinya sudah menunggu, kehadiran Sahara membuatnya sedikit menghilangkan rasa sakit oleh Nadien. Dan seharusnya ia bersyukur, niat Sonia menjauhkannya dengan Nadien ingin membuat Juan patah hati karena merasa sudah mengkhianati anaknya.
Namun, apa yang diperbuat Sonia malah membuat Nadien terlihat stres. Melihat dengan kepala mata sendiri bahwa Juan begitu perhatian pada Sahara. Sonia tak menyangka bahwa perbuatannya malah salah. Ia salah memperkirakan Juan. Lelaki yang terlihat sederhana itu ternyata seorang pengusaha.
Nadien menangis histeris, kamarnya terlihat seperti kapal pecah. Sonia yang baru kembali ke tanah air sangat terkejut melihat kondisi putrinya. Penyesalan itu hadir dalam hidupnya. Pemotretan yang seharusnya dilakukannya gagal karena kondisi Nadien yang tidak memungkinkan. Jiwanya terguncang, hancur berkeping-keping. Meski Juan memintanya untuk kembali, itu tidak akan sama seperti dulu.
Juan memiliki hidup baru. Nadien sangat mencintai Juan, tapi takdir berkehendak lain. Dan itu semua disebabkan oleh ibunya sendiri.
"Nadien," panggil Sonia. Gadis berprofesi model itu tengah menangis, menelusupkan wajahnya pada bantal. Nadien nangis sesegukkan. "Nadien, apa yang kamu lakukan?" tanya Sonia lagi.
__ADS_1
Nadien bangkit dan langsung menatap tajam ke arah ibunya. Ia tahu semua yang dilakukan wanita itu, Juan sudah mengatakannya semuanya. Awalnya Nadien tidak percaya apa kata Juan. Mencoba menepis semua tentang ibunya menginginkannya berpisah.
"Mama jahat, Mama merusak kebahagiaanku. Aku sangat mencintainya, Ma. Mama tega padaku." Nadien kembali menangis.
"Maafkan Mama, Nadien. Mama salah, Mama kira dia itu brengsek karena Mama melihatnya bersama wanita lain," terang Sonia. "Mama ingin yang terbaik untukmu."
"Jangan urusi urusanku, Ma. Aku kenal siapa Juan, kami saling mencintai tapi sekarang sudah tidak ada harapan, semuanya hancur."
"Kata siapa tidak ada harapan? Juan tidak mencintai istrinya, Mama akan pastikan mereka berpisah. Mama akan kembali menyatukanmu dengan Juan." Setelah tahu siapa Juan sebenarnya, Sonia menyesal. Dan ia akan membuat Juan kembali kepada putrinya.
Sahara hanya gadis yang disuruh olehnya, dan ia akan kembali menyuruhnya untuk pergi dari hidup Juan. "Berhenti ikut campur dengan urusanku, aku bisa mengatasi hidupku."
"Mama akan membantumu, Juan pasti kembali padamu. Mama pastikan dia meninggalkan istrinya, bukan 'kah selama ini dia mencintaimu? Kalau kamu menerimanya lagi dia pasti lebih memilihmu dari gadis kampung itu, Nadien. Percaya pada Mama, serahkan semuanya pada Mama."
Dengan percaya diri, Sonia pasti bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
"Stop, Ma. Jangan membuatku malu, aku bukan pengemis cinta. Di mana harga diriku jika merebut suami orang?" Nadien tidak seperi ibunya, ini yang membuat Juan mencintai Nadien. Gadis bisa menerima keadaannya, padahal Nadien tidak tahu siapa Juan sebenarnya. Nadien mencintai Juan degan tulus tanpa melihat siapa jati dirinya.
Jika Nadien tengah kacau, tapi tidak dengan Juan. Pria itu sedang dihibur oleh istrinya. Setelah menyuapi Sahara, Juan berbincang hangat bersama istrinya. Sahara menceritakan masa kecilnya. Hidup pas-pasan terkadang Sahara nekat mencuri mangga tetangga hanya untuk memenuhi keinginan wanita yang sedang hamil.
Sahara akan diberi upah jika berhasil mengambil mangga muda tetangga. Ia juga cerita tentang Novan, mereka hidup dalam kesederhanaan tapi terdengar begitu menyenangkan. Ekspresi Sahara tidak terlihat sedih dengan keadaan mereka.
"Hidupmu penuh liku-liku, Sahara. Kamu wanita kuat," ucap Juan. Ternyata ini di balik Sahara yang menjadi gadis bayaran, harus menjadi tulang punggung sejak kecil. Hidupnya unik, hidup susah tapi membahagiakan.
"Dari tadi ketawa terus, ada yang lucu dengan masa kecilku?" tanya Sahara. "Hidupku itu susah, kamu jangan menertawakanku," kesalnya.
"Aku bukan menertawakanmu, masa-masa kecilmu itu lucu. Aku jadi ngebayangin saat kamu manjat di pohon mangga." Juan kembali tertawa. Tapi Sahara senang melihat suaminya tertawa lepas seperti ini.
"Ya makanya, hidup itu dijalani aja. Seperti air mengalir, seperi rumah tangga kita. Siapa tau nanti tidak seperti ini," ucapnya.
"Seperti ini bagaimana?" tanya Juan.
__ADS_1
"Ya seperti ini," jawab Sahara.
Juan bisa menebak isi hati Sahara yang menginginkan lebih dari sekedar tanggung jawab. Untuk saat ini Juan memang melakukan rasa tanggung jawabnya karena telah mengahamili Sahara. Untuk ke depannya ia tidak tahu akan seperti apa. Sahara cantik juga baik, tidak memungkinkan bahwa ia tidak akan jatuh cinta kepada istrinya. Semua hanya tinggal butuh waktu, jika Sahara selalu membuatnya nyaman ia yakin pasti bisa membuatnya melupakan Nadien.
Semakin ke sini, hubungannya semakin rumit. Juan pasrah dengan hubungannya.
"Ayo cerita lagi, aku jadi penasaran tentangmu. Masa kecilmu pecicilan, tapi kenapa sekarang bisa berubah seperti ini?"
"Berubah bagaimana? Aku begini-begini saja dari dulu."
"Denger masa kecilmu aneh, dulu kamu pasti jelek iyakan?"
"Gak ada yang berubah, dari lahir aku sudah cantik," bangganya Sahara. "Apa kamu mengakui kecantikkanku, hah," tanyanya seraya menaikturunkan kedua alisnya.
"Ya, aku akui. Kamu memang cantik, karena kamu wanita makanya cantik. Kamu tidak mungkin tampan, karena aku yang tampan."
"Ih ... Dasar, nyebelin!" Sahara memukul lengan suaminya, dan Juan menangkap tangan Sahara.
"Ampun-ampun ... Aku 'kan becanda, galak banget sih." kata Juan yang masih mencekal tangan istrinya.
Dari kejadian tadi siang membuat Juan membuka mata hati bahwa Nadien tak layak untuk diperjuangkan. Gadis itu malah ikut-ikutan menuduhnya brengsek, dan Juan tidak suka akan hal itu.
"Juan," panggil Sahara.
"Hmm," jawab Juan singkat. "Apa? Kamu mau ngomong apa?"
"Tidak jadi deh."
Juan tak menduga bahwa istrinya itu cukup menyenangkan untuk diajak ngobrol, sebagai teman cukup pengertian dan mau menjadi tempat keluh kesahnya.
Tunggu! Dia bukan teman, dia seorang istri. Sahara istriku.
__ADS_1